oleh

Ajak Orang Tua, Cegah Angka Putus Sekolah

Gita Alumni IPB Mengabdi di SDN Harapan Makmur

Gita Kusmawardiani mengenal dunia sosial pendidikan sejak kuliah semester 1 Jurusan Ekonomi dan Studi Pembangunan Institut Pertanian Bogor (IPB) . Sejak itu, ia aktif sebagai volunteer IPB Mengajar. Mulai saat itu juga gadis ini bermimpi untuk menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar.

Laporan Sulis, Musi Rawas

SELAMA kuliah, Gita sudah tergabung ke dalam berbagai kegiatan sosial mahasiswa. Putri Mudiani dan Supriyanto ini pernah menjadi bagian dari Divisi Kesejahteraan Sosial BEM Fakultas Ekonomi dan Manajemen dan berkesempatan menjadi Project Officer FEM Mengajar pada tahun 2015.

Setelah itu ia juga dipercaya menjadi Vice President Sanggar Juara, sebuah gerakan pendidikan karakter di regional Bogor pada tahun 2016.

Kegiatan sosial, khususnya yang fokus pada pendidikan, selalu membuatnya senang.

“Jika bahagia itu sederhana, maka sesederhana menghabiskan waktu bercerita kepada anak-anak dan membuat mereka tersenyum adalah hal yang membuat saya bahagia,” tuturnya, saat saya bincangi Kamis (21/6).

Setelah lulus kuliah, Gita berkesempatan melakukan internship di salah satu perusahaan energi milik negara. Namun, ketika ada kesempatan untuk mendaftarkan diri menjadi Pengajar Muda XVI, ia memilih untuk bergabung menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar.

Menurutnya, selagi masih muda, Gita ingin turut mengabdi dan membantu pendidikan di pelosok negeri. Terlebih, di sana akan menjadi ruang kelas baginya untuk terus belajar melampaui batas diri.

“Saya tidak pernah berharap untuk ditempatkan di kabupaten tertentu. Di manapun saya ditempatkan, saya yakin itu adalah tempat terbaik saya untuk belajar dan mengabdi,” imbuh gadis asli Bogor, Provinsi Jawa Barat ini.

Dan saat tahu bahwa ia ditempatkan di Musi Rawas, cukup banyak pertanyaan dalam benaknya.

Seperti apa tempatnya? Seperti apa masyarakatnya? Seperti apa tantangannya? Gita sempat ragu, apakah ia bisa menghadapi tantangan geografis dan sosiologis di Musi Rawas? Tapi keraguannya membuat Gita semakin bersemangat mempersiapkan diri untuk berangkat ke penempatan.

“Penempatan saya di Desa Harapan Makmur, di kawasan HTI, dengan medan tanah merah. Jarak tempuhnya 3 jam dari pusat kota Kabupaten Musi Rawas,” jelasnya.

18 Mei 2018, menjadi momen pertama Gita masuk ke Desa Harapan Makmur.

Kesan pertama masuk ke wilayah penugasan ia sangat senang karena mendapatkan sambutan hangat dari kepala sekolah dan keluarga angkat di desa meskipun kondisi di desa penuh dengan keterbatasan.

“Di lokasi penempatan ini letaknya tengah hutan karet, akses jalan yang sulit, ketersediaan listrik dan air bersih, tapi saya sangat bersyukur karena anak-anak dan masyarakat desa dengan hangat menyambut kehadiran saya,” imbuh gadis berhijab ini.

Belum lagi saat ia mulai mengajar di SDN Harapan Makmur, Gita bangga di perpustakaan sekolah ini punya koleksi buku perpustakaan yang cukup lengkap.

“Selama saya bertugas di sana saya ingin memanfaatkan fasilitas tersebut dengan baik. Mengajak anak-anak untuk lebih sering membaca sehingga minat baca anak-anak dapat meningkat. Selain itu saya berencana untuk memberikan les-les tambahan seperti membuat prakarya, latihan upacara, dan menggalakan gerakan pramuka di sekolah. Kegiatan belajar pun tidak terpusat hanya di sekolah, alam sekitar dapat dijadikan media belajar untuk meningkatkan minat belajar anak-anak,” jelasnya.

Gita berkeyakinan, kedekatan pengajar muda dengan orang tua siswa juga harus terus dibina agar para orang tua dapat mendukung anak-anaknya untuk terus bersekolah sehingga tidak ada anak yang putus sekolah.

Saat ini, Gita ditugaskan untuk mengajar murid-murid kelas 3 SD Harapan Makmur jumlahnya sekitar 30 orang. (*)

Rekomendasi Berita