oleh

Bencana Hidrometeorologi Mengancam

LINGGAU POS.CO.ID– Bencana hidrometeorologi (Banjir, Banjir Bandang dan Tanah Longsor) mengancam sejumlah daerah di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) bagian barat. Khususnya pada wilayah dataran tinggi (Bukit Barisan). Yakni wilayah Kabupaten Musi Rawas, Kota Lubuklinggau, Empat Lawang, Lahat, Muratara, Muba, PALI dan Kabupaten Muara Enim. Prediksi ini disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumsel melalui Kasi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang, Bambang Beny Setiaji, Rabu (1/1).

“Kami mengimbau masyarakat dan stakeholder untuk tetap waspada dan update informasi dan peringatan dini cuaca dari BMKG dan melakukan tindakan preventif meminimalisasi dampak bencana hidrometeorologi,” ungkapnya.

Dijelaskan Beny, seiring masuknya musim hujan di wilayah Sumsel pada skala meteorologi dengan indikasi menguatnya Angin Muson Cina Selatan yang sarat uap air mengakibat peningkatan curah hujan. Bahkan diprediksi adanya potensi hujan disertai petir dan angin kencang umumnya terjadi pada siang hingga sore. Sedangkan potensi hujan ringan hingga sedang berlangsung lama (kontinu) apabila terjadi pada malam hingga dini hari.

Dikatakan Beny, tercatat pada Citra Satelit dan Radar Cuaca BMKG selama 3 hari terakhir telah terjadi peningkatan dan kontinuitas (terus menerus) curah hujan di wilayah Sumsel bagian barat. Yakni pada wilayah dataran tinggi (Bukit Barisan) berdampak potensi adanya bencana hidrometeorologi pada di wilayah Kabupaten Musi Rawas, Kota Lubuklinggau, Kabupaten Empat Lawang, Lahat, Muratara, Muba, PALI, dan Muara Enim.

Sedangkan potensi bencana hidrometeorologi (angin kencang/puting beliung dan genangan/banjir) diprediksi akan terjadi pada wilayah Kota Pagaralam, Kota Prabumulih, Kabupaten Banyuasin, Kota Palembang, OKI, Ogan Ilir, OKU Timur, OKU dan OKU Selatan.

Menanggapi adanya ancaman bencana hidrometeorologi tersebut Kepala Damkar dan BPBD Kota Lubuklinggau, Luthfi Ishak melalui Sekretaris, Waidi mengatakan untuk kota berslogan Sebiduk Semare hingga saat ini masih masuk wilayah kategori aman bencana. Namun pihaknya tetap mewaspadai imbauan disampaikan BMKG mengenai bencana hidrometeorologi yang diprediksi bakal terjadi di Kota Lubuklinggau.

“Ya imbauan tetap kita sampaikan ke masyarakat, mengingat cuaca saat ini sangat tidak menentu. Meskipun aman, namanya bencana bisa saja datang untuk itu kita imbau kepada seluruh warga Kota Lubuklinggau untuk tetap waspada dan berhati-hati,” tegas Waidi.

Menurutnya hingga saat ini yang masih patut diwaspadai untuk di beberapa wilayah di Kota Lubuklinggau yakni genangan air serta longsor. Untuk genangan air ditambahkan Waidi, sering terjadi di Kelurahan Taba Baru dan Karya Bakti.

“Karena masih ada beberapa wilayah kita yang curam. Tapi kita berharap tidak terjadi bencana di Kota Lubuklinggau, seperti tahun-tahun sebelumnya,” jelas Waidi.

Terpisah Kepala BPBD Kabupaten Muratara, Syarmidi, SPd, MSi mengatakan pihaknya telah melakukan beberapa antisipasi potensi bencana hidrometeorologi bakal terjadi. Dirinya bersyukur selama 2019 di Kabupaten Muratara tidak terjadi banjir besar.

“Hanya saja kita akan tetap melakukan antisipasi kejadian banjir. Pertama, setiap malam harinya, di posko induk kita sudah kita siapkan 5 orang Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Muratara yang bertugas untuk mengontrol jika terjadi suatu bencana yang mendadak,” jelasnya.

Jika terjadi bencana dadakan lanjutnya, 5 orang TRC yang bertugas menanggulanginya. Namun jika tidak bisa ditanggulangi tim TRC BPBD Muratara berjumlah 15 orang akan turut membantu.

“Tentunya kami juga akan melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat. Kita juga terus melakukan sosialisasi dan koordinasi kepada kecamatan dan kepala desa agar wajib berhati-hati di musim penghujan. Terutama kepada warga yang berada di pinggiran aliran sungai. Sehingga dengan begitu masyarakat sudah mempersiapkan diri jika terjadi sesuatu,” jelasnya.

Diakui Syarmidi, BPBD Kabupaten Muratara sudah menyiapkan logistik, untuk para korban jika terjadi bencana, seperti banjir. Walaupun jumlahnya tidak banyak.

