oleh

‘Bagi Saya Sudah Selesai, Tak Dipersoalkan Lagi’

Pengakuan Penyebar Ujaran Kebencian Profesi Guru

Penyesalan dirasakan Panoguan Sormin (35). Warga Dusun I Desa Wonosari, Kecamatan Megang Sakti, Kabupaten Musi Rawas ini, membuat heboh netizen se-Indonesia dengan unggahannya di akun Facebook (FB) istrinya. Diduga postingannya itu melecehkan profesi guru.

Laporan Budi Santoso, Wonosori

SEMULA tak menyangka sosok kontroversial ini berasal dari Kabupaten Musi Rawas. Pasca mencuat di Media Sosial (Medsos), nama pria ini paling dicari. Panoguan Sormin, selanjutnya disingkat PS saja, menyentak. Unggahan di FB istrinya membuat sejumlah kalangan gerah. Sejatinya para netizen yang membaca di Medsos. Sampai seluruh Indonesia loh, cuitan itu mengemuka.

Saya pun penasaran. Siapakah dia? Satu hari sebelumnya, PS dan istri ‘disidang’ oleh pihak PGRI Kabupaten Musi Rawas, Jumat pagi (9/2) di SMP Negeri Megang Sakti. Hadir kala itu pengurus PGRI Musi Rawas, Pengurus PGRI Kecamatan Megang Sakti, Camat Megang Sakti, Heri Ahmadi, juga perwakilan Polsek Megang Sakti, dan dewan guru. PS diduga lecehkan profesi guru di Medsos FB istrinya Sumayanti Saragih.

Pasca satu hari, Sabtu (10/2) saya dan rekan meluncur ke kediaman PS. Semula kami menghubungi sumber untuk menanyakan alamat rumahnya.

“Oh PS yang kemarin disidang pihak PGRI? Dia tinggal di dusun I Desa Wonosari, cari saja lorong sebelah Tempat Pemakaman Umum (TPU),” sebut sumber, kemarin siang. Suara lembut perempuan di ujung sana menyebutkan tidak sulit menemukan PS dan keluarganya.

Tak lama kemudian di siang yang terik itu, mobil Avanza dikemudikan rekan meluncur dari Kota Lubuklinggau. Kecepatan 80 Km per jam. Dengan menempuh perjalanan 1,5 jam, kami pun tiba di Kecamatan Megang Sakti. Sebelumnya mobil sempat mutar-mutar dulu, karena mesti bertanya di mana keberadaan PS yang rumahnya agak tersembunyi.

Tibalah kami di lorong sebelah TPU. Di atas jalan beton, mobil masuk ke bagian dalam. Sekitar 100 meter dari jalan desa, saya melihat anak-anak membeli es dawet dengan penjual yang membawa motor.

Di sebelah kanan jalan, tampak seorang pria tidak mengenakan baju sedang asyik merokok. Di depannya segelas kopi, yang diletakkannya di atas tumpukan pasir. Ia dengan santai duduk di atas dua tumpukan batu bata. Pandangan matanya tajam melihat kedatangan saya. Di sebelahnya, dua orang perempuan duduk-duduk santai. Anak kecil berusia 5 tahun yang baru membeli es Dawet bertanya pada pria itu, untuk siapa lagi esnya pak? Tapi dia tak bergeming.

Saya yang sudah mendekat menyapa. “Bisa bertemu dengan Panoguan Sormin?” ia menjawab, ya saya sendiri. Lalu saya mengambil satu batu bata berukuran sedang. Ternyata benar dialah PS, yang saya cari-cari. PS langsung menanyakan maksud saya. Dan saya menjelaskan padanya untuk wawancara setelah rapat bersama dengan pihak PGRI, usai ujaran kebencian viral di Medsos. “Soal (ujaran kebencian, red) itu lebih baik tanya dengan PGRI, Polsek, atau Camat. Bagi saya masalah itu sudah selesai, tak ada masalah lagi,” ucap PS yang bekerja buruh ini, dengan nada meninggi.

Tampak lelaki asli Batak, yang merantau ke Megang Sakti, tak ingin persoalan itu diungkit.

Lalu PS meneruskan, silakan saja jika wartawan datang ke rumahnya.

“Tapi masalah saya sudah (selesai), ya datang saja,” imbuh PS yang enggan menanggapi bagaimana dirinya bisa mengunggah kalimat yang menyakiti hati tenaga pendidik tersebut. Istrinya yang berada tak jauh dari dirinya, hanya diam. Memandang sang suami. PS pun tetap tak mau banyak bicara. Meski saya pancing, bagaimana kehidupannya sekarang setelah persoalan ini sampai dirapatkan bersama pihak PGRI dan lain-lain.

“Ya, sudah selesai,” tegasnya kembali.

Keseharian PS seorang buruh. Ia mengaku lebih baik sekarang bekerja saja, ketimbang memikirkan kejadian yang sudah terjadi. Sekarang ini, PS dan istri tinggal menunggu kelahiran anak ketiganya. “Anak saya dua, dan satu sebentar lagi akan lahiran, mas,” sebut PS yang suaranya mulai melunak. Setelah itu sambil mengisap rokoknya, PS menegaskan jika ingin mendapatkan data mengenai masalah yang dihadapi, silakan tanya dengan PGRI, Polsek, atau guru. Perbincangan yang tak lama itu akhirnya disudahi. PS mengaku menyesal lakukan perbuatan dengan diunggah ke FB sang istri.

Setelah itu kami pamit. PS pun yang sudah tidak tegang lagi, tersenyum dan melepas kepergian kami dari kediamannya.

Setelah datang ke rumah PS. Saya tetap mengulik, bagaimana bisa PS menuliskan kalimat yang membuat guru se-Indonesia, kesal. Sumber saya, yang wanti-wanti nama tak ditulis, menguak fakta baru.

“PS itu nulis status di FB itu hanya iseng-iseng saja. Anak dia nggak bersekolah di SDN Wonosari, kakaknya juga yang anak di sekolah itu juga tak pernah bercerita jika ada pungutan di sekolah itu. Saya bisa bicara ini karena ikut dalam rapat penyelesaian masalah si PS itu. Dia mengaku salah, dan orang tuanya juga kesal bukan main dengan PS itu,” ungkap sumber yang saat rapat bersama PGRI dengan PS, datang.

Sumber meneruskan, orang tua PS yang tinggal berdekatan rumah dengan anaknya di Dusun I, mengaku malu.

“Orang tuanya malu dengan kelakuan anaknya. Si PS itu sendiri maaf, memang nggak menempuh pendidikan yang tinggi, jadi maklum saja membuat status seperti itu. Tapi ingat ya, masalah ini sudah selesai dengan adanya surat pernyataan ditandatangani PS disaksikan pihak terkait,” pesan sumber yang berprofesi tenaga pendidik ini.

Sekedar mengingatkan pembaca, PGRI Kabupaten Musi Rawas menindaklanjuti masalah dugaan pelecehan terhadap profesi guru yang dilakukan pemilik akun FB Sumayanti Saragih.

Jumat (9/2), PGRI Musi Rawas, Pengurus PGRI Kecamatan Megang Sakti, Camat Megang Sakti, perwakilan Polsek Megang Sakti, dan dewan guru menggelar pertemuan. Rapat ini juga menghadirkan oknum berinisial PS yang diduga lecehkan profesi guru di Medsos FB beberapa waktu lalu. PS suami dari pemilik akun FB Sumayanti Saragih.

Pertemuan dilakukan untuk mencari solusi atas permasalahan dugaan pelecehan profesi guru dan SDN 1 Wonosari yang ditulis dalam komentar pemilik akun FB Sumayanti Saragih beberapa hari lalu.

Pertemuan dilaksanakan di SMP Negeri Megang Sakti, Kecamatan Megang Sakti, Kabupaten Musi Rawas, sekitar pukul 09.00 WIB, Jumat (9/2).

Ketua PGRI PC Megang Sakti, Mutia Farida mengatakan dari hasil pertemuan itu, PGRI Musi Rawas memaafkan PS.

“Hanya saja PS harus membuat surat perjanjian untuk tidak akan mengulangi kesalahan tersebut,” kata Mutia Farida. (*)

Rekomendasi Berita