oleh

Belajar Santun Berdemokrasi

LINGGAU POS ONLINE, SRI PENGANTIN – Jelang Pemilihan Gubernur, Pemilihan Anggota Legislatif, dan Pemilihan Presiden Republik Indonesia, generasi muda dihadapkan pada fenomena berdemokrasi.

Tak jarang cara berdemokrasi yang ditunjukkan oleh para elite politik belum seias dengan teori ‘kesantunan’. Money politic, black campign, dan kecurangan, kerap jadi tontonan yang dianggap lumrah oleh rakyat.

Meski begitu, haruskah masyarakat menerima saja?

Seorang Guru Program Indonesia Mengajar, M Syafarudin Jumat (24/11) menjelaskan, hal inilah yang memotivasi dirinya memberikan pelajaran tentang pemahaman berdemokrasi di SDN Sri Pengantin, tempatnya mengabdi.

“Dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, siswa SDN Sri Pengantin mendemonstrasikan kegiatan pemilu (kepala desa) sebagai bentuk pengamalan Pancasila Sila ke-4,” tutur Syafarudin.

Syafaruddin menerangkan kepada peserta didiknya, mulai dari calon kades yang hendak dipilih, kampanye visi misi, panitia pencoblosan, tempat pemilihan umum, hingga penghitungan suara bahkan peran saksi dan hansip pun dipersiapkan dan dilakukan dengan hikmat.

“Menurut kami ini penting. Agar kelak ketika anak-anak sudah bermasyarakat, bisa memberikan contoh yang baik. Sebab tatanan Pemilihan RT dan Pilkades ini tidak bisa dianggap sepele. Kalau dari sini, mereka bisa berdemokrasi secara sehat dan santun, untuk Pileg, Pilgub, bahkan Pilpres insya Allah tidak ada hal-hal yang dikhawatirkan terjadi benturan di masyarakat,” jelas Syafarudin.

Ia membenarkan, tugas mengedukasi anak-anak untuk jadi warga negara yang cerdas berdemokrasi bukan hanya bertumpu pada Komisi Pemilihan Umum (KPU). Namun para pendidik pun punya peran penting untuk melakukannya.

“Ini juga bagian dari pendidikan. Bahkan, tadi tidak hanya siswa yang ikut terlibat, tetapi beberapa orang tua/wali murid juga turut ambil andil dalam demonstrasi pemilu kali ini,” imbuhnya.(05)

Komentar

Rekomendasi Berita