oleh

Akses Pendidikan Sulit Dijangkau

Kepala Dinas Pendidikan Mura, H Sukamto
“Intinya, jangan sampai cita-cita mereka terputus gara-gara tidak ada biaya. Ini memang masalah serius…”

1.040 Anak Putus Sekolah

LINGGAU POS ONLINE, MUSI RAWAS – 1.040 anak bawah usia 19 tahun di Kabupaten Musi Rawas (Mura) dinyatakan putus sekolah. Sebagian dari mereka tinggal di Dusun Sri Pengantin, Desa Pasenan, Kecamatan STL Ulu Terawas.

“Sekitar 40-an anak yang dinyatakan putus sekolah dan datanya saya kirimkan ke Kantor Desa untuk ditindaklanjuti Disdik Musi Rawas. 40 Anak itu, ada yang lulus SD tapi tidak lanjut, namun ada juga yang belum lulus SD,” kata Guru SDN Sri Pengantin, Syafaruddin, Senin (15/1).

Selain putus sekolah, warga di dusun tersebut juga sebagian besar buta aksara, terutama kalangan ibu dan bapak.

“Memang yang kasus buta aksara ini belum kami data. Namun tidak menutup kemungkinan juga ada yang masih remaja,” jelas Syafaruddin lagi.

Menurutnya, orang tua sebenarnya mau bahkan ingin sekali kalau putra-putrinya lanjut sekolah ke jenjang SMP. Setiap tahun ada 8 sampai 11 anak yang lulus dari SDN Sri Pengantin.

“Jadia mereka yang tidak bisa melanjutkan ke jenjang SMP ini masih ingin belajar. Mereka gabung lagi dengan adik tingkat mereka di SD. Namun seragamnya pakai SMP,” terang Syafaruddin.

Bahkan ada orang tua mereka yang justru sudah berusaha membelikan pakaian seragam SMP. Sehingga sekalipun belajar di SD, anak-anak ini mengenakan seragam SMP.

“Walaupun sebenarnya tidak ada SMP di sini. Dari analisa kami, karena faktor ekonomi dan akses yang sulitlah, membuat anak-anak dari Dusun Sri Pengantin tak bisa mencicipi bangku SMP,” terangnya.

Sekalipun tak lanjut SMP, orang tua mereka tetap menyuruh untuk ikut belajar terus di kelas yang dikelola Syafaruddin. Bahkan orang tua mereka sering menyampaikan kepada anak-anak agar jangan dulu ke kebun sebelum ikut belajar lagi di sekolah.

Selain di Dusun Sri Pengantin, kondisi serupa terjadi di Desa Pian Raya, Kecamatan Muara Lakitan.

Guru SDN Pian Raya, Ikerniaty Sandili menjelaskan, akses menuju SMA yang jauh (sekitar 12 kilo meter) jadi kendala anak-anak SDN Pian Raya untuk melanjutkan studi.

“Kalau SMP ada di desa. Masih satu atap dengan SD. Hanya memang kesadaran pentingnya pendidikan sangat kurang. Di sisi lain, ada juga yang benar-benar terbentur biaya,” jelas Ikerniaty Sandili .

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Musi Rawas H Sukamto akan mencarikan solusi, agar 1.040 anak yang putus sekolah ini, masa depannya bisa terselamatkan.

“Intinya, jangan sampai cita-cita mereka terputus gara-gara tidak ada biaya. Ini memang masalah serius. Maka kami butuh informasi yang valid agar penuntasan kasus anak putus sekolah ini bisa lebih maksimal. Salah satunya melalui bantuan Program Indonesia Pintar (PIP),” jelasnya.(05)

Komentar

Rekomendasi Berita