oleh

Bapak yang Patahkan Tangan Anak Bayinya, Dituntut 3 Tahun Penjara

LINGGAUPOS.CO.ID – Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut Terdakwa Tri Vikki (24) dengan hukuman tiga tahun penjara. Tuntutan dibacakan di Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau, Kamis (25/3).

Warga Desa Noman Lama, Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) itu disidangkan atas kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)  yang dilakukannya terhadap anak kandung inisial PA (2) hingga alami patah tangan.

Sidang yang digelar secara Zoom Metting ini dipimpin Ketua Majelis Hakim,  Ferdinaldo H Bonodikum dibantu Hakim Anggota, Lina Safitri dan Yopy Wijaya dengan Panitera Pengganti (PP), Rahmat Wahyudi. Sedangkan terdakwa didampingi penasehat hukumnya dari Posbakum PN Lubuklinggau Riki.

“Berdasarkan fakta dan saksi yang dihadirkan dalam sidang sebelumnya maka terdakwa secara sah melanggar tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sesuai dengan Pasal 44 Ayat 1 KUHPidana, dengan itu terdakwa kami tuntut tiga tahun penjara,” papar Jaksa Penuntut Umum (JPU), Rodiana membacakan tuntutannya.

Yang memberatkan, papar Rodiana, terdakwa menyakiti anak kandungnya sendiri, perbuatannya meresahkan masyarakat, dan yang meringankan, terdakwa jujur dan sopan dalam persidangan.

Ketua Majelis Hakim,  Ferdinaldo H Bonodikum menanyakan kepada terdakwa atas tuntutan tersebut.

Terdakwa didampingi penasehat hukumnya meminta keringanan hukuman secara lisan dengan alasan menyesali perbuatannya dan tidak bakal mengulanginya.

Sedangkan JPU saat ditanya hakim tetap pada tuntutan. Atas keringanan itu, hakim akan mempertimbangkan  menunda persidangan sepekan kedepan Kamis (1/4) dengan agenda putusan.

Sekedar mengingatkan, KDRT itu terjadi Minggu, 22 November 2020 sekira pukul 07.00 WIB di rumahnya Desa Noman Lama.

Kejadian kekerasan yang dilakukan terdakwa terjadi dalam kamar. Istri terdakwa Mirabella melihat sendiri, ketika sedang memasak, tiba-tiba  korban menangis di ruang tengah atau depan pintu kamar. Saat itu terdakwa sedang tidur. Tiba-tiba, karena dengan anak menangis, tiba-tiba terdakwa bangun, emosi, dan membawa korban ke dalam kamar dengan marah-marah.

Sambil berkata pada korban “Diamlah jangan lagi nangis”.

Melihat kejadian tersebut saksi langsung menghampiri terdakwa berniat mengambil korban untuk ditenangkan. Namun tidak diperbolehkan oleh terdakwa dan menyuruh saksi keluar.

Setelah keluar, ibu korban mengintip dari tabir kamar korban tidak henti menangis. Kemudian terdakwa kesal melihat korban tak kunjung diam lalu terdakwa menarik tangan kiri korban dengan keras dan kemudian mengangkat badan korban, lalu membantingnya ke tempat tidur. Karena masih menangis juga terdakwa memukul anaknya tepat di tangan kiri korban satu kali menggunakan tangan terdakwa.

Usai dipukul, tiba-tiba korban keluar sendiri dari kamar, menghampiri ibunya  di ruang tengah. Ibu korban  lalu menggendong korban. Namun korban menunjukkan tangan kirinya yang sakit. Saksi merasa curiga dan memeriksa ternyata dilihat tangan korban lebam akibat dipukul.

Kemudian saksi mendatangi terdakwa, sambil bertanya “Apakah kamu mukulnya?

“ Ya!” jawab terdakwa.

Lalu saksi membawa korban keluar, tapi langsung ditarik masuk ke dalam kamar. Sampai akhirnya saksi dan korban dikunci dari luar. Dengan meminta tolong sambil berteriak sekeras-kerasnya sambil memecahkan kaca kamar, akhirnya ibu dan anak ini berhasil keluar.

Lalu warga sekitar ramai membantu saksi dan korban. Setelah keluar dari rumah, saksi langsung mengurut tangan korban ke tukang urut. Kata tukang urut, anaknya mengalami patah tangan di lengan sebelah kiri. Untuk memastikannya, Mirabella membawa putrinya ke RSUD Rupit untuk dirontgen. Petugas medis membenarkan anak Mirabella mengalami patah tangan.

Setelah dari rumah sakit, ternyata terdakwa sudah ada di Polres Muratara karena sudah dilaporkan warga, kemudian Mirabella dipanggil untuk memberikan laporan. (*)

Sumber: Harian Pagi Linggau Pos

Rekomendasi Berita