oleh

Berat Badan Rendah, 10 Bayi Diserang Virus Rubella

Antara Sertifikasi Halal dan Kesehatan Anak (2)

Rubella biasanya berupa penyakit ringan pada anak. Tetapi bila menulari ibu hamil, pada awal trimester pertama maka dapat menyebabkan keguguran hingga cacat bayi.

Laporan Sulis, Riena, Peny – Lubuklinggau

TAK sedikit ibu bertanya-tanya, apa sesungguhnya dampak virus Rubella. Untuk tahu tentang itu, kami menjumpai Dokter Spesialis Anak RS AR Bunda Lubuklinggau, dr Liveana Sugono SpA, Mkes, Rabu (15/8).

Ibu yang tengah hamil lima bulan itu menjelaskan mengenai bahayanya virus Rubella ketika ditularkan ibu hamil kepada bayinya.

“Iya, Rubella itu biasanya seperti penyakit ringan pada anak, tetapi ketika menular pada ibu hamil trimester pertama dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan pada bayi. Kecacatan disebut Sindrom Rubella kongenital yang meliputi kelainan jantung, kerusakan jaringan otak, katarak, ketulian serta keterlambatan perkembangan,” tutur dokter .

Bahkan sejak bertugas di RS AR Bunda pada tahun 2015 hingga Agustus 2018 ini, ia sudah bertemu lebih kurang 10 pasien yang terkena Rubella. 10 orang itu seluruhnya warga Kota Lubuklinggau.

“Semua pasien itu bayi yang ibunya terkena virus Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes (TORCH). Akibat TORCH itu, bayi-bayi ini menderita kelainan jantung, katarak, ketulian serta keterlambatan perkembangan,” imbuh dia.

Hal ini disampaikan dengan harapan orang tua khususnya di Kota Lubuklinggau, tidak ragu untuk mengizinkan anaknya untuk diberikan vaksin. Ketika bayi sudah tertular atau terkena, maka tidak ada lagi yang bisa diperbuat.

“Sekarang tinggal lagi masalah kepercayaan. Kalau kita sebagai dokter sudah gencar mengampanyekan hal ini ke orang tua. Ayo jangan ragu, karena dampaknya sangat berbahaya,” jelas dr Liveana.

Menurut dr Liveana, untuk anak-anak yang jauh dari Puskesmas sudah didata oleh kader Posyandu, agar nanti pihak Puskesmas bisa jemput bola.

“Dengan harapan, semua anak bisa mendapatkan vaksin dan terlindungi dari virus TORCH,” jelasnya.

Ia membenarkan awalnya tidak ada gejala. Kalaupun ada, hanya gejala biasa seperti demam, dan bintik merah lalu hilang. Ketahuannya, ketika sudah berdampak ke bayi, gejala awalnya Berat Badan (BB) bayi yang kurang.

“Banyak kerugiannya ketika sudah terkena ke bayi kita. Mulai dari menderita karena melihat anak kita harus keluar masuk ruang operasi dan disuntik jarum, melihat anak dengan keterbatasan, hingga biaya pengobatan yang tidak murah,” jelasnya.

Di sisi lain, Majelis Ulama Indonesia (MUI) masih belum mendapatkan daftar komposisi dan zat kandungan dalam vaksin MR. Sebelumnya MUI sudah menyurati Kementerian Kesehatan RI untuk menunda program ini, sebelum kandungan dalam vaksin MR diuji laboratorium Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).

Bahkan MUI Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sudah meneruskan, hasil pertemuan dengan Kemenkes RI bahwa program vaksin MR ini ditunda untuk umat muslim. Namun sepertinya, surat edaran yang disampaikan MUI Provinsi Sumsel tidak ditanggapi oleh Dinkes kabupaten/kota di Sumsel.

Ini terbukti masih ada beberapa kabupaten/kota yang melanjutkan program vaksin MR, termasuk di Kota Lubuklinggau. Ketua MUI Kota Lubuklinggau, H Abdullah Makcik mengatakan MUI masih menunggu dan belum bisa menyatakan apakah vaksin MR halal atau haram.

Diakui Abdullah Makcik, kembali kepada keyakinan umat muslim. Mengingat sama halnya, MUI sebelumnya sudah mengeluarkan fatwa rokok itu haram tapi masih banyak umat muslim yang merokok.

“Kalau vaksin ini MUI belum mengeluarkan haram atau halal, tapi minta ditunda agar dilakukan uji laboratorium. Jika memang teruji halal atau haramnya, jika halal kita mendukung penuh program ini. Tapi jika haram dikembalikan ke umat muslim, apakah mau yang halal atau haram,” jelas Abdullah Makcik.

Diakui Abdullah Makcik, untuk melakukan uji laboratorium wewenang MUI Pusat. MUI kabupaten/kota sifatnya menunggu instruksi, atau hasil fatwa MUI pusat.(*)

Rekomendasi Berita