oleh

Aku ‘Tulang Punggung’ Keluarga

Ini kisah sedihku. Nama inisialku, PTR (34). Aku tinggal di Kecamatan Lubuklinggau Selatan II. Semenjak ditinggal suamiku sepuluh tahun lalu, aku harus rela dan bekerja keras membanting tulang untuk menghidupi dua buah hatiku.

Anak pertama laki-laki berusia 11 tahun dan anak keduaku perempuan berumur delapan tahun keduanya masih sebagai seorang pelajar di salah satu SMP dan SD di Lubuklinggau.

Aku sudah lebih kurang 10 tahun hidup sendirian, untuk memberikan nafkah kedua buah hatiku sejak suamiku meninggal pada 2010 lalu.

Aku memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan cara berjualan sarapan pagi, mulai dari nasi gemuk hingga gorengan. Kebetulan rumahku tidak jauh dari salah satu SMA yang ada di daerahku.

Alhamdulillah kedua anakku tidak pernah menuntut dan meminta lebih kepadaku, karena mereka tahu dengan keadaan yang aku alami saat ini.

Memang tidak mudah menjalani hidup menjanda, sebab saat usia anakku masih kecil banyak pria bahkan suami orang ada yang ingin melamarku dan siap untuk hidup bersamaku serta kedua anakku.

Tapi, aku putuskan untuk membesarkan kedua anak-anakku seorang diri, karena khawatir disakiti oleh suami baru oleh sebab itu saat ini aku memutuskan tetap menjanda.

Beberapa tahun lalu anak-anakku telah memperbolehkan aku untuk menikah. Tapi, aku memutuskan tetap hidup seorang diri, karena aku nyaman dengan keadaan aku seperti ini dan memang tidak membutuhkan kasih sayang dari suami.

Aku berharap kedepan keluarga kami tetap bahagia walaupun tanpa adanya kehadiran suami. Sebab yang paling penting saat ini bisa berkumpul dengan anak-anakku dan diberikan kesehatan itu sudah lebih dari cukup.(19)

Komentar

Rekomendasi Berita