oleh

Alih Fungsi Lahan Mengancam

LINGGAU POS ONLINE, MUSI RAWAS – Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, areal persawahan di Kabupaten Musi Rawas (Mura) terus berkurang. Alih fungsi lahan dari persawahan menjadi kolam usaha harus menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mura.

Setidaknya hingga saat ini lebih kurang 12 ribu Hektare (Ha) lahan persawahan alih fungsi berubah menjadi kolam, ruko dan pemukiman penduduk.

Keberadaan Peraturan Daerah (Perda) No. 3 Tahun 2018 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LPPB). Yang diharapkan bisa membendung alih fungsi lahan tampaknya tidak dipatuhi.

Bahkan, ancaman Distanak Kabupaten Mura yang akan memberikan sanksi pidana tiga tahun penjara dan denda kurang dari Rp 1 miliar kepada pelaku alih fungsi lahan persawahan, dianggap angin saja.

Alih fungsi lahan itu tampaknya tidak main-main. Sebab, dalam proses pengerukan lahan persawahan tidak menggunakan tenaga manusia. Namun pengerukan sawah menjadi kolam menggunakan alat berat.

Pasalnya, alih fungsi lahan persawahan menjadi kolam dikeluhkan Hartijo (40) warga Desa Air Satan Kecamatan Muara Beliti mengatakan, setiap ada pengerukan lahan persawahan menjadi kolam baru, membuat debit air irigasi ke sawah-sawah petani menjadi berkurang.

“Sekarang saja lagi musim hujan, jadi sumber air banyak. Tetapi jika musim kemarau kita sudah kesulitan air, bahkan terpaksa harus gantian dengan petani lainnya,” kata Hartijo kepada koran ini, Jumat (7/9).

Dikatakan Hartijo, lain lagi jika para petani sawahnya tidak dialiri air sama sekali mereka kemungkinan besar akan mengubah profesi menjadi petani tanaman lainnya.

“Saat ini sudah banyak yang jadi petani semangka, petani sayur-sayuran. Karena mau menanam padi tidak ada air, terpaksa berubah profesi dari pada sawah tidak terpakai sama sekali,” keluh bapak anak tiga ini.

Senada diungkapkan Amin (40) petani semangka warga setempat menuturkan, sawah mereka tidak bisa digarap sejak empat tahun terakhir. Karena suplai air irigasi tidak sampai lagi ke sawahnya.

“Sebenarnya air di sini banyak, tapi banyak dipakai oleh pengusaha-pengusaha kolam air tenang. Akibatnya, petani sawah tidak dapat air lagi,” terang Amin.

Amin berharap, kepada Pemerintah untuk bertindak tegas kepada para pengusaha yang mengubah sawah menjadi kolam ikan. Karena kasihan dengan para petani padi, jika para petani ini semuanya beralih fungsi maka sulit untuk mencari beras lagi. (dlt)

Rekomendasi Berita