oleh

Belum Ada Solusi Masalah Rebutan Air Irigasi

LUBUKLINGGAU – Komisi IV DPR RI akan menyelesaikan permasalahan rebutan air antara pembudidaya ikan dan petani sawah. Kemudian irigasi sekundernya sampai ke tersiernya juga terhambat, dan ini akan jadi pembahasan, dalam rangka mengawal petani.

Bahkan, sudah ada upaya dari Komisi IV DPR RI untuk menyelesaikan masalah antara kedua belah pihak tersebut, baik pembudidaya ikan maupun petani sawah, yakni melakukan komunikasi kedua belah pihak baik Kementerian Pertanian maupun Kementerian Kelautan dan Perikanan, dalam hal ini kelompok Dirjen Budidaya.

Dalam hal ini masalah komunikasi dan kami berharap segera selesai. Apalagi, air tidak diminum oleh ikan dan tidak diminum oleh penambak ikan, karena air hanya dialirkan untuk menghasilkan aliran yang deras, dan begitu turun ke bawah langsung dinaikkan saja.

Ini hanya masalah siapa yang bertanggung jawab dan memang tidak ada air yang hilang, air hanya pindah aliran dan harus dikembalikan ke aliran utama. Demikian disampaikan Ketua Komisi IV DPR RI, Edhy Prabowo, Rabu (23/1).

Menurutnya, aliran yang juga terhambat di area Kecamatan Purwodadi akan segera diatasi, karena ada dua bendungan, yakni bendungan Watervang dan selangit. Kedua bendungan ini bisa saling meng-cover antara satu sama lain.

“Harapan kami kembali dari kunjungan ada solusi, karena hanya permasalahan siap yang akan meng-cover aliran persawahan di Kecamatan Purwodadi, apakah dari Bendungan Watervang atau Selangit. Saya pikir ini merupakan salah satu bentuk tanggap kita,” jelasnya.

Selain itu, Edhy juga memaparkan Bendungan Watervang yang telah ada sejak tahun 1941. Namun, hingga saat ini belum pernah diperbaiki secara signifikan, padahal irigasi di Watervang mendukung cadangan beras secara nasional.
Karena, irigasi Watervang mengairi ribuan sawah di Lubuklinggau dan Mura.

Karena, belum diperbaiki, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Komisi V yang menaungi Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Kementerian Pekerjaan Umum agar Watervang dapat diperbaiki.

“Saya pikir jika sektor balai minim anggaran, bisa diarahkan ke kota dalam pengelolaannya, karena ini bisa dijadikan potensi wisata. Dan itu ada aturannya, asal jangan dobel anggaran saja,” katanya.

Sementara itu, Walikota Lubuklinggau, H SN Prana Putra Sohe mengatakan pihaknya sudah dari dulu ingin mendapatkan izin pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) Watervang.

Karena, sudah ada sejumlah ide pengembangan untuk dijadikan objek wisata, seperti pengelolaan yang sudah dilakukan, yakni Air Terjun Temam dan Bukit Sulap.

“Semoga terealisasi,” katanya.

Seperti diketahui, kondisi Daerah Irigasi Kelingi Tugumulyo Kabupaten Mura semakin mengkhawatirkan. Saat ini muncul permasalahan kurangnya air pada aliran irigasi primer, skunder maupun tersier.

Padahal kondisi debit air di Bendung Watervang saat ini lebih besar dari perencanaan awal.

Pada tahap perencanaan, debit air di Bendung Watervang diperkirakan bisa menampung 17,150 meter kubik per detik dengan potensi sawah teraliri 10.163 Ha.

“Sementara kondisi di lapangan kondisi eksisting 18,67 M3 per detik dan sawah eksisting yang teraliri hanya 5.679 Ha,” ungkap Kepala DPUCK Kabupaten Mura, Ristanto Wahyudi. (aku)

Rekomendasi Berita