oleh

Bentrokan Etnis di Kongo, Tewaskan Hampir 900 Orang

KONGO – Kekerasan etnis terjadi di Republik Demokratik Kongo barat, menewaskan sedikitnya 890 orang hanya dalam tiga hari pada bulan lalu.

“Menurut sumber-sumber yang dapat dipercaya mengatakan, bentrokan antara komunitas Banunu dan Batende terjadi di empat desa di Yumbi,” kata Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Michelle Bachelet, melansir BBC.

Serangan dilaporkan terjadi pada 16-18 Desember. Hingga kini, sebagian besar populasi daerah dilaporkan telah mengungsi. Dampak dari peristiwa tersebut, voting dalam pemilihan presiden 30 Desember ditunda di Yumbi karena kekerasan.

“Sekitar 465 rumah dan bangunan dibakar atau dijarah, termasuk dua sekolah dasar, pusat kesehatan, pos kesehatan, pasar dan kantor komisi pemilihan umum independen negara itu,” ujarnya.

Penduduk yang dipindahkan termasuk sekitar 16.000 orang yang mencari perlindungan dengan menyeberangi sungai Kongo ke Republik Kongo, yang juga dikenal sebagai Kongo-Brazzaville.

“Sangat penting bahwa, kekerasan yang mengejutkan ini segera diselidiki secara menyeluruh dan pelakunya dibawa ke pengadilan,” katanya.

Dia menyebutkan, setidaknya 82 orang terluka dalam serangan itu. Tetapi, pihaknya memperkirakan jumlah korban akan lebih tinggi.

“Kantor Hak Asasi Manusia PBB telah meluncurkan penyelidikan. Yumbi, di Provinsi Mai-Ndombe, biasanya merupakan daerah yang damai,” terangnya.

Laporan menunjukkan, bahwa bentrokan dimulai ketika anggota suku Banunu ingin mengubur salah satu kepala adat mereka di tanah Batende.

Voting dalam pemilihan presiden di sana, serta di Beni dan Butembo di timur Provinsi Kivu timur, ditunda hingga Maret dengan komisi pemilihan menyalahkan ketidakamanan dan wabah Ebola.

Kandidat oposisi Felix Tshisekedi dinyatakan sebagai pemenang. Tetapi, lawan lain dari pemerintahan saat ini, Martin Fayulu menegaskan, ia menang dengan menuduhTshisekedi membuat kesepakatan dengan Presiden Joseph Kabila yang akan keluar.

“Sayamengajukan banding di Mahkamah Konstitusi pada hari Sabtu menuntut penghitungan ulang suara secara manual,” kata Fayulu.

Masalah ini akan dibahas pada pertemuan Uni Afrika dan badan regional selatan Afrika Sadc di ibukota Ethiopia, Addis Ababa, pada hari Kamis. (der/fin)

Rekomendasi Berita