oleh

Atasi Penyalahgunaan Lem Aibon, Butuh Solusi Konkret

Anggota DPRD Kota Lubuklinggau, Yusri Daud

“Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pasar dapat melakukan tindakan tegas. Dengan membuat surat edaran larangan menjual bebas lem Aibon….”

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Dampak penggunaan lem Aibon secara rutin, nyaris sama seperti narkoba. Pengguna lem Aibon juga bisa meninggal dunia secara mendadak.

“Cara kerja lem Aibon memang berbeda dengan narkoba. Jika menghirup lem Aibon, zat yang terkandung di dalamnya akan masuk ke paru-paru. Dampaknya, merusak susunan saraf otak,” jelas dr H Mast Idris Usman E.

Direktur RS Siti Aisyah itu menerangkan, pengguna lem Aibon tak merasa lapar, sering berhalusinasi dan pandangannya tak fokus. Ini akibat zat adiktif yang terkandung dalam lem Aibon dan menyebabkan ketergantungan.

“Lem Aibon ini cara penggunaannya dihirup. Tapi efeknya sangat kuat. Sama seperti narkoba. Bisa merusak syaraf otak,” tandasnya.

Ketua Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kota Lubuklinggau, Yusri Daud mengatakan kalau permasalahan banyaknya anak jalanan yang menggunakan lem Aibon, hendaknya diselesaikan secara bersama-sama.

“Masyarakat, khususnya para pedagang yang menjual lem Aibon hendaknya tidak menjual sembarangan barang yang memabukkan ini ke pada para pembeli,” kata Yusri Daud, Jumat (17/11).

Sebab, itu salah satu cara untuk menghindari semakin bertambahnya para pengguna lem Aibon, karena saat ini sudah sangat banyak anak-anak jalanan yang mengonsumsi lem Aibon.

“Sebenarnya, kalau mau jujur para penjual lem Aibon sudah tahu kalau barang yang dijualnya kerap disalahgunakan, sang pembeli pasti sudah dikenal, bisa dikatakan sudah langganan. Jadi, permasalahan ini bisa diselesaikan,” jelasnya.

Selain itu, dilanjutkan Yusri Daud, pemerintah dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pasar dapat melakukan tindakan tegas. Dengan membuat surat edaran larangan menjual bebas lem Aibon. Karena, lem Aibon dijual oleh warung-warung kecil, bukannya di toko bangunan.

“Bila semua sudah bergerak, maka permasalahan yang pelik ini bisa diselesaikan. Karena, efek dari penggunaan lem Aibon sangat bahaya, yakni dapat membuat sang pengguna setengah gila,” tegasnya

Hal senada diungkapkan Kapolres Lubuklinggau AKBP Hajjat Mabrur Bujangga. Aparat, kata dia, selalu siaga untuk menjadi tim gabungan menyelamatkan anak bangsa dari penyalahgunaan lem Aibon ini.

“Memang penting kita lihat akar masalahnya dulu. Mereka ada yang sekolah. Dan yang ngamen itu nggak semuanya ngelem. Biasanya yang ngelem itu, karena pengaruh pergaulan (ikut-ikutan,red). Jadi alangkah bagusnya bersinergi antara Pemkot dan aparat inspeksi mendadak secara continue. Sampai anak-anak ini jera. Sehingga nggak ada lagi yang berani nongkrong, ngamen bahkan ngelem,” kata AKBP Hajjat.

Ia menyadari, kerapkali Dinas Sosial melakukan pembinaan. Namun, belum ada tindak lanjut.

“ Kalau saya analisa, sekarang terputusnya di Dinas Sosial. Mereka ini orang tuanya nggak peduli. Anak-anak kecil sengaja dieksploitasi. Bahkan pernah dilidik Kasat Intel indikasinya ada aktor yang menempatkan anak-anak ini untuk ngamen. Jadi ini masih akan terus kami pantau bagaimana perkembangannya,” tegas AKBP Hajjat.

Ia menyadari memang hal ini merupakan tantangan kota yang berkembang.

“Padahal kalau mereka tahu lem itu merusak saraf otak, saya yakin mereka nggak berani lagi. Oleh karena itu, saat ini saya nggak pernah kasih pengamen duit. Karena bisa jadi duit yang didapat itu untuk beli lem. Maka, kalau kita mau sedekah, pastikan tepat sasaran. Kalau sudah nggak ada orang ngasih mereka duit, ya pasti jera mereka ngamen di sana. Nggak ada juga modal untuk ngelem,” jelasnya.

Selama ini, bisa jadi orang tua juga dibuat bingung bagaimana ketika putra-putrinya jadi pecandu lem Aibon.

Pimpinan Pesantren Almadani Ust Arpan menerangkan, ada beberapa santri dalam bimbingannya yang juga mantan pecandu lem.

“Di Al-Madani ini bukan panti rehabilitasi anak yang kecanduan lem. Namun yang datang ke sini untuk menjadi santri. Ada yang dari Muratara dan Musi Rawas. Sehingga sebenarnya kami tidak punya terapi khusus. Hanya ketika mereka ditempatkan di lingkungan yang baik, dan mengajak mereka ingat dengan Allah SWT, insya Allah sembuh dari ketergantungan itu,” jelasnya.

Bagi orang tua yang ingin anak-anaknya terbebas dari candu lem Aibon, lanjut Ust Arpan, bisa juga ke Klinik As-Syifa Watas.

“Saya juga bagian dari penasihat spiritual pecandu lem dan pecandu narkoba di sana. Jadi kalau di pesantren ini sistemnya anak jadi santri. Kalau mau rehab ya ke Klinik As-Syifa itu,” jelas Ust Arpan. (05/11)

Komentar

Rekomendasi Berita