oleh

Beban Berat, Guru SLBN Digaji Rp 400 Ribu

Dwi Tugiantoro, Kepala SLBN Mura
“Tahun lalu insentif dari Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Rp 1,5 juta. Sekarang, hanya tinggal Rp 200 ribu per bulan. ….”

LINGGAU POS ONLINE, MUSI RAWAS – Ditengah besarnya beban kerja guru Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN). Gaji yang mereka terima belumlah manusiawi. Kisaran Rp 400 ribu per bulan.

“Mayoritas guru kami honorer. Hanya 7 orang yang PNS. Sisanya ada 14 orang masih honorer. Gajinya memang sangat kecil Rp 400 ribu,” jelas Kepala SLBN Musi Rawas Dwi Tugiantoro, Minggu (3/12).

Tahun lalu, kata Dwi, insentif dari Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Rp 1,5 juta. Sekarang, hanya tinggal Rp 200 ribu per bulan.

“Kami sempat mencari bantuan dari Direktorat Pendidikan Khusus Layanan Khusus (PKLK). Dapat itu pun hanya sedikit. Pun dari Program Sekolah Gratis (PSG). Kalau dikalkulasikan semuanya, hanya Rp 400 ribu,” jelasnya lagi.

Sekalipun dengan gaji yang terbatas, Dwi bersyukur para honorer ini tetap semangat kerja.

“Saat ini honorer mendidik anak-anak tingkat Persiapan 1 dan II setara TK. Karena untuk usia dini ini, butuh dua orang per lokal,” jelasnya.

Ia memastikan, Januari 2018 mendatang butuh dua orang lagi.

“Tidak harus alumni Pendidikan Luar Biasa (PLB)-lah mbak. Namun, diutamakan yang punya keterampilan khusus, idealnya ada keterampilan selain dari ilmu umum sesuai kesarjanaannya. Misalkan orang itu ada keterampilan menjahit dan menyanyi atau menari. Ini yang diutamakan,” terang Dwi.

Khusus jam kerja yang diampu guru TKLB setiap hari mulai pukul 07.30 -09.30 WIB. Sementara SD, SMP dan SMA LB bekerja mulai pukul 07.30-12.00 WIB.

“Untuk menambah insentif honorer ini, pernah kami sampaikan ke Dinas Pendidikan dan Bupati Musi Rawas. Karena anak-anak yang kami didik kan 116 ini putra-putri Musi Rawas. Harapan kami, ada insentif khusus 2018 nanti,” jelasnya.

* Butuh Bus Pelajar

Selain kebutuhan peningkatan gaji honorer guru TK, SD, SMP dan SMALB, SMLBN Mura juga sangat membutuhkan bus pelajar untuk mengantar jemput siswa-siswi yang ada.

“Selama ini masih mengandalkan sepeda motor masing-masing orang tua. Sebenarnya saya juga sudah malu kalau mau mengajukan proposal ke Dinas Pendidikan maupun Pak Bupati. Jawabannya pasti karena kami ini sudah diambil alih Provinsi Sumsel. Jadi ya mau bagaimana?” terangnya.

Padahal, ketika ada bus pelajar ia yakin akan membantu operasional siswa-siswi SLBN.

Terutama untuk mengantar jemput siswa-siswi yang jarak tempuh rumah ke sekolah terlampau jauh. Disamping itu, juga bisa memberikan kemudahan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang selama ini menganggap SLBN jauh, bisa dijangkau dengan bus pelajar ini.(05)

Komentar

Rekomendasi Berita