oleh

Beban Berat Guru Honorer

PGRI Perjuangkan Kesejahteraan

Ketua PGRI Musi Rawas, H Hermansyah
“800-An guru honorer, tahun 2018 nanti diproyeksikan dapat tambahan insentif dari APBD Musi Rawas”

Ketua PGRI Lubuklinggau, Erwin Susanto
“Tugas guru bukan sekadar membuat anak pintar. Tapi mengubah akhlak anak jadi pribadi yang lebih baik…”

Ketua PGRI Muratara, H Syarmidi
“Guru yang berkarya adalah guru yang bermartabat. Guru bukan orang hebat tetapi guru bisa menciptakan orang menjadi hebat”

LINGGAU POS ONLINE, MUSI RAWAS – Kekurangan guru Aparatur Negeri Sipil (ASN) di Indonesia, benar terjadi. Ketua PGRI Sumatera Selatan (Sumsel), DR H Zulinto mengatakan, kekurangan guru sudah menyentuh 12.000 orang.

“Pensiun guru Inpres yang diangkat tahun 1980 cukup berefek pada pengurangan jumlah guru. Kekurangan ini ditutupi oleh keberadaan guru honorer,” jelas H Zulinto.

Hal ini dibenarkan Ketua PGRI Kabupaten Musi Rawas, H Hermansyah.

“Guru ASN di Musi Rawas berkisar 2.864 orang, 40 %-nya telah sertifikasi. Namun, jumlah guru ASN itu belum memenuhi kebutuhan yang ada. Jumlah guru honorer di Musi Rawas mencapai 1.874 orang. Jumlah ini untuk menutupi kekurangan guru ASN yang terjadi,” jelas Hermansyah.

Sekalipun tugas mengajar sama, sebagaimana guru sertifikasi yakni 24 jam. Hermansyah memastikan gaji yang diraih guru honorer belumlah manusiawi.

“Ya bagaimana, gaji mereka bergantung pada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Sementara masih ada SD yang muridnya di bawah 100 orang. Dana BOS SD Rp 800 ribu per orang per tahun. Dari jumlah itu, hanya 15 % yang boleh untuk membayar gaji honorer. Situasi di SD terlebih yang terpencil, satu sekolah hanya dua guru ASN. Sementara mayoritas gurunya honorer. Dari dana 15 % inilah dibagi oleh mayoritas honorer tadi. Jadi bisa dibayangkan berapa nominalnya. Ada yang hanya mendapat Rp 200 ribu per bulan,” papar Hermansyah.

Menurut Hermansyah, PGRI sangat bersyukur di tengah kesulitan finansial itu, guru honorer masih begitu bersemangat untuk mendedikasikan ilmunya dalam mencerdaskan anak bangsa.

“Oleh karena itu yang kita perjuangkan saat ini, guru dari sisi kesejahteraan. Untuk tahun anggaran Dinas Pendidikan Kabupaten Musi Rawas 2018 mendatang, 800-an orang dulu yang akan diberikan tambahan insentif. Ini sudah dianggarkan oleh Bupati Musi Rawas, Pak H Hendra Gunawan,” terangnya, usai mengikuti Upacara Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) ke-72, kemarin.

Mereka yang mendapat tambahan insentif ini, terang Hermansyah, akan dipertimbangkan zona wilayah jauh dekatnya dengan ibukota Kabupaten Musi Rawas.

“Ya jelas prioritas untuk daerah terpencil. Di Trans HTI misalnya,” imbuh Hermansyah.

Penambahan insentif itu, menurutnya, menyentuh nominal Rp 500 ribu per bulan. Mengenai penyeleksiannya, bukan dikelola PGRI Musi Rawas.

“Makanisme penyeleksiannya di tangan Dinas Pendidikan Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan,” imbuhnya.

Bicara tantangan pada usia 72 tahun, Hermansyah masih menyebut narkoba jadi ‘Pekerjaan Rumah (PR)’ besar guru.

“Ya sekalipun kita bukan Badan Narkotika Nasional (BNN). Narkoba juga jadi bahan belajar kita. Jangan sampai kita lengah. Kita harus perhatikan betul, situasi anak-anak. Sebisa mungkin dengan cara dan keteladanan kita, mereka tidak terjebak pada barang haram itu,” pesannya.

Hermansyah memastikan ia akan menggandeng BNN dan Polres Musi Rawas untuk membekali guru agar memiliki pengetahuan lebih, agar lebih peka terhadap anak-anak. Juga agar memiliki pengetahuan dalam mencegah anak-anak tergiur iming-iming bandar narkoba.

Lalu bagaimana dengan kondisi guru di Kota Lubuklinggau?

Ketua PGRI Lubuklinggau Erwin Susanto juga mengiyakan, kekurangan guru khususnya SD dan SMP juga terjadi di Lubuklinggau. Kini, nyaris 1.000 guru honorer diminta untuk menutupi kebutuhan guru ASN saat ini.

“Gaji mereka tergantung jam ngajar. Ada yang hanya empat jam seminggu. Rerata dibayar Rp 30 ribu per jam. Jadi memang jauh dengan gaji guru ASN maupun sertifikasi. Guru ASN di Lubuklinggau itu berkisar 2.000 orang,” jelas Erwin.

Sekalipun sulit, Erwin yakin mental guru terbentuk untuk menjadi insan mulia. Sehingga, motivasinya bukan profit semata. Lebih pada cita-cita untuk mengabdi pada negeri.

“Oleh karena itu, saya simpulkan saat ini kita harus banyak sabar. Sembari terus belajar. Tantangan kita bukan sekadar menjadikan anak cerdas. Namun bagaimana dengan ilmu yang kita beri, mereka (peserta didik,red) punya pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya,” kata Erwin.

Sementara di Muratara, Ketua PGRI Syarmidi sudah mengambil sikap.

“Kami sadar, tanpa guru honorer pendidikan di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) belum tentu sepesat ini. Karena jumlah honorer itu mayoritas, sampai 2.666 orang. Guru ASN-nya hanya 872 orang,” kata Syarmidi.

Oleh karena itu, PGRI Muratara sedang mengupayakan agar secara bertahap honorer yang mengabdi sudah puluhan tahun diangkat menjadi ASN.

“Di Muratara ini ada 97 honorer K2. Mayoritas mengabdi lebih dari 10 tahun. Kami sedang memperjuangkan mereka bisa diangkat. Agar terjadi peningkatan kesejahteraan. Kalau saat ini kan, gaji di bawah Rp 500 ribu per bulan itu kerap kita temui. Bahkan ada guru yang ikhlas digaji Rp 200 ribu per bulan,” tuturnya.

Bersamaan dengan perjuangan itu, dalam HGN ke-72 ini Syarmidi kembali mengingatkan, bahwa guru harus berinovasi.

“Yakinlah, guru yang berkarya adalah guru yang bermartabat. Dan memang guru bukan orang hebat, tetapi guru bisa menciptakan orang menjadi hebat,” tutupnya.(05)

Komentar

Rekomendasi Berita