oleh

Abdul Ghoffar Studi ke Italia

Siswa SMAN 1 Lubuklinggau Go Internasional

Misi SMAN 1 Lubuklinggau mewujudkan SMANSA Emas Go Internasional terwujud. Lembaