oleh

Air Sungai Diuji Setahun Dua Kali

LUBUKLINGGAU – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Lubuklinggau sudah memiliki agenda rutin pengambilan sampel air sungai untuk diuji laboratorium. Pengambilan sampel dilakukan dua kali dalam setahun, tepatnya Mei saat musim kemarau dan November/Desember saat musim hujan.

Sampel air diambil dari Sungai Kelingi, Sungai Malus, maupun Sungai Mesat. Setelah diambil sampel lalu diuji laboratorium di DLH Kabupaten Musi Rawas (Mura), hasilnya keluar dua minggu pasca air sampel dikirim.

“Kita belum punya alatnya, makanya diuji di Mura dan kita bayar ada retribusinya,” kata Puji Kasi Pemeriksaan DLH Kota Lubuklinggau, Selasa (22/1).

Diakui Puji, kondisi sungai di Kota Lubuklinggau masih diambang batas. Sehingga masih aman untuk dimanfaatkan

“Memang ada beberapa sungai yang kondisi fisiknya kita nilai sudah tercemar, tapi saat di uji laboratorium ternyata tidak bermasalah,” ungkap Puji.

Sementara berdasarkan uji laboratorium yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Sungai Rawas Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) terindikasi terkena pencemaran ringan.

“Data yang kita dapatkan berdasar uji laboratorium belum lama ini, Sungai Rawas yang berada di Kabupaten Muratara terkena pencemaran ringan” jelas Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (PPKLH), Imrokie, Selasa (22/1).

Pencemaran ringan tersebut disebabkan oleh limbah dari pemukiman warga, berdasarkan bentuk pencemarannya, pencemaran tersebut tidak membahayakan bagi karena pembuangan sampah ataupun limbah dari air cucian maupun limbah dari pembuangan hajat dari masyarakat

“Aktivitas sehari hari warga Daerah Aliran Sungai (DAS) yang menyebabkan pencemaran tersebut,” tambahnya

Imrokie melanjutkan sampai saat ini pihaknya memiliki 37 titik pantau air, dari pantauan tersebut hanya dua titik yang melewati batas Baku Mutu.

“Berdasarkan pantauan tersebut dua aspek yang menjadi penyebab, pencemaran yang disebabkan oleh limbah Biological Oxygen Demand (BOD) kebutuhan oksigen biologis untuk memecah bahan buangan di dalam air oleh mikroorganisme, dan limbah hemical Oxygen Demand (COD) atau kebutuhan oksigen kimia untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan di dalam air.

Dua limbah tersebut yang menjadi aspek utama penyebab pencemaran pada sungai yang ada di Muratara,” imbuhnya.

Sedangkan untuk limbah dari perusahaan belum ada pencemaran ke sungai, karena sampai saat ini pihaknya terus memantau aktivitas pengelolaan limbah perusahaan.

“Belum ada limbah perusahaan yang mencemari sungai. Karena sistem pengelolaan limbah perusahaan sudah sangat baik,” jelasnya.(nia/cw3)

Rekomendasi Berita