oleh

Ajari Anak Agar Berani

Psikolog, Irwan Tony
“Anak yang mandiri juga akan lebih bertanggung jawab terhadap dirinya. Ia memikirkan apa resiko dari semua yang dilakukannya…”

LINGGAU POS ONLINE, STL ULU TERAWAS – Tidak semua orang tua mau mengikutserakan anaknya dalam perlombaan ini. Barangkali mereka punya alasan sendiri. Namun penting bagi orang tua menyadari, melibatkan anak dalam lomba bukan berarti mengajarkan anak berorientasi menjadi artis.

“Karena bakat-bakat seperti ini mesti dilatih untuk merangsang pertumbuhan otak kanannya. Ajang seperti ini (lomba mewarnai, menyanyi, tahfidz dan sebagainya,red) baik diikuti anak, karena tak semua anak berani tampil di depan umum. Ini waktu yang tepat untuk membantu anak menjadi lebih berani dan percaya diri,” jelas Psikolog, Irwan Tony, Senin (1/1).

Ia menerangkan, masa anak-anak adalah masa bermain, mereka tidak bisa dipaksakan untuk mau melakukan sesuatu. Terbukti banyak juga diantara anak-anak yang membuat ibu mereka kecewa. Setelah sampai di lokasi mau naik panggung mereka malah menangis dan gagal untuk ikut dalam acara.

“Keberanian dan menumbuhkan kepercayaan diri pada anak memang mestinya di latih sejak dini. Meskipun faktor genetik berpengaruh. Biasanya hanya 20% dan sisanya adalah pengaruh lingkungan. Anak yang memiliki orang tua pemberani dan punya percaya diri maka ia punya kemungkinan untuk tumbuh menjadi mandiri, berani dan juga percaya diri,” jelasnya.

Tetapi yang tak punya bakat pemberani dan mandiri, tegasnya, bukan berarti mereka tidak bisa tumbuh menjadi sosok yang percaya diri.

“Semua bisa dilatih dan peran orang tua diperlukan untuk mengembangkan bakat ini. Keberanian dan kemandirian merupakan bagian dari life skill. Orang tua bisa mengajarkannya sejak dini, ini akan bermanfaat untuk pertumbuhan anak ke depan,” imbuhnya.

Anak yang terlatih untuk berani dan mandiri akan lebih berkembang dengan baik, dia dapat belajar mengantisipasi. Mengerti apa akibat dari aksi yang dilakukannya.

Keberanian dan kemandirian anak juga dapat menjadikannya seorang yang kritis dan kreatif dalam memecahkan masalah. Tidak seperti ‘anak mama’ yang saat terkendala menuntut orang tuanya untuk menyelesaikan masalahnya.

Selain itu, jelas Irwan Tony, anak yang mandiri juga akan lebih bertanggung jawab terhadap dirinya. Ia memikirkan apa risiko dari semua yang dilakukannya.

“Jadi penting untuk melatih keberanian, kemandirian dan kepercayaan diri pada anak. Dan itu dapat dilakukan dengan banyak cara. Tidak hanya mengikutkannya di acara-acara besar. Tetapi bisa dengan hal-hal sederhana sejak kecil dari rumah,” jelasnya.(05)

Komentar

Rekomendasi Berita