oleh

Bahaya Lo! Urut Kandungan, Picu Kematian Bayi

LINGGAUPOS.CO.ID – Angka kematian anak dalam kandungan tak ditentukan pada trimester secara khusus. Hal itu disampaikan Dokter Spesialis Kandungan Rumah Sakit (RS) AR Bunda Kota Lubuklinggau, dr Wahyu,Sp.OG, Rabu (17/6/2020).

Dokter Wahyu menjelaskan kematian bayi  bisa terjadi pada trimester pertama, kedua dan ketiga. Trimester pertama itu waktu awal kehamilan hingga 14 minggu, trimester kedua pada usia kehamilan 14-28 minggu, dan trimester 3 pada usia kehamilan 28 hingga cukup bulan.

Dijelaskannya, penyebab kematian anak pada trimester pertama, biasanya lebih banyak terjadi karena faktor genetik ataupun karena kualitas embrio tidak bagus.

“Jadi, biasanya yang sering dikatakan jika bayi tidak berkembang, seperti ada bayinya tapi jantungnya tidak ada, ada juga terjadi kehamilan anggur dikarenakan kualitasnya yang tidak bagus, kehamilan di luar kandungan. Kasus-kasus seperti ini yang sering terjadi pada kematian anak trimester pertama,” jelasnya.

Beda lagi pada trimester kedua, lanjutnya, biasanya penyebabnya adanya kelainan genetik, bisa juga karena faktor trauma, dalam hal ini bisa karena diurut.

“Biasakan orang jika sudah 7 bulan, diurut-urut karena merasa turun perutnya atau merasa perutnya ke bawah, jadi diurutlah ke atas, itu kan ditekan-tekan, nah ini bisa menyebabkan plasentanya lepas. Jadi kalau diurut-urut ditekan-tekan itu nggak boleh, apalagi kadang proses memutar bayi itu diurut kuat-kuat, nah ini bisa menyebabkan plasenta lepas dari tempat plasenta menempel sebelum kelahiran atau persalinan terjadi. Kan yang benar itu bayi lahir dulu, baru plasenta lahir, tapi yang ini plasentanya lepas, namun memang lepasnya bertahap tidak langsung, sedikit-sedikit, sehingga pendaharan dan plasenta lepas semuanya dan bayi tidak mendapatkan makanan,” paparnya.

Sedangkan kehamilan trimester 3 atau kehamilan tua, lanjut Dokter Kandungan RS AR Bunda ini, biasanya penyebab kematian bayi anak, karena lewat bulan dan juga pelepasan plasenta sebelum kelahiran.

“Biasanya, kehamilan normal atau cukup itu 37 sampai dengan 40 minggu. Jadi kalau lebih dari itu berarti lewat bulan, tapi kalau lewat dari 42 minggu itu sudah kelebihan lewat bulannya. Nah, kalau sudah lewat dari 42 minggu itu, plasentanya sudah tidak bagus, di mana kerjanya sudah tidak maksimal. Sehingga asupan ke bayi pun tidak maksimal, jadinya lama kelamaan bayi bisa tidak tertolong,” jelasnya.

Bisa juga, lanjut dr Wahyu, karena kelewatan bulan dan plasenta tidak bagus juga menyebabkan air ketuban berkurang, dan otomatis menyebabkan tidak adanya kenyamanan pada anak di dalam perut, sehingga bisa menyebabkan anak di dalam perut stres sehingga mengeluarkan pup bayi yang bercampur dengan air ketuban dan terminumlah oleh si anak air ketuban yang terinfeksi tersebut.

“Dan pada saat dilahirkan adanya infeksi pada paru-paru bayi, dan saat keluar bayi menjadi lemas, kadang mengap-mengap dan meninggal. Sebenarnya bayi memang mengonsumsi air ketuban, hanya saja air ketuban yang kualitas bagus,” jelasnya.

Selain itu, lanjut dr Wahyu, penyebab lainnya karena lilitan tali pusat. Di mana diakibatkan dari gerakan berputar anak di dalam perut.

“Namun, lilitan tali pusat ini bukan pasti penyebab kematian, tapi bisa kemungkinan waktu kita lahirkan bayinya ada lilitan, yang mana lilitannya bisa simpul bisa juga bisa menahan badan, yang jika tertarik, otomatis aliran darah ke anak tidak ada dan oksigen ke anak tidak ada menyebabkan anak tersebut lemas dan akhirnya meninggal,” ungkapnya.

Jadi, tambah dr Wahyu, faktor seperti air ketuban, lewat bulan, dan terlilit tali pusat ini faktor kemungkinan yang sering terjadi pada kematian anak, tapi juga bukan pastinya penyebab kematian anak.

“Ada lagi karena ibunya kecil, tetapi bayinya besar dan dipaksa untuk normal, dan lama-lama nggak keluar, bisa juga menyebabkan bayi stres. Di mana panggul ibu kecil tapi bayi besar, dan disproporsi panggul ibu tidak sesuai dengan bayinya. Dan bisa juga karena kelainan letak bayi, dan juga penutupan jalan lahir bayi oleh plasenta yang menyebabkan pendaharan sehingga bisa menyebabkan kematian anak dan juga ibu,” jelasnya.

Sementara Kepala Dinkes Kota Lubuklinggau, Cikwi melalui Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas), Ely Rosida mengatakan Dinkes Kota Lubuklinggau terus melakukan upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Anak. Hal ini membuat Lubuklinggau, masuk dalam kategori rendah untuk kasus AKI maupun anak.

Berdasarkan data mereka kata Ely, tahun 2019 hanya tiga kasus kematian ibu. Sementara untuk bayi lahir hidup sebanyak 4.421, dengan kondisi lahir mati sebanyak 17 bayi dan kematian usia 0-28 hari sebanyak 16 bayi.

Sedangkan tahun 2020, hingga Mei 2020 ada dua kasus kematian ibu yang disebabkan hipertensi. Sementara untuk bayi lahir hidup sebanyak 1.757, dengan kondisi lahir mati sebanyak 1 bayi dan kematian usia 0-28 hari sebanyak 7 bayi.

“Rendahnya AKI dan Kematian Bayi, karena kita melalui setiap puskesmas selalu memastikan ibu hamil di wilayah mereka terdeteksi, dan mengikuti semua pemeriksaan kehamilan,” jelas Ely.

Setiap puskesmas lanjutnya, ada program pemeriksaan kehamilan atau ANC sesuai standar 10T. Di sana semua dilihat apakah ibu hamil sehat atau ada penyakit bawaan, gizinya cukup atau tidak dan pemeriksaan lainnya. Lalu ada juga program pembagian susu tambahan untuk ibu hamil, dan setiap kelurahan melalui puskesmas ada kelas ibu hamil.

“Intinya, seluruh ibu hamil kita pantau perkembangannya agar nanti saat melahirkan ibu dan bayi sehat,” tegasnya.

Bagi ibu hamil yang terdeteksi berisiko, maka akan dilakukan kunjungan berkala dari kader maupun bidan wilayah.

“Ya tujuannya untuk memastikan ibu hamil sehat dan selamat sampai melahirkan,” tegasnya kembali.

Pemicu Kematian Bayi Saat Kehamilan:

Trimester Pertama

  • Terjadi karena faktor genetik
  • Karena kualitas embrio yang tidak bagus
  • Kehamilan di luar kandungan

Trimester Kedua

  • Kelainan genetik
  • Trauma karena diurut
  • Plasentanya lepas

Trimester Ketiga

  • Lewat bulan
  • Plasenta lepas sebelum kelahiran.(*)

Sumber: Harian Pagi Linggau Pos

Rekomendasi Berita