oleh

Ajarkan Anak Hidup Bertoleransi

Pengajar Muda Program Indonesia Mengajar, Cipto Troena Putra
“Di sini (Desa Mukti Karya,red) terdapat suku Jawa, Musi, dan Bali. Adat istiadat jelas berbeda, begitu juga yang berbeda agama. Sehingga melalui kegiatan Ngelong #5, kami berharap anak-anak dan masyarakat semakin memupuk toleransi, demi menjaga keutuhan NKRI..”

LINGGAU POS ONLINE, MUARA LAKITAN – Indonesia yang memiliki kekayaan beranekaragam budaya dan suku, membuat pendidik negeri ini penting menanamkan toleransi pada siswa siswinya. Seperti yang dilakukan Cipto Troena Putra, Pengajar Muda Program Indonesia Mengajar 13 April 2018 lalu.

“Iya, jadi 13 April 2018 lalu kami mengadakan Ngelong (Ngajo Lan Bejejelon) #5. Jargon yang kami usung ‘Kami Beragam, Kami Berbudaya, Kami Indonesia’. Melalui jargon ini, kami ingin mengajarkan kepada murid-murid, juga masyarakat bahwa beragam budaya harus hidup toleransi. Apalagi di sini terdapat suku Jawa, Musi, dan Bali. Adat istiadat jelas berbeda, begitu juga yang berbeda agama. Sehingga melalui kegiatan Ngelong #5, kami berharap anak-anak dan masyarakat semakin memupuk toleransi, demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” jelas Cipto (panggilan akrab Cipto Troena Putra) kepada Linggau Pos, Kamis (19/4).

Tema besar itu, kata Cipto, digagas oleh seluruh Pengajar Muda Indonesia Mengajar. Khusus kegiatan Ngelong #5 terpusat di SD Negeri Mukti Karya, Desa Mukti Karya, Kecamatan Muara Lakitan, Kabupaten Musi Rawas.

Menurut Cipto, sebenarnya kegiatan rutin Pengajar Muda yang berawal dari Ngelong 1 hingga 4 berturut-turut di SDN Harapan Makmur, SDN Kembang Tanjung, SDN Pian Raya, dan SDN Sri Pengantin, memulai perjalanan pada Kamis, 12 April lalu dari Kota Lubuklinggau menuju Desa Muara Rengas dengan menggunakan kendaraan operasional PGRI.

Disebabkan kondisi jalan yang tidak bisa dilalui mobil APV, perjalanan di siang itu dilanjutkan dengan menggunakan mobil double gardan PT Musi Hutan Persada (MHP). Menggandeng MHP untuk mendukung transportasi selama di daerah HTI (Hutan Tanam Industri), jarak tempuh dihabiskan waktu 120 menit.

Bersamaan dengan hujan yang reda, tim Indonesia mengajar tiba di lokasi kegiatan, dan melaksanakan ngelong pada 13 April 2018. Tidak hanya pengajar muda, siswa SMA dan mahasiswa juga turut mengambil peran dalam kegiatan ini.

Tidak hanya mengajak pihak-pihak luar, Cipto juga berhasil mengajak masyarakat, tokoh agama, perangkat desa, dan komite sekolah untuk mengambil peran. Ada yang menyediakan konsumsi selama kegiatan, ada yang menyediakan tempat menginap, bahkan ada yang menjadi pemateri, seperti Kadek Wistre dan Komang, yang membantu menjelaskan adat dan tradisi budaya Bali.(02)

Rekomendasi Berita