oleh

Batu Sempat Menimpa Helm Tim Basarnas

Melihat Evakuasi Mayat di Kawah mati

Putra Andesta, salah satu tim Basarnas Provinsi Bengkulu dipercaya untuk turun ke lereng kawah mati mengevakuasi Jenazah Warnadi yang terjepit bebatuan.

Laporan Syamsul Ma’arif, Sumber Urip

SEJAK Senin (18/12), sejumlah tim dari Basarnas, dan pihak terkait lainnya sudah ramai berada di kaki Gunung Kaba di kawasan Desa Sumber Urip Kecamatan Selupu Rejang termasuk dari BPBD Kabupaten Rejang Lebong untuk persiapan proses evakuasi mayat di lereng kawah mati pada Gunung Kaba.

Penasaran, saya bersama sejumlah media lokal lainnya ikut mendaki ke puncak Gunung Kaba menggunakan kendaraan roda standar. Meski kondisi hujan dan jalanan sempit dan licin, kendaraan terus dipacu meski beberapa kali kendaraan sempat mogok dan terjatuh.

Kondisi itu tak mematahkan semangat kami untuk terus naik. Sesampai di puncak Bukit Kaba perjalanan sekitar 1 jam. Rombongan jurnalis memarkirkan kendaraan dan kembali menempuh perjalanan sekitar 1 jam menuju lokasi kawah mati. Penuh hati-hati karena kondisi lereng gunung penuh kerikil dan bebatuan akhirnya rombongan sampai ke kawasan kawah mati.

Basah kuyup tak mematahkan semangat kami untuk melihat proses evakuasi. Sesampai di lokasi, kami menyaksikan satu orang petugas turun menggunakan tali dan perlengkapan lainnya turun ke lokasi jenazah.

Meski nyeri menyaksikan petugas turun dengan penuh deg-degan, tim bersama warga membantu melakukan penarikan Jenazah ke atas lereng kawah mati. Sesampai di puncak lereng, Jenazah langsung disaksikan keluarga memastikan jika Jenazah tersebut adalah Mawardi warga Desa Suban Ayam Kecamatan Selupu Rejang.

Setelah dipastikan, Jenazah dibungkus di kantong mayat dan kemudian diturunkan di kaki Bukit Kaba. Saat melihat Jenazah pertama kali dinaikkan, kondisinya sudah mengenaskan. Selain kondisi muka penuh luka benturan, diduga banyak bagian tubuh lainnya yang remuk akibat benturan cukup keras.

Putra, petugas yang seorang diri turun kelereng kawah mati terlihat lemas dan langsung diberi air minum. Diwawancara, Putra mengaku bangga dan senang bisa mengevakuasi jenazah.

“Saat saya lihat pertama, jenazah sudah Innalilahiwainailaihirojiun, sudah meninggal,” tutur putra disela-sela istirahatnya.

Menurut Putra, saat melakukan evakuasi di lereng kawah mati cukup menyulitkan karena selain curam juga banyak bebatuan yang jatuh karena terkena gesekan tali sebagai pengaman dirinya saat turun.

“Banyak batu yang jatuh ke bawah,” tuturnya.

Posisi kemiringan lokasi, dan kondisi Jenazah yang terjepit di bebatuan membuat dirinya harus mengeluarkan tenaga ekstra saat mengangkat jenazah.

“Posisi Jenazah kepalanya terjepit di bebatuan sehingga badan tertahan dan tidak masuk ke dasar kawah,” ceritanya.

Saat mengangkat, tambahnya, cukup susah karena posisi kepala terjepit.

“Pas kita mau menaikan cukup hati-hati, karena takut jenazah terlepas dan terjatuh lagi, saya sempat kejatuhan batu namun terkena helm,” tambahnya.

Tersulit, katanya, di bawah lereng kawah mati selain kabut, bau belerang sangat mengganggu pernafasan.

“Tenaga terkuras, apalagi bau belerang, tapi saya bangga jenazah akhirnya bisa diangkat ke atas,” ucapnya.

Sementara itu, kata Putra, jika dilihat secara kasap mata, bagian terparah kondisi korban pada bagian kepala.

“Kalau luka-lukanya saya tidak tahu, tapi kayaknya benturan paling keras bagian kepala, bagian batok kepala yang kena,” tuturnya. (*)

Komentar

Rekomendasi Berita