oleh

Bantah Data Pengangguran Bukan Dari BPS

 

Aldi : Hanya Miskomunikasi Saja

LINGGAU POS ONLINE, MAJAPAHIT – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Lubuklinggau, Aldianda Maisal mengklarifikasi mengenai data angka pengangguran yang menjadi sorotan anggota DPRD saat rapat paripurna, kemarin (7/11). Ia menegaskan, kalau data yang disampaikan DPRD bukan yang resmi dikeluarkan BPS.

Kembali disoroti anggota dewan saat rapat paripurna penyampaian pemandangan umum fraksi DPRD, ia menegaskan kalau data resmi dari BPS untuk angka pengangguran justru mengalami penurunan yang cukup signifikan.

“Kemarin hanya miskomunikasi saja. BPS tidak pernah mengeluarkan data seperti yang dipaparkan oleh anggota dewan kemarin,” tegasnya.

Data terbaru dari BPS RI, tentang Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Lubuklinggau diungkapkannya adalah untuk Tahun 2009 sebanyak 11,24 %, Tahun 2010 sebanyak 9,38 %, Tahun 2011 sebanyak 7,40 %, Tahun 2012 sebanyak 6,85 %.

“Untuk pada masa kepemimpinan Walikota Lubuklinggau H SN Prana Putra Sohe, angka TPT tahun 2013 sebanyak 7,17 %, tahun 2014 sebanyak 6,8 %, tahun 2015 sebanyak 12,31 %, tahun 2016 data tidak tersedia dan di Tahun 2017 sebanyak 4.00 %,” ungkapnya.

Diakui Aldi, memang ada peningkatan yang cukup signifikan pada tahun 2015 yang mencapai 12,31 %.

“Pada saat itu, Kota Lubuklinggau sedang membangun. Banyak investor yang membuka investasi. Sehingga, banyak warga datangan yang menetap di Lubuklinggau. Sementara metode pendataan kita, tidak berdasarkan KTP asli. Tetapi, semua yang tinggal di Lubuklinggau kita lakukan pendataan. Dan alhamdulillah, justru tahun 2017, angka TPT menurun cukup signifikan, hanya 4,00 %,” ungkapnya kembali.

Sementara sebelumnya, Sutrisno Amin selaku juru bicara DPRD kota Lubuklinggau menegaskan kalau pihaknya menyoroti dan mempertanyakan data BPS yang mereka terima mengenai angka pengangguran.

Data pengangguran yang mereka terima, dinilai salah. Karena tidak sesuai dengan fakta, serta kondisi yang ada saat ini.

“Dan data itu riil kita dapat dari BPS. Yakni tahun 2013 angka pengangguran sebanyak 7,19%, dan tahun 2017 alami peningkatan menjadi 10,21% atau meningkat sebesar 2,84%. Menurut kami ini salah data, karena tidak sinkron dengan keadaan saat ini. Secara realistis saja, dari data nilai investasi kita meningkat. Pendapatan per kapita juga meningkat, serta IPM kita juga meningkat. Secara kasat mata, kita juga bisa melihat banyaknya hotel, pusat perbelanjaan yang menampung tenaga kerja lokal. Makanya saat rapat, hal ini kita garis bawahi dan kita soroti,” ungkapnya.

Padahal, data pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan dari tahun 2013 hanya 3,37 %, pada tahun 2016 menjadi 6,33 %. Begitu juga untuk pendapatan per kapita yang juga mengalami peningkatan hingga Rp 16.588.000, IPM dari 72,55 % meningkat tahun 2016 menjadi 73,57 %.

“Nilai investasi pun meningkat dari Rp 886 juta meningkat menjadi Rp 1,8 triliun. Sementara, penduduk miskin mengalami penurunan dari 14,37% tahun 2013, saat ini menjadi 13,99%,” tegasnya. (09)

Komentar

Rekomendasi Berita