oleh

ABG Curi Kotak Amal Buat Pesta Sabu

LUBUKINGGAU – Petugas Sat Reskrim Lubuklinggau Barat, Minggu (23/6) sekitar pukul 08.00 WIB meringkus dua dari lima tersangka pencurian uang dalam kotak amal Masjid Agung As Salam Lubuklinggau. Dua tersangka masih tergolong Anak Baru Gede (ABG) itu yakni JPI (18) dan ATN (16) warga Kelurahan Jogoboyo Kecamatan Lubuklinggau Utara II. Sedangkan tiga pelaku utamanya masih dalam pencarian petugas.

Kapolres Lubuklinggau, AKBP Dwi Hartono melalui Kapolsek Lubuklinggau Barat, Iptu Suryadi didampingi Kanit Reskrim, Aiptu Paisal dan Katim Reskrim, Aiptu Ibnul Subyanto, pencurian terjadi Minggu (23/6) sekitar pukul 02.00 WIB.

Ibnul Gondrong begitu Aiptu Ibnul Subyanto biasa dipanggil, menjelaskan tiga tersangka yang buron adalah AT, RI dan DN.  Sementara dua orang tersangka ini, diamankan saat nongkrong di salah satu rumah kosong di Kelurahan Jogoboyo. “Menurut kedua tersangka, tempat tersebut merupakan di Basecamp mereka ketika hendak berkumpul,” terangnya.

Aksi pencurian mereka ini, ditambahkan Ibnul Gondrong terekam CCTV di samping Masjid As Salam. Para pelaku masuk dari pintu samping dekat dengan tangga Masjid As Salam.

Ketiga pelaku masuk ke dalam masjid, sementara JPI dan ATN menjaga di luar masjid. Sedangkan pelaku lainnya masuk untuk mengambil dua kotak amal berukuran besar dan satu berukuran kecil. Uang dari kotak amal yang isinya sekitar Rp6 juta, kemudian dibagi oleh para tersangka. Uangnya juga digunakan untuk pesta narkoba. “Barang bukti yang didapat dari para pelaku, pisau dari tersangka JPI, dan obeng, kunci L, tang untuk membobol kunci gembok kotak amal. Juga uang sisa Rp521 ribu,” tambahnya.

Selain itu di basecamp juga ditemukannya sebuah bong sabu dan plastik klip yang diduga baru digunakan oleh para pelaku. “Dalam penginterogasian kedua pelaku, mereka mengakui bahwa seusai melakukan aksi pencurian, para pelaku membeli sabu dan langsung mengonsumsi, bahkan ada juga dari pelaku yang mengonsumsi lem Aibon,” katanya.

Sementara itu, kedua tersangka mengakui mendapatkan pembagian berbeda-beda, pengakuan dari pelaku JPI, ia mendapat sebesar Rp250 ribu, sedangkan untuk pelaku ATN, ia mendapatkan jatah sebesar Rp50 ribu. “Hasil dari pencurian didapat kami gunakan untuk membeli soto,” kata kedua pelaku saat ditanyai oleh Linggau Pos.

Dari kedua pelaku mengatakan, bahwa mereka sudah putus sekolah. Untuk pelaku JPI, ia mengaku bahwa sudah putus sekolah dari kelas lima SD, sedangkan ATN, ia mengaku putus sekolah dari waktu kelas dua SMP. (yan)

Rekomendasi Berita