oleh

Acuan Daya Beli Segala Sektor

Linggau Pos Online,

Sebagian warga Kelurahan Air Temam, Kecamatan Lubuklinggau Selatan I bermata pencaharian sebagai petani karet. Setelah sempat kecewa dengan harga karet yang cenderung turun, akhir Januari 2019 ini mereka tampaknya kembali bersemangat.

Laporan Gery Cipta Sebangun, Air Temam

TAK dipungkiri, harga komoditas karet mampu memengaruhi sektor ekonomi Kota Lubuklinggau. Ketika harga karet lemah, daya beli turun. Ketika harga karet mulai naik, daya beli masyarakat mulai menunjukkan tren positif.

Seorang petani karet di Kelurahan Air Temam, Rudi (18) mengatakan, sejak pertengahan Desember 2018 harga getah yang awalnya Rp5.000 per Kilogram (Kg) menjadi Rp7.500 per kg.

Namun, kata Rudi, harga tersebut masih getah kotor.

“Untuk harga bersih penjualan getah karet Rp5.000 sampai Rp6.000 per kg,” jelas Rudi, Selasa (29/1).
Disamping itu, harga karet yang rendah ternyata juga bisa berefek negatif pada penjualan bibit karet.

Penjual Bibit Karet di Kelurahan Air Temam, Mujiono menyebut, jika harga karet mahal, harga bibit karet ikut naik. Begitu juga sebaliknya.

Saat ini, jelas dia, harga bibit karet per polybag berkisar Rp3.000- Rp4.500 per buah. Sedangkan harga bibit karet tanpa menggunakan polybag Rp1.500 sampai Rp2.500 per batang.

Menurutnya, ketika harga karet turun drastis, sebagian para penyadap karet beralih ke pemberdayaan pembibitan karet dan bekerja sama dengan agen pembibitan lain, atau beralih ke perdagangan lain, seperti penjualan buah-buahan.

“Penjualan pembibitan hanya sampingan ketika harga karet turun. Tapi tak banyak juga para petani yang masih bertahan walaupun harga karet sedang turun,” jelasnya. (*)

Rekomendasi Berita