oleh

Ayo… Cegah Korsleting Listrik

LINGGAU POS ONLINE, BATU URIP TABA – Pasca terjadinya kebakaran rumah milik, Bani (60) dan anaknya Depi (26) di Kelurahan Batu Urip Taba, Kecamatan Lubuklinggau Timur I, Rabu (1/11). Kedua keluarga masih menetap di rumah.

“Kami masih tetap tinggal di sini. Sebab nak pindah ke mano lagi, lagian yang habis terbakar bagian setengah ke belakang rumah, sedangkan setengah kedepan alhamdulillah idak,” kata Bani, Kamis (2/11).

Bani menjelaskan, dirinya tinggal di rumah bersama dengan istrinya, Rina (56) sedangkan untuk di sebelahnya ditempati anaknya, Depi bersama suaminya, Bambang (32) yang bekerja di petugas Damkar Kota Lubuklinggau dengan dua anaknya.

“Kami masih tinggal di sini, tidur di ruang tamu depan televisi kalau anak aku dengan menantu dan kedua cucung aku jugo masih tinggal di sini tidur di kamarnya. Sebenarnya, aku ada anak empat anak pertama Ratna (36), kedua Irma (30), ketiga Hendri (27) semuanya sudah berkeluarga dan sudah pisah dari rumah hanya Depi yang tinggal di samping rumah ini,” jelas pria berambut putih ini.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, dirinya tidak mempunyai pekerjaan begitu juga dengan istrinya hanya saja bisa bertahan hidup dengan penghasilan dari kebun karet dan sewa bedeng.

Saat kejadian Bani menceritakan, dirinya berada di luar di depan rumah sedangkan istrinya, Rina berada di dalam rumah sedang berbaring nonton televisi. Ketahuan kejadian dari cucu di sebelah rumah yang ke belakang dan berteriak kalau ada api di belakang.

“Setelah itu, langsung istri aku melihat ke belakang dan berteriak, aku pun langsung masuk coba mematikan api dengan air, tetapi api sudah besar karena sudah membakar dua spring bad milik anak aku di belakang,” ucap pria empat anak ini.

Disinggung mengenai kerugian yang dialaminya?

“Sekitar puluhan juta, sebab bagian tengah rumah ke belakang ludes terbakar, selain itu barang-barang seperti kulkas, magic atap serta dinding habis ludes terbakar,” paparnya.

Sementara itu, Depi yang bekerja sebagai tenaga honorer di SMP Negeri 1 Lubuklinggau ini mengatakan bahwa dirinya juga banyak mengalami kerugian kisaran Rp 13 jutaan baik dari atap, dinding hingga perabotan rumah tangga, dua spring bad, dua kulkas, meja etalase, rak piring, kompor, meja, mesin cuci.

“Jadi sekitar Rp 13 jutaan ruginya. Mengenai bantuan ada dari Tagana. Berupa tikar, makanan kaleng, serta pakaian,” singkatnya.

Berdasarkan informasi dari Bani, kebakaran itu diduga akibat korsleting listrik.

Oleh karena itu, Manager PT PLN (Persero) WS2JB Area Lahat Rayon Lubuklinggau, M Arham Ginting menjelaskan biasanya penyebab terjadinya korsleting listrik, karena instalasi di rumah warga yang sudah tua.

“Karena setiap tahunnya, peralatan rumah kita selalu bertambah. Sementara masing-masing kabel, ada Kemampuan Hantar Arus (KHA). Untuk itu kita sarankan, minimal instalasi dicek kondisinya atau diganti, minimal 10 tahun,” jelasnya.

Selain itu, pemakaian stop kontak yang menumpuk juga sering menjadi penyebab korsleting listrik. Untuk instalasi di rumah warga, ia menegaskan menjadi tanggung jawab pelanggan.

“Dan kita juga sering menyarankan, untuk gunakan peralatan yang ber-Standar Nasional Indonesia (SNI),” tambahnya.

Hal sama disampaikan Manager PT PLN Rayon Muara Beliti, Randhy Kusriansyah. Ia mengatakan terjadinya korsleting listrik bukan disebabkan oleh PT PLN, melainkan kelalaian oleh warga itu sendiri.

“Banyak penyebab terjadinya korsleting listrik, antara lain karena instalasi rumah pelanggan yang tidak standar, kemudian adanya pemakaian stop kontak yang menumpuk, kemudian adanya pemakaian listrik ilegal seperti menyambung langsung tanpa pembatas dan tidak ada izin PLN, kemudian ada juga yang mengubah pembatas milik PLN yang tidak standar,” kata Randhy, Kamis (2/11).

“Himbauan kita agar masyarakat dapat menggunakan listrik dengan tertib, dengan memasang instalasi dengan petugas yang telah memiliki sertifikat ketenagalistrikan,” ungkapnya.

Kemudian, masyarakat juga harus mengikuti aturan PLN, dengan tidak mengubah material milik PLN yang sudah terpasang di rumah dan hindari penggunaan listrik secara ilegal.

Sementara itu, Kepala Sat Pol PP dan Pemadam Kebakaran, Syamsul sedikitnya ada tiga Kecamatan yang dianggap rawan terjadi bencana kebakaran.

“Ada tiga kecamatan di Musi Rawas yang rawan terjadi kebakaran antara lain di Muara Kelingi, Megang Sakti dan Tugumulyo. Karena penduduknya rawan, kalau dari kita sendiri baru ada tiga kejadian kebakaran pemukiman antara lain di Muara Kelingi,” ungkapnya.

Penyebab terjadinya kebakaran, menurut Syamsul bisa dikarenakan oleh alat-alat dapur seperti alat pemasak nasi, lemari es, dispenser maupun korsleting listrik.

“Kita himbau agar sebelum pergi dari rumah dicek dulu. Jangan sampai ada barang-barang yang dapat menimbulkan kebakaran,” tutupnya.(16/07/12)

Komentar

Rekomendasi Berita