oleh

Asyila, Bayi Penderita Hidrosefalus Harus Segera Dibawa ke RSMH

LINGGAU POS ONLINE – Kemarin (19/6), tepat lima tahun usia Asyila. Namun, pertumbuhan tubuh mungilnya terhambat. Sebab kepalanya membesar. Diameternya sampai 50 centi meter. Berdasar hasil perawatan di Rumah Sakit (RS) Dr Sobirin, Asyila menderita hidrosefalus. Putri kedua pasangan Ewis dan Wawan itu dalam kondisi sulit. Harusnya, Asyila menjalani pengobatan di Rumah Sakit Muhammad Husein (RSMH) Palembang. Itu berdasar rujukan yang diberikan dokter di RS Dr Sobirin.

Namun Selasa (18/6), Asyila dibawa pulang ke rumah neneknya di Desa Lubuk Tua, Kecamatan Muara Kelingi, Kabupaten Musi Rawas (Mura). Upaya Asyila untuk dirujuk ke RSMH belum bisa dilakukan. Terkendala karena kepesertaan bayi mungil ini di BPJS Kesehatan belum aktif.

Budi, teman sekampung orang tua Asyila menjelaskan, Asyila lahir dalam kondisi sudah prematur di salah satu rumah sakit di Jakarta. Sang ibu, Ewis meninggal usai melahirkan Asyila. “Sebulan dia di inkubator. Setelah itu keluar dan dibawa ke Mura, tempat neneknya Siti Aisya di Desa Lubuk Tua. Ibunya Asyila ini berteman dengan istri saya,” terang Budi kepada Linggau Pos, Rabu (18/6).

Menurut Budi, dua bulan kemudian setelah tinggal di Desa Lubuk Tua, ia menjenguk Asyila. Saat itu, sudah tampak kepala Asyila membesar, namun belum seperti sekarang. “Saya sempat ajak neneknya membawa Asyila berobat. Tapi katanya belum ada biaya. Memang mereka kurang mampu. Ayah Asyila ini pun masih kerja di Jakarta sebagai security untuk membiayai dua anaknya,” terang Budi.

April 2019 akhirnya Budi mendapat lampu hijau untuk membantu mengurus pengobatan Asyila. Melihat kondisi nenek Asyila, tak memungkinkan mereka untuk menjadi peserta BPJS Kesehatan mandiri. Maka setelah konsultasi dengan Sekretaris Desa (Sekdes) Lubuk Tua, didapatlah informasi Asyila bisa menjalani pengobatan dengan diikutsertakan dalam program Dinas Sosial (Dinsos). Jadi Asyila dapat rekomendasi Dinsos Kabupaten Mura sebagai warga kurang mampu lalu mendapat layanan kesehatan di RS Dr Sobirin.

Setelah menjalani rangkaian pemeriksaan di RS Dr Sobirin, dokter merujuk Asyila untuk dibawa ke RSMH. “Kondisi kesehatan Asyila terus menurun. Namun, kalau pakai rekomendasi Dinsos saja tidak bisa. Maka harus jadi peserta JKN KIS,” jelasnya.

Menurut Budi, untuk jadi peserta JKN KIS Asyila harus punya KK. “Waktu buat KK itu terbentur lebaran. Setelah lebaran KK siap. Sekdes yang bantu. Jadi kakaknya Asyifa dan Asyila masuk ke KK sang nenek sebagai warga Desa Lubuk Tua,” terang Budi.

Lagi, Dinsos Mura bergerak dengan memberikan rekomendasi pada BPJS Kesehatan Lubuklinggau untuk memasukkan Asyila dan keluarganya masuk ke peserta JKN KIS PBI APBD. “Di sinilah masalahnya. Kami harus menanti satu bulan baru bisa dapat kartu JKN KIS untuk Asyila. Padahal kondisinya sangat butuh penanganan cepat,” jelas Budi.

Ia sempat khawatir. Sebab manajemen BPJS Kesehatan Lubuklinggau mengatakan paling cepat kartu JKN KIS PBI APBD bisa keluar satu bulan setelah pendaftaran. Pegawai PMI Kota Lubuklinggau ini menerangkan, tanpa kartu JKN KIS itu Asyila belum bisa dibawa ke RSMH Palembang. “Saya mohonlah siapapun tolong bantu. Anak ini benar-benar butuh bantuan,” tuturnya.

Kepala BPJS Kesehatan Lubuklinggau, Eka Susilamijaya melalui Humas, Nindra mengatakan pihaknya sangat prihatin dan sangat ingin membantu Asyila. “Setelah kami cek, kepesertaan Asyila dan anggota keluarga lain dalam satu KK ini sudah terdaftar. Namun memang belum aktif. Kalau data sedang begini, kami tidak bisa otak-atiknya. Insya Allah 1 Juli 2019 sudah bisa ambil kartunya. Kami doakan Asyila kuat. Dan bisa mendapatkan pengobatan dengan lancar dan cepat,” jelas Nindra.

Nindra menambahkan, bagi peserta yang mendaftar ke BPJS Kesehatan sebelum tanggal cut off (setiap tanggal 25) baru bisa aktif bulan berikutnya. “ Kalau program BPJS Kesehatan daftar langsung aktif tidak ada lagi sekarang. Kalau dulu memang ada rekomendasi Dinsos bisa. Sementara sekarang sudah tidak berlaku lagi,” imbuh Nindra. (lik)

 

Rekomendasi Berita