oleh

Ayah Korban Mimpi “Ngeloni” Tiga Mayat

REJANG LEBONG – Tersangka pembunuhan satu keluarga mengakibatkan tiga nyawa melayang akhirnya terungkap. Korbannya Hasnatul Laili (35) dan dua anak perempuannya Melan Miranda (16) dan Chika Ramadani (10). Mereka tinggal di Kelurahan Talang Ulu, Kecamatan Curup Timur, Kabupaten Rejang Lebong.

Tersangkanya Jamhari Muslim alias Ari (33) ditangkap saat hendak keluar di salah satu hotel di kawasan Kota Manna Kabupaten Bengkulu Selatan, Senin (14/1) dini hari sekitar pukul 04.40 WIB. Tersangka melakukan pembunuhan itu karena sakit hati.

Namun, untuk memastikan motif pembunuhan petugas kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap tersangka.

Saat penangkapan berlangsung, petugas juga mengamankan gelang emas, cincin emas, uang sejumlah Rp520.000, STNK mobil, SIM, handphone dan tas selempang.

Tersangka langsung digelandang ke Polda Bengkulu untuk pengembangan. Saat menggelar Pres Conference di Mapolda Bengkulu, Kapolda Bengkulu Brigjen Pol Coki Manurung pada sejumlah wartawan menjelaskan, tersangka JM alias A ini memang sering mendatangi rumah.

Pada pagi hari saat kejadian pembunuhan terjadi Sabtu (12/1) sekitar pukul 03.00 WIB tersangka mendatangi rumah korban dengan berjalan kaki dengan jarak dari rumahnya sekitar dua kilometer.

Tersangka masuk ke dalam rumah melalui pintu samping.

Sekitar pukul 05.00 WIB, tersangka yang sudah masuk ke dalam rumah melihat ada kayu di sebelah kulkas dan korban keluar dari dalam kamar. Saat keluar dari kamar itulah tersangka langsung memukul korbannya.

Saat memukul korban itu, putri pertama korban Melan melihat kejadian ini. Hingga akhirnya menghabisi kedua mantan anak tirinya itu di kamar berbeda.

Kapolres Rejang Lebong, AKBP Jeki Rahmat Mustika dikonfirmasi Senin (14/1) pagi membenarkan adanya penangkapan tersangka pembunuhan satu keluarga di kawasan Talang Ulu Kecamatan Curup Timur.

“Alhamdulillah tadi pagi sekitar pukul 05.00 WIB pelaku inisial A berhasil diamankan Buru Sergap (Buser) Bengkulu Selatan, karena sudah saya sampaikan dari awal kita kerja sama dengan Polda Bengkulu dan Polres lainnya untuk mempersempit ruang gerak dari pada si pelaku, pelaku tertangkap saat hendak keluar dari hotel,” jelasnya.

Dari pengakuan tersangka sementara, tersangka pagi itu hendak pergi ke daerah Krui Lampung.


INZET: Yoga (baju koko putih) ayah kandung korban Melan Miranda dan Chika Ramadani saat berada di rumah duka, Kelurahan Talang Ulu, Kecamatan Curup Timur, Kabupaten Rejang Lebong, Senin (14/1).

“Kita sudah buntuti dan hendak keluar hotel langsung di tangkap dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim Bengkulu Selatan,” papar Jeki.

Pelaku, kata Jeki merupakan mantan suami ketiga dan bekerja sebagai tukang las di kawasan Talang Ulu Curup Timur.

“Untuk motif sementara, ada barang-barang yang hilang berupa kalung mas, gelang emas dan uang dan nanti kita perdalam lagi,” papar Jeki.

Pasca terjadinya pembunuhan di rumah korban, kata Jeki, tersangka langsung membawa kabur mobil jenis APV dan memarkirkan kendaraan di RSUD Curup untuk mengelabuhi petugas.

