oleh

Kejam! Rampas Uang dan Ponsel, Disandera, Terakhir Dipaksa Oral Seks

LINGGAUPOS.CO.ID – Dua bandit keji diringkus petugas Polsek Nibung, Selasa (14/1/2020) sekitar pukul 10.30 WIB. Keduanya adalah David Arianto (38) dan Palentin (26) warga Desa Bumi Makmur Kecamatan Nibung Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara).

Keduanya ditangkap petugas karena telah melakukan perbuatan keji, pada Sabtu, 28 Desember 2019 sekitar pukul 20.30 WIB di kebun sawit Blok A Desa Sumber Makmur Kecamatan Nibung.

Kapolres Muratara AKBP Adi Sutanto melalui Kapolsek Nibung AKP Denhar menjelaskan, kedua tersangka diduga merampas ponsel, uang bahkan memaksa korban melakukan oral seks. Korbannya adalah MT (18) dan teman wanitanya ND (14).

Kronologisnya, bermula korban MT dan ND berboncegan mengendarai sepeda motor melintasi kebun sawit Blok A Desa Sumber Makmur. Karena mendapatkan telepon, MT menghentikan laju sepeda motor, dan menerima telepon tersebut.

Tiba-tiba dari dalam kebun sawit muncul kedua tersangka. Mereka menempelkan pisau ke leher korban MT, kemudian merampas ponsel Oppo New 7 milik korban. Bukan itu saja, keduanya sambil mengancam, meminta lagi satu ponsel dan uang Rp300 ribu.

Karena tidak punya, keduanya meminta ND pulang mengambil uang dan ponsel, sementara MT mereka sandera. Hingga pulanglah ND mengambil ponsel Xiomo Redmi A5 dan uang yang diminta pelaku.

Korban ND kemudian menyerahkan uang dan ponsel kepada kedua tersangka. Belum puas, kedua tersangka memaksa kedua korban melakukan hubungan suami istri, namun ditolak.

Akhirnya mereka memaksa ND melakukan oral seks terhadap MT. Adegan itupun mereka rekam menggunakan ponsel selama lima menit. Usai melakukan aksinya, kedua tersangka lansung kabur.

“Kedua korban melapor ke Polsek. Kami lakukan penyelidikan, sehingga diketahui keberadaan tersangka David. Kanit Reskrim Ipda Purnama Mentary Sampe SH beserta anggota langsung menangkapnya,” jelas Kapolsek.

Berdasarkan pengembangan, kemudian tersangka Palentin juga berhasil ditangkap. Kedua tersangka dijelaskan kapolsek diancam melanggar Pasal 82 ayat (1) jo pasal 76 E Undang-undang Perlindungan Anak, mengenai memaksa berbuar cabul dan pemerasan. (*)

Rekomendasi Berita