oleh

Ajak Anak Pakai Gadget untuk Belajar

Mendidik Ala Dian dan Didin

ERA gadget banyak orang tua kewalahan mengkontrol kontent internet yang diakses anak. Sebagian mengeluhkan putra-putrinya kecanduan game online, ada juga yang mengkhawatirkan teraksesnya kontent pornografi.
Namun bagi Dian Purnama, hal itu tak perlu dirisaukan.
“Anak-anak suka baca. Maka sekalipun mereka main gadget, yang diakses bacaan online. Sebenarnya tergantung kita orang tuanya bagaimana mencontohkan ke mereka. Kalau kita memanfaatkan gadget untuk belajar, merekapun rerata akan meniru. Kita (orang tua,red) punya kewajiban menularkan hal yang baik,” tutur Guru Bahasa Inggris SMA Negeri 3 Lubuklinggau ini.
Disamping itu, menurut Dian, cara belajar anak juga tak melulu melalui membaca.
“Hal pertama yang penting dilakukan mengenali gaya belajar anak. Caranya, kami melakukan pengamatan. Kalau anak pertama kami, M. Bintang Athaya Al Khazani (Abien) karena sifatnya lebih pendiam dia  tipe anak visual. Dia bisa belajar daria pa yang dia lihat, lewat buku atau tontonan. Sehingga pengembangan ilmunya dibantu dengan memberi banyak buku,” jelasnya.
Ibu yang juga membimbing Sanggar Seni Sinergi itu mengatakan, putra keduanya M. Thaariq Athaya Al Kautsar (Athar) teknik belajarnya lewat praktik langsung.
“Dia anaknya nggak bisa diam, gerak terus.  Jadi kami arahkan sesuai dengan potensi itu, ke olahraga,” tutur istri dari Didin Najamudin ini.
Sementara,  si bungsu M. Samudra Athaya Al Muntazar ( Azzam) sejak bayi, kata Dian nampak ‘beo’. Semua hal dia tiru.
“Jadi nampak kalau dia anak tipe audio. Jadi kami arahkan ke pembelajaran lewat lagu,” tutur Dian.
Sehingga dengan melakukan pengamatan ini, nampak bahwa ketiga anak ini type belajarnya berbeda-beda.
Lantas bagaimana ketika anak jenuh dalam belajar?
“Sebenarnya, kalau yang bungsu Azzam banyak mainnya ketimbang belajar. Lalu kalau Abien dan Athar,  sebenarnya bukan jenuh. Karena kami tidak pernah memaksa mereka belajar. Hanya saja, kadang mereka mendadak males,” kata Dian.
Ia mengaku harus peka dengan banyak alasan yang kadang dilontarkan putranya itu. Semisal, mereka mengeluhkan sakit perut, sakit kepala, sakit gigi maupun sakit kaki.
“ Kalau mereka sudah keluar jurus sakit, saya langsung suruh mereka tidur. Buku, game, hp semaunya simpan dulu. Sanksi ini memang sederhana, namun kalau sehari saja cukup menyiksa,” jelas Dian.
Terkadang, keluhan sakit yang disampaikan anak-anaknya juga memang fakta.
“Iya, kadang mengeluh sakit. Saat dicek badannya, sakit beneran. Kalau begitu, ya harus istirahat mereka,” jelas Dian.
Khusus Athar, Dian mengakui type putra keduanya itu agak keras.
Jadi ketika menemui kesulitan saan mengerjakan soal, dia mulai marah-marah. Kalau sudah begitu, biasanya Dian langsung meminta putranya itu stop belajar.

“Setelah itu, saya tanya dia mau apa. Makan apa atau mau jalan-jalan. Dengan perjanjian, ketika itu sudah dipenuhi, mereka harus melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Salah satunya mengerjakan soal,” imbuhnya.
Masalah cita-cita, Dian dan Didin mengaku memberikan kebebasan bagi anak-anaknya untuk memilih. Si sulung masih konsisten untuk menjadi tentara, sementara Athar mengaku ingin jadi atlet. Dan si bungsu ingin jadi dokter.
“Apapun cita-cita mereka tugas kami mendoakan dan berusaha untuk bisa mendorong mereka mencapai cita-cita itu,” terang Dian.
Salah satu cara Dian memberikan dorongan agar putranya semangat mencapai cita-cita, dengan memberikan reward.
“Ya sebenarnya bukan hanya reward sih. Kami berlakukan juga funishment. Ini bagian dari proses pendidikan. Kala mereka berprestasi ya kami beri hadiah. Itupun sesuai budget dan  request mereka.  Kalau funishmentnya, misal melakukan kesalahan cukup dengan tidak memperbolehkan mereka  memakai fasilitas yang dia sukai. Ini cukup menimbulkan efek jera,” ungkap Dian yakin.
Tak hanya itu, Dian juga memiliki tips menarik untuk mendisiplinkan anak.
Menurutnya, ini juga bagian dari pendidikan yang pernah didapatnya dari sang mama dan papa.
“Jadi ini ada istilah menagdopsi begitu. Anak-anak pukul 21.00 WIB harus sudah tidur. Abien dan Athar itu jam 4.00 WIB harus sudah bangun, salat subuh dan mandi. Lalu dia belajar. Pulang sekolah, mereka bebas main. Namun selepas salat maghrib mulai belajar lagi,” imbuhnya.
Antara Dian maupun Didin memang terkadang ada selisih pendapat dalam proses pendidikan ini. Namun, keduanya bisa meredam perbedaan pendapat itu di depan anak-anak.
“Ya nanti kami bahas diam-diam. Sampai ada kesepakatan bersama,” jelasnya lagi.
Lalu bagaimana memilih sekolah?
Dian mengaku hal ini cukup selektif. Baginya, sekolah amat menentukan keberhasilan anak.
“Abang Abien sekarang di Sekolah Alam Insan Mulia. Kalau Athar dan Azzam masih di Palm Kids Lubuklinggau. Sebelum mempercayakan anak sekolah di mana, kami survei dulu. Langsung ke sekolah. Dan mengajak anak,” jelasnya.
Menurut Dian, memilih sekolah bukan hal yang mudah. Namun dari sisi layanan sekolah, SDM (guru maupun administrator) sekolah, juga system belajarnya penting untuk diketahui sejak awal. Agar orang tua bisa menumbuhkan rasa percaya yang lebih kepada guru, untuk menjadi tempat menimba ilmu putra-putri.
“Dan yang tak kalah penting, sekolah yang kami pilih adalah sekolah-sekolah yang amat komunikatif dengan kami. Jadi kami bisa lebih nyaman. Apapun yang dilakukan anak, dikomunikasikan dengan baik dengan kami. Keterbukaan itu yang membuat kami makin yakin untuk menitipkan anak di sekolah tersebut,” jelasnya.(05)

Komentar

Rekomendasi Berita