“Selesai memarkirkan kendaraan pelaku sempat pulang ke rumah untuk ganti baju dan bekerja seperti biasa, namun saat hendak pulang ke rumah pelaku melihat ada petugas sehingga tidak pulang dan memutuskan untuk pergi,” paparnya.

Dalam perjalanan melarikan diri, tersangka diduga pergi ke Kota Bengkulu dan langsung menuju Kota Manna Bengkulu Selatan yang butuh waktu lima jam menuju kota tersebut.

“Tersangka ini menginap di hotel dan rencana memang akan melanjutkan perjalanan ke Krui Lampung,” papar Jeki.

Menurut Kapolres, dari penyelidikan sementara, tersangka saat menghabisi nyawa ketiganya menggunakan balok kayu.

“Ada perkembangan, kita temukan sebilah pisau, memang awalnya pakai balok, awalnya tersangka membunuh sang ibu dengan cara memukul pakai balok, kemudian anak korban Melan keluar kamar diduga hendak melakukan perlawanan dengan mengambil pisau dapur, namun justru Melan yang terkena luka pisau,” paparnya.

Selain terkena luka senjata tajam, almarhum Melan juga dipukul dan sempat dijerat menggunakan kabel laptop dan kabel listrik.

Sementara anaknya Chika juga diduga dijerat menggunakan kabel.

“Kalau posisi ibu dan kedua anaknya berbeda, ibunya di kamar belakang kedua anaknya di kamar depan, namun setelah dihabisi ketiganya di kumpulkan di satu kamar depan,” jelasnya.

Dalam peristiwa ini, sambung Jeki, akan diterapkan Pasal 340 pembunuhan berencana, nanti hasil pengembangan bisa juga dikenakan Pasal 338 pembunuhan. Kemudian 363 menyebabkan meninggal dan UU Perlindungan Anak.

“Karena ada korban anak di situ, tapi nanti kita tunggu hasil penyelidikan dan pengembangannya terhadap tersangka apakah ada fakta baru,” tambah Jeki.

Pantauan Linggau Pos, tersangka Jamhari Muslim yang dikawal sejumlah petugas kepolisian bersenjata lengkap dibawa ke Mapolres Rejang Lebong, Senin sekitar pukul 17.05 WIB.

Tersangka langsung diamankan di Polres Rejang Lebong untuk penyelidikan lebih lanjut.

Saat iring-iringan kendaraan yang membawa tersangka masuk ke halaman Polres banyak warga sekitar yang ingin melihat tersangka secara langsung. Namun warga hanya dibatasi dengan melihat dari luar pagar.

“Mano pembunuhnya nak nengok nian aku,” celetus warga di luar pagar.

Saat tersangka sampai ke tahanan Polres Rejang Lebong, Kabag Ops Polres Rejang Lebong, AKP Arie Yansah pada sejumlah wartawan yang menunggu sejak pagi mengungkapkan syukur dengan berhasilnya tertangkap tersangka pembunuhan.

“Kami ucapkan terima kasih pada masyarakat, keluarga korban, media dan seluruhnya dengan terungkapnya kasus pembunuhan ini, termasuk dari jajaran Reskrim Rejang Lebong dan Bengkulu Selatan dan di-back-up Jatanras Polda Bengkulu,” ungkap Arie.

Dijelaskan Arie, dari keterangan sejumlah saksi dan tersangka tidak ada keterlibatan pihak lain dan hanya dilakukan sendiri.

“Kalau motif diduga karena dendam karena tersangka mengajak rujuk, karena korban merupakan mantan istri tersangka, mereka cerai kurang lebih dua bulan,” papar Arie.

Sebelumnya, korban telah menikah dengan suami pertama. Dikarunai dua anak Melan dan Chika. Lalu menikah lagi dengan suami kedua. Namun cerai. Menikah lagi dengan suami ketiga, yang tak lain adalah tersangka.

