oleh

Api Membumbung 15 Meter

LINGGAU POS ONLINE, RAWAS ILIR – Sumur pengeboran minyak ilegal atau ilegal drilling milik masyarakat terbakar, Minggu (21/1) pukul 08.00 WIB. Peristiwa itu terjadi di Desa Belani, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara).

Atas kebakaran tersebut, lokasi sumur bor terbakar habis, tampak api bercampur asap kelam membumbung setinggi 15 meter. Baru pada pukul 18.00 WIB api padam.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kabupaten Muratara, H Alfirmansyah mengatakan sebagaimana laporan dari PT Serelaya Merangin Dua (SMD), telah terjadi kebakaran di sumur ilegal warga atas nama Mura, yang berada di area sumur PT SMD.

“Benar, sesuai laporan pihak PT SMD, sumur yang meledak punya masyarakat. Saat itu, pekerja masak dengan kompor di pondokan mereka. Lalu api menyulut pondokan dan merambat ke sumur minyak, “ucapnya kemarin.

Lebih lanjut, Alfirmansyah menambahkan penyebab sementara adalah adanya gas hidrokarbon yang berasal dari sumur warga yang merambat ke permukaan tanah hingga ke perkemahan pekerja yang berjarak kurang lebih 70 meter dari sumur.

“Diduga pekerja di kemah yang melakukan aktivitas sehari-hari. Saat mereka menghidupkan kompor, dari situlah api langsung menyambar gas sampai ke kepala sumur warga. Untuk jarak- jarak sumur yang meledak dengan sumur aktif PT SMD kurang lebih 300 meter,” terangnya.

Kapolsek Rawas Ilir, Iptu Fajri Anbiyaa menjelaskan, saat ini pihaknya sedang berada di lokasi sumur bor minyak meledak tersebut.

Penyebabnya kita belum tahu, sekarang masih dilakukan penyelidikan di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Lebih lanjut, Fajri Anbiya menambahkan, aktivitas sumur ilegal ini 2016 lalu pernah ditutup oleh SKK Migas bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muratara.

“Nanti dari hasil penyelidikan akan kita laporkan ke Kapolres Musi Rawas,” imbuhnya.

**** Jangan Dianggap Remeh

Pengamat Hukum Regional, DR Febrian saat dikonfirmasi mengenai permasalahan ilegal drilling yang terjadi di Desa Belani ini, ia meminta pemerintah maupun masyarakat jangan menganggap sepele.

“Sebab, ini kasus ini takutnya merusak sumber daya alam serta warga di sekitar lokasi,” kata Dekan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya itu, Minggu (21/1).

Febrian menjelaskan, namanya ilegal apabila dilakukan pastinya akan dituntut secara hukum walaupun posisi sumur tersebut berada di tanah milik warga yang melakukan pengeboran minyak.

“Kecuali, memang ada izin untuk melakukan pengeboran minyak di lokasi ataupun tanahnya sendiri,” jelas Febrian.

Lebih lanjut, Febrian menjelaskan, kepada pemerintah dan aparat penegak hukum harus segera bertindak. Segera ditutup jangan sampai dimanfaatkan warga sebab takutnya bencana akan melanda akibat sumur tersebut.

“Dan apabila masih ada warga yang bandel, sudah pasti diproses secara hukum,” ucapnya.

Febrian menambahkan, adanya peristiwa kebakaran ini, merupakan salah satu pelajaran ataupun cambuk bagi pemerintah serta aparat penegak hukum.

“Maka dari itu, akan lebih baik diakukan sosialisasi kepada warga untuk tidak melakukan pengeboran minyak, karena apabila dilakukan akibatnya akan fatal serta akan dijerat dengan proses hukum,” terang Febrian.

Pengeboran minyak ilegal yang dilakukan masyarakat Desa Belani ini menggunakan peralatan sederhana.

Febrian menerangkan jika minyak mengandung hidrokarbon disemprotkan, sangat berbahaya akibatnya. (16) (07)

Komentar

Rekomendasi Berita