oleh

Adi Butuh Bantuan

LUBUKLINGGAU – Malang nasib Adi Supriadi (40) warga RT 8, Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Lubuklinggau Barat I. Kini ia hanya bisa berdiam di kontrakan, lantaran menderita luka bakar sekujur tubuhnya. Operator excavator ini kesentrum ketika hendak bekerja 31 Oktober 2017 lalu.

Tak hanya luka, Adi juga kehilangan daun telinga sebelah kanan, dan mata sempat katarak. Padahal selama ini ia tulang punggung keluarga dengan empat orang anak.

Dari pantauan Linggau Pos, luka bakar Adi kian membaik, berkat perjuangan ia dan keluarganya.

Adi Supriadi menceritakan peristiwa yang menimpanya bermula saat ia beserta tiga temannya berangkat dari Lubuklinggau menuju Kikim Kabupaten Lahat. Mereka mengendarai tronton sedangkan excavator-nya dinaikkan di tronton tersebut. Namun saat di perjalanan, mobil berhenti lantaran ada kabel yang melintang dan mengenai.

“Melihat hal itu, karena kernet saya masih baru, sehingga saat memutuskan turun untuk membenahi kabel tersebut. Namun saat baru saja menghentakkan kaki saya ke tanah, saya langsung kesentrum dan langsung tidak sadarkan diri,” kata Adi.

Kemudian, ia langsung dibawa ke RS Tebing Tinggi, namun tidak sanggup, sehingga dirujuk di RS Dr Sobirin, setelah dua hari di rawat di RS Dr Sobirin pihak RS tidak menyanggupi, akhirnya Adi dirujuk di RS Muhammad Hoesin Kota Palembang.

“Di RS Muhammad Hoesin, saya dirawat selama tiga bulan, 10 hari dengan sembilan kali operasi, setelah itu saya dirawat di rumah,” imbuhnya didampingi istri, Naila.

Namun yang disayangkan, lanjut Adi, kurangnya tanggapan dari pimpinannya bekerja. Sedangkan janjinya akan mengurusi semua kebutuhannya berobat.

“Saya tidak tahu, nama perusahaan saya itu, yang saya tahu pemiliknya atas nama Alvin yang terletak di Kelurahan Petanang, Kecamatan Lubuklinggau Utara I, tepatnya di sebelah Gardu Induk PLN. Perusahaan ini yang memiliki sejumlah alat berat, yakni dua doser, tiga excavator, satu molen dan dua tronton,”sambung Adi.

Memang kata Adi, saat ia di RS Muhammad Hoesin Palembang, pimpinannya membayar Rp44.855.476 untuk pengobatan. Namun menurut Adi, rasanya masih kurang.

Karena kebutuhannya banyak selain buat beli obat juga untuk kebutuhan sehari-hari.

“Selain itu, saya dirawat dengan menggunakan Jamkesmas, namun setelah 3 bulan lebih, kami disuruh pulang, lantaran Jamkesmas-nya habis. Yang saya inginkan, bahwa dari pihak tempat saya bekerja itu bisa memberikan santunan setiap bulannya, karena kondisi saya sudah cacat fisik, bahkan sudah tidak bisa bekerja lagi, karena itu hak saya, saya kecelakaan dalam kerja. Sementara saya harus menghidupi anak-anak saya, Dian Sepian (16) Siti Fatimah (9), Siti Nurarifah Mardiyah (6) dan Amirah Hidayun Hasanah (2).

Ia menyesalkan hal itu, sebab ia sudah bekerja selama dua tahun, menjadi operator excavator.

“Bahkan saya bukan kerja sebagai operator excavator saja. Namun juga pernah jadi tukang las dan lain. Yah namanya juga loyalitas, namun saat saya terkena musibah kayak gini saya dibuang, dijenguk saja tidak,” keluhnya.(awj)

Rekomendasi Berita