oleh

Bedah Rumah Terkendala Tanah

Pemerintah Merelokasi Keluarga Syahrin

Pemerintah Kota (Pemkot) Lubuklinggau merelokasi Agus Salim alias Syahrin (51) beserta keluarganya ke sebuah kontrakan, Rabu (19/12). Aliansi Pemuda Pengawas Pembangunan Lubuklinggau (AP3L) andil pada kegiatan sosial ini.

Laporan Aan-Andy, Lubuklinggau

MULAI kemarin, Syahrin beserta anak dan istrinya tak lagi tinggal di gubuk reot Jalan Kali Serayu. Mereka dipindahkan ke kontrakan layak huni, RT 5 Kelurahan Jogoboyo, Kecamatan Lubuklinggau Utara II.

Syahrin mendapat bantuan perabotan rumah tangga hingga bahan pokok.

“Kita juga akan merekomendasikan anak-anak Pak Agus Salim untuk masuk sekolah gratis,” kata Ketua AP3L, Ahmad Tarsusi.

Menurut pria yang karib dipanggil Tose ini dalam proses relokasi Agus Salim melibatkan banyak pihak, mulai dari Ketua RT I, Lurah Kali Serayu, Camat Lubuklinggau Utara II, Dinas Sosial (Dinsos) dan Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Lubuklinggau Utara II.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat dalam proses relokasi ini, semoga kegiatan yang sudah kita lakukan jadi amal bersama,” harapnya.

Selain itu, diungkapkan Tose, sebenarnya Agus Salim telah dapat bantuan dari Pemkot Lubuklinggau sebelumnya. Hanya saja, bantuan yang diberikan tidak diketahui oleh khalayak ramai.

“Sebelumnya, Pemkot telah memberikan bantuan,” jelasnya.

Hal ini dibenarkan Lurah Kali Serayu, Evi Nirwana. Ia mengatakan keluarga dari Agus Salim telah dibuatkan BPJS Kesehatan masuk ke kepesertaan KIS PBI APBD. Bahkan, rumah yang dihuninya akan dibedah. Tapi, hal itu terkendala dengan tanah yang dihuni Agus Salim, sebab tanah tersebut bukan miliknya.

“Kita sudah ajukan untuk dibedah, tapi hal itu tidak bisa dilakukan, karena tanah yang dihuni Agus Salim bukan miliknya,” kata Evi Nirwana.

Bahkan Pemerintah Kota (Pemkot) Lubuklinggau melalui Dinas Sosial (Dinsos) telah memberikan bantuan.

Kepala Dinsos Kota Lubuklinggau, AH Ritonga mengatakan September 2018 lalu, keluarga Syahrin sudah mendapat bantuan Kartu Indonesia Sehat (KIS) APBD Kota Lubuklinggau.

“Kita sudah berikan mereka KIS dan KIP, karena menurut kami sebagai kebutuhan yang mendasar, ketika mereka terkena sakit, tentu dengan KIS dapat diobati,” kata AH Ritonga.

Kedepan, lanjut Ritonga, keluarga Syahrin akan diajukan ke Badan Data Terpadu (BDT) dari pusat agar ke depan mereka bisa mendapatkan bantuan-bantuan sosial.

“Untuk BDT akan dilaksanakan setiap Mei,” lanjut Ritonga.

Namun yang menjadi polemik saat ini, masalah pengadaan rumah, salah satu syarat untuk bisa mendapatkan program bedah rumah dari Dinas Perkim, harus mempunyai lahan atau tanah atas namanya sendiri, sedangkan yang bersangkutan ini, belum mempunyai tanah atas namanya sendiri.

“Tanah yang mereka tempati masih menumpang di tanah milik salah satu keluarganya, andai ada salah satu keluarganya atau orang lain mau menghibahkan tanah dengan luas 10×10 meter, akan kita usulkan, agar mereka bisa mendapatkan program bedah rumah, itu pun masih melalui proses dan tidak bisa instan,” sambung Ritonga.

Namun 2019 nanti, lanjut Ritonga, hal yang paling memungkinkan kita bantu anak-anaknya dapat bersekolah lagi, tepatnya tahun ajaran baru.

Kemarin (19/12), Dinsos sudah menurunkan tim untuk melihat kembali kondisi terkini keluarga Syahrin, sekaligus memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.(*)

Rekomendasi Berita