“Kita sudah persiapkan logistik. Namun, kita tetap berharap tidak terjadi bencana di Muratara dan sekitarnya,” harapnya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, berdasarkan catatan Linggau Pos daerah yang rawan terkena bencana banjir yakni Kecamatan Rupit meliputi Kelurahan Muara Rupit, Desa Lawang Agung, Desa Maur, Desa Batu Gajah, Desa Noman. Lalu Kecamatan Rawas Ilir seperti di Kelurahan Bingin Teluk, Desa Beringin Makmur I, Desa Mandi Angin, Desa Tanjung Raja, Desa Batu Kucing, Desa Belani, Desa Pauh dan Pauh I. Kemudian Kecamatan Karang Dapo yang rawan banjir khususnya Kelurahan Karang Dapo dan Desa Biaro.

Sementara itu memasuki musim penghujan, BPBD Kabupaten Musi Rawas (Mura) telah mengirimkan surat edaran Bupati Mura H Hendra Gunawan diberikan kepada seluruh Camat, Kades/Lurah untuk menyosialisasikan bahaya bencana alam, salah satunya banjir. Hal ini disampaikan Kepala BPBD Mura, Faisol kepada Linggau Pos tadi malam (1/1).

Faisol mengimbau apabila terjadi banjir di daerah mereka, para Camat, Lurah dan Kades diminta segera menghubungi posko BPBD Kabupaten Mura.

“Personel kita standby selama satu kali dua puluh empat jam,” ucapnya.

Bahkan, pihaknya telah memetakan daerah yang rawan banjir. Sebab banyak warga yang menetap di Daerah Aliran Sungai (DAS). Yakni, di wilayah Kecamatan BTS Ulu, Muara Kelingi, Muara Lakitan, Megang Sakti dan sebagian wilayah Selangit. “Semua sudah kita petakan, sehingga sudah siaga pada musim penghujan ini,” katanya.

Dua Jembatan Gantung Rusak Parah

Sementara itu hujan deras mengguyur Kabupaten Empat Lawang sejak sore hari hingga menjelang subuh kemarin, membuat sejumlah jembatan mengalami kerusakan akibat diterjang banjir. Diantaranya jembatan gantung di Desa Terusan Lama. Bagian pangkal jembatan gantung ambruk dihantam kayu yang terbawa arus, dan jembatan juga terendam banjir, akibat meluapnya air sungai.

Rusaknya jembatan gantung tersebut, menyebabkan aktivitas warga di dua desa untuk ke kebun menjadi terganggu. Sebab jembatan itu merupakan akses satu-satunya bagi warga untuk ke kebun yang berada di seberang Sungai Musi.

Kades Terusan Lama, Hardiyanto mengatakan rusaknya jembatan gantung tersebut tepat pukul 04.30 WIB. “Sungai ini hampir nyentuh lantai, kalau hanya terjangan sungai saja paling lantainya yang rusak, ini hantaman kayu-kayu besar,” ungkap Hardiyanto, Rabu (1/1).

Jembatan gantung yang panjangnya mencapai 117 meter dengan lebar 1,5 meter membentang di atas Sungai Musi ini, dibangun pada tahun 2014 dan sempat direhab pada 2018.

“Waktu air besar kemarin lantainya sempat rusak setengah, paling baru 10 hari kita gotong royong memperbaikinya pagi tadi roboh dihantam kayu-kayu besar,” ungkapnya.

Camat Tebing Tinggi, Sormi Azhar membenarkan kejadian tersebut. menurutnya di seberang sungai terdapat kebun warga, dan jembatan ini merupakan satu-satunya akses warga untuk ke kebun.

Kejadian serupa juga menimpa Lantai jembatan gantung berukuran 1,2X50 Meter, di Desa Lubuk Ulak Kecamatan Muara Pinang Kabupaten Empat Lawang. Jembatan tersebut hanyut terbawa arus air sungai Lintang, Rabu (1/1).

Curah hujan yang tinggi pada malam pergantian tahun kemarin, menghanyutkan lantai jembatan gantung dan 2 batang pipa milik Pampsimas.

“Kejadian dini hari, karena besarnya arus sungai lintang kiri. Untungnya jembatan tidak sampai putus, hanya lantai yang terbuat dari plat dan dua batang pipa juga hanyut,” jelas Camat Muara Pinang, Sapardina Joli usai meninjau jembatan gantung di Desa Lubuk Ulak, Rabu (1/1).

Jembatan itu dijelaskan Joli, pernah direhab berat pada tahun 2017 menggunakan Dana Desa. Jembatan ini digunakan warga setempat untuk beraktivitas sehari-hari.

“Jembatan ini penghubung masyarakat ke kebun dan sawah mereka di Desa Lubuk Ulak,” ungkapnya.

Untungnya selain jembatan tersebut masih ada jembatan lainnya. Sehingga warga masih bisa menyeberangi sungai untuk menuju ke kebun.

“Warga kini bisa memanfaatkan jembatan Air Sema dengan panjang 10×2 meter,” jelasnya.

Menindaklanjuti kejadian ini, Joli menegaskan akan mengajukan perbaikan jembatan ke pihak Pemkab Empat Lawang.

“Kita akan ajukan proposal bencana alam, untuk sementara kalau debit air surut Kades bersama warga akan melakukan gotong royong untuk merehab jembatan,” tegasnya.

Laporan Riena Fitriani Maris/Qory Musdalifah/Aan Sangkutiar/Budi Santoso/Kayan Manggala

Rekomendasi Berita