oleh

Aku Janda Dengan Dua Anak

Ini kisah hidupku.  Bagaikan drama. Bagiku hidup adalah perjuangan harus kujalani.

Sebut saja namaku Putri, bukan nama sebenarnya. Aku janda dengan dua orang anak. Saat ini usiaku 35 tahun.

Aku tinggal di Kecamatan Lubuklinggau Selatan I.  Sebenarnya bukan maksud hatiku ingin hidup sebagai janda, tapi apa daya aku tak mampu mempertahankan mahligai rumah tanggaku ini.

Semua ini berawal saat aku menikah dengan seorang pria yang aku jalani hubungan sepasang kekasih lebih kurang satu tahun lalu.

Semula aku tak tahu kalau ia seorang yang tidak jujur.  Dari tampilan fisiknya sangat meyakinkan. Ia gagah dan bertanggung jawab. Setelah satu tahun mengenal dirinya, akhirnya aku memutuskan menikah dengan suami aku.  Setelah menikah kami pun bepergian untuk bulan madu. Tapi semua itu tak berapa lama.

Setelah berniat pisah dari orang tua dengan alasan agar mandiri, mulailah semua kebusukan suamiku terbuka. Ia ternyata seorang pembohong.

Apa yang dikatakannya sewaktu pacaran tak sesuai kenyataan ia tidak bekerja di perusahaan melainkan ia pekerja sebagai kuli bangunan. Ku kira ia memiliki segalanya. Harta dan kasih sayang. Nyatanya tidak. Aku tertipu.

Suamiku hanya diam saja saat aku tanyakan pekerjaannya yang sebenarnya. Dan meminta aku menerima keadaannya apa adanya. Tentu saja aku tak terima. Sampai beberapa bulan kemudian aku hamil. Kami tetap serumah meski ngontrak.

Suamiku terus pergi melakukan pekerjaan bangunannya aku sendiri di rumah menunggu dirinya, dan menanti kelahiran bayi kami. Tanpa kusangka-sangka saat kandunganku memasuki bulanan menjelang melahirkan, suamiku meninggalkan ku dan anak kami tanpa memberi kabar kepada ku.

Aku sangat kecewa ia melakukan hal itu, apa salahku hingga tega meninggalkan diriku yang sebentar lagi akan melahirkan. Aku merasa suamiku sangat kejam.

Aku tak berdaya saat itu. Hanya keluargaku saja yang terus menguatkan, sampai akhirnya anakku lahir dengan selamat dan suamiku tidak pernah memberi kabar di mana dirinya.

Sampai anakku berusia dua tahun, tetap tak kudengar kabar berita suamiku. Aku dibiarkan saja. Meski begitu aku tak tinggal diam ku cari info ke mana pergi suamiku. Ternyata dia tak berada di kota ini lagi.

Aku harus menghidupi anakku ini. Meski rasanya hati ini sakit aku tak akan dendam aku harus tetap mengurusi anakku, dan mengurusi perceraian kami di Pengadilan Agama Lubuklinggau. (19)

Komentar

Rekomendasi Berita