oleh

Belajar di SMK Harus 4 Tahun?

LINGGAUPOS.CO.ID- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan mengubah pendidikan SMK yang sebelumnya tiga tahun menjadi empat tahun.

Dengan SMK selama empat tahun, siswa akan memiliki cukup waktu untuk mendapatkan bekal sebelum terjun ke dunia usaha dan dunia industri.

Selama empat tahun belajar nantinya, jika siswa tersebut tidak mengikuti praktik kerja, maka belum bisa diluluskan. Sementara kalau siswa sudah mengikuti praktik kerja, setelah lulus bisa langsung kerja di industri. Kurikulum SMK pun akan disesuaikan dengan kebutuhan industri.

Dengan begitu, SMK akan setara dengan diploma satu atau diploma 2. Terutama untuk program studi tertentu.

Menanggapi rencana itu, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK se-Kota Lubuklinggau, Puguh Purnomo menjelaskan tidak seluruh SMK akan menerapkan lama pendidikan empat tahun. Karena program ini hanya akan berlaku bagi SMK yang memiliki jurusan tertentu.

Hal itu merujuk pada Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 06/D.D5/KK/2018, tentang Spektrum Keahlian SMK/MAK.

“Jadi berdasarkan peraturan tersebut, tidak semua SMK belajarnya 4 tahun, hanya untuk SMK dan jurusan tertentu,” ungkap Puguh Purnomo, Selasa (7/7).

Untuk program SMK 4 tahun akan berlaku untuk puluhan program keahlian. Antara lain, kompetisi keahlian konstruksi gedung, sanitasi dan perawatan, konstruksi jalan, informasi geospasial, teknik otomasi industri, teknik tenaga listrik, teknik fabrikasi logam dan manufaktur, instrumentasi dan otomatisasi proses, teknik pembuatan benang, teknik pembuatan kain, teknik penyempurnaan tekstil, kimia analisis, teknik dan manajemen perawatan otomotif, otomotif daya dan konversi energi, teknik mekatronika, teknik elektronika daya dan komunikasi, instrumentasi medik, geologi pertambangan, sistem jaringan informatika jaringan dan aplikasi, caregiver, pemuliaan dan pembenihan pertanaman, produksi dan pengelolaan perkebunan, agribisnis organik, ekologi industri, peternakan kesehatan dan reproduksi hewan, agroindustri otomatisasi pertanian, industri perikanan laut, manajemen logistik, wisata bahari dan ekowisata, hotel dan restoran, spa dan beauty therapy, desain fashion, desain interior dan teknik furnitur, penataan tari, penataan karawitan dan produksi film dan program televisi.

Maka dari beberapa program keahlian sesuai peraturan itu, kata Puguh, belum ada SMK di Lubuklinggau yang akan memprogramkan empat tahun pendidikan. Karena spektrum keahlian untuk program pendidikan empat tahun yang ditetapkan pada peraturan tersebut belum ada di Lubuklinggau.

“Jadi empat tahun dan empat tahun itu sudah ada ketentuannya, jadi mungkin dengan berita ini masyarakat di Lubuklinggau bisa paham kalau tidak semua SMK yang melaksanakan pendidikan 4 tahun,” ungkapnya.

Sementara Kepala SMKN Rawas Ulu Eddy Sutriono, jika sampai ada satu saja jurusan di SMKN Rawas Ulu menerapkan program empat tahun, pihaknya belum siap.

“Saat ini jam belajar SMK lebih lama dibandingkan SMA, hal ini sudah menjadi pertimbangan masyarakat dalam memilih sekolah, apalagi harus diakui kita belum mampu memberikan bukti terkait keunggulan lulusan SMK untuk siap kerja. Sebagian lulusan kita masih ingin melanjutkan ke perguruan tinggi dengan Prodi yang kadang tidak terkait langsung dengan pendidikannya di SMK, artinya sekolah lebih lama di SMK dibanding SMA bagi mereka yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi menjadi satu kerugian,” jelasnya.

Jadi menurut Eddy, program pendidikan SMK empat tahun sebaiknya jadi pilihan yang tidak wajib. Bagi yang memilih menyelenggarakan benar-benar harus menyiapkan semua sumber daya, SDM pendidik, sarana prasarana dan kemampuan kerja sama dengan pihak dunia usaha dan industri, tentu juga didukung oleh pemerintah dan dunia usaha dan dunia industri, sehingga lebih lamanya pendidikan setara dengan yang akan diperoleh peserta didik.

“Jika dipaksakan tanpa kesiapan akibatnya minat lulusan SMP/ MTs melanjutkan ke SMK saya perkirakan akan mengalami penurunan,” tuturnya.(*)

Artikel ini sudah terbit di Harian Pagi Linggau Pos dengan judul”Belajar di SMK Harus 4 Tahun?”

Rekomendasi Berita