Tersangka dan Laili sempat pacaran saat masih remaja. Namun tak berlanjut ke pernikahan. Sementara ketika Laili telah menjanda, tersangka sempat menjadi karyawan korban. Hal itu menumbuhkan benih-benih kasih. Akhirnya tersangka menceraikan istri yang telah memberinya satu anak, lalu menikah dengan Laili 4 April 2018.

Pernikahan ketiga Laili tak berlangsung lama. Hanya 40 hari, setelah itu keduanya pisah ranjang. Bahkan Laili pernah melaporkan ke Polisi tentang kasus KDRT yang dilakukan tersangka saat masih jadi suami istri. Laporan itu akhirnya dicabut Laili, dan ia memilih cerai dengan tersangka.

Di hadapan polisi, tersangka mengatakan 40 hari setelah pernikahan, Laili dan tersangka pisah ranjang. Tepatnya tiga hari menjelang Lebaran. Karena masalah anak.

Saat ini, polisi masih melengkapi saksi dan akan berkoordinasi dengan ahli dan autopsi luar dari korban dan mengumpulkan alat bukti lain.

“Rencana kami ke depan kita periksa kejiwaanya,” tambah Arie.

Dari keterangan saksi lainnya, sebelum peristiwa pembunuhan juga sebelumnya sempat cekcok dan adu mulut dengan korban.

Ditambahkan Arie, saat kejadian berlangsung hingga kedua anak korban juga menjadi korban, diduga tersangka kepergok saat menghabisi ibunya.

“Untuk ancamannya bisa hukuman mati atau seumur hidup,” tutup Arie.

***Mimpi Ngeloni Mayat

Suardi (65) ayah kandung dari Almarhum Hasnatul Laili (35) merupakan kakek dari dua korban lainnya Melan dan Chika bercerita mimpinya yang aneh.

“Sekitar seminggu sebelum kematian anak dan cucu, saya sempat bermimpi aneh, kok saya ngeloni tiga mayat,” tutur Suardi di rumah duka, Senin (14/1).

Dari mimpinya, ia beranggapan jika dari mimpinya akan mendapatkan rezeki sehingga dirinya semangat bekerja di kebun.

“Saya anggap mimpi ini bakal dapat rezeki, jadi saya seminggu ini saya semangat bekerja di kebun, tidak tahu kalau bakal terjadi seperti ini,” ungkap Suardi.

Bahkan saat ditemukan korban sudah tidak bernyawa, dirinya masih berada di dalam kebun lantaran dirinya beranggapan jika korban pergi keluar rumah membawa mobilnya.

“Saat kejadian, saya sedang di kebun, sangka kami yang bawa mobil itu Lili (panggilan korban Hasnatul Laili) pikir aku anak aku Lili yang pergi bawa mobil tidak tahunya pelakunya pakai jilbab agar tidak keciren (ketahuan),” kesal Suardi.

Ia berharap, dengan terungkapnya kasus ini tersangka bisa dihukum seberat-beratnya.

“Kami sakit hati dengan tersangka ini, kami mohon hukuman berat, kala mati enak, sudah mati sudah, kalau bisa seumur hidup,” harapnya.

Mimpi aneh juga dialami oleh sang ibu sebelum malam kejadian.

“Memang ibu pernah bercerita mimpi kalau ada salah satu keluarga mencakar-cakar barang yang masih hidup, tapi tidak tahu bendanya apa, tapi yang pasti benda hidup,” tambah Junaidi.

Sementara itu, ibu kandung Jasmani tidak terlihat di dalam rumah duka karena masih syok. Pantauan Linggau Pos, di rumah duka, selain keluarga, kerabat dan tetangga berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa, juga banyak rekan-rekan korban yang datang ke rumah duka.

Bahkan banyak sejumlah guru baik dari Sekolah Dasar (SD) tempat korban Chika sekolah termasuk dewan guru dari sekolah MAN Curup tempat korban Melan menempuh pendidikannya. (sam)

Rekomendasi Berita