oleh

Aku Banting Tulang Jadi Tukang Kredit

Malang nasib wanita berinisial, LA (40). Wanita salah satu warga di Kelurahan Taba Pingin, Kecamatan Lubuklinggau Selatan II harus rela bertahan hidup dengan satu anaknya.

Ia bertahan hidup dengan anaknya pasca sejak bercerai dengan suami yakni RM (47) sepuluh tahun lalu karena suaminya tidak mempunyai pekerjaan hanya seorang pengangguran.

Aku sengaja memilih bercerai mas dibandingkan harus bertahan dengan rumah tangga yang mencukupi kehidupan ataupun tulang punggung aku mas bukan suami aku.

Hampir menjalani hidup kurang lebih 20 tahun bersama dengan suami aku dan dikaruniai satu orang anak laki-laki saat ini telah mengenyam pendidikan di salah satu SMA di kota Lubuklinggau.

Sejak aku nikah dengan suami aku, aku mendapatkan satu orang anak namun sayang kami telah berpisah lantaran tingkah lakunya yang semakin tidak bisa dimaafkan tidak memberikan nafkah, padahal sebelumnya dia termasuk orang yang rajin bekerja dan tidak memilih pekerjaan apapun.

Tapi dak tahu akhir-akhir ini dia berubah, sering malas-malasan tidak mau bekerja mencari uang padahal tahu sendiri sekarang jaman yang serba susah, apalagi anak kami sematang wayang sudah bersekolah di SMA pastinya kebutuhan hidup semakin berat.

Sebenarnya aku juga tidak ingin berpisah dengan dirinya, tetapi dia yang membuat aku untuk menceraikannya, aku juga heran mengapa dia bisa jadi pemalas dan tidak mau mencari pekerjaan, bukannya semakin dewasa atau tua semakin semangat nyari uang tetapi malah sebaliknya.

Setelah bercerai dengan suami aku saat ini aku hidup menjanda dengan satu anak dan bertahan hidup sebagai tukang kreditan alat rumah tangga.

Tapi walaupun aku hidup berstatus janda dan jualan alat rumah tangga yang penting hidup aku bahagia dengan anakku setidaknya masih bisa makan, jika kalau ingin kaya tidak mungkin bisa cukup untuk makan sehari-hari sudah lebih dari cukup.(16)

Komentar

Rekomendasi Berita