oleh

Baca Doa, Anggota PSS Disidang Kode Etik

LINGGAU POS ONLINE, KAYU ARA – Anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) Kelurahan Mesat Seni, Kecamatan Lubuklinggau Timur II, Ingatlah disidang kode etik oleh Komisioner KPU Kota Lubuklinggau. Pasalnya ia membaca doa pada acara kampanye salah satu Pasangan Calon (Paslon) Walikota dan Wakil Walikota Lubuklinggau.

Sidang berlangsung di Aula Sekretariat KPU Kota Lubuklinggau di Kelurahan Kayu Ara, Kecamatan Lubuklinggau Barat I, Selasa (8/5).

Divisi Hukum KPU Kota Lubuklinggau, Lukman Hakim mengatakan sidang kode etik yang dilakukan KPU Kota Lubuklinggau, mengacu pada Peraturan Bersama Komisi Pemilihan Umum, Badan Pengawas Pemilihan Umum, dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum No. 12, 11 dan 1 Tahun 2012 tentang Kode Etik Penyelenggara Pemilihan Umum.

“Pada pasal 7 huruf 1 dan 2 penyelenggara pemilu yang melanggar kode etik, dikenai sanksi berupa teguran tertulis, pemberhentian sementara dan pemberhentian tetap,” katanya Lukman panggilan akrabnya.

Menurut Lukman, dasar sidang kode etik merupakan tindak lanjut dari surat yang diterima sekretariat KPU Kota Lubuklinggau dari Panwascam Lubuklinggau Timur II. Dalam rekomendasi Nomor 010/PANWASCAM/LLT.II/IV/2018, yang ditandatangani Ketua Panwascam Lubuklinggau Timur II, Elfa Handayani menyatakan bahwa anggota PPS Kelurahan Mesat Seni, Ingatlah diduga melakukan pelanggaran kode etik, karena membaca doa di acara kampanye salah satu Paslon pada 18 April 2018.

“Kita baru melakukan klarifikasi, baik terlapor maupun pelapor mengenai adanya indikasi pelanggaran kode etik selaku penyelenggara,” jelasnya.

Dilanjutkannya, berdasarkan klarifikasi tersebut maka Komisioner KPU Kota Lubuklinggau akan membuat kajian secara tertulis atas insiden yang sudah terjadi, dengan harapan kejadian yang sama tidak terulang lagi kemudian hari.

“Karena baru melakukan klarifikasi, kita belum bisa menyimpulkan apakah yang bersangkutan bersalah atau tidak. Intinya, kajian kita berdasarkan UU Kode Etik, dan sanksi yang akan diberikan mulai teguran, pemberhentian sementara dan pemberhentian tetap,” jelasnya.

Ingatlah membenarkan perihal yang membuat dirinya disidang kode etik karena membaca doa di kampanye Paslon. Namun, doa yang dibacakannya dengan bahasa Arab, tidak ada sedikitpun yang menyebutkan bahasa Indonesia.

“Saya diminta untuk baca doa, mungkin kebetulan karena mantan P3N. Ya orang minta tolong, selaku sesama muslim harus membantu,” jelasnya.

Ia mengaku tidak menyangka kalau kejadian akan seperti ini. Hanya karena membaca doa dilaporkan ke Panwascam Lubuklinggau Timur II, karena diduga tidak netral.

“Jujur pak, saya tidak tahu kalau yang terjadi ini masuk kategori pelanggaran,” akunya.(01)

News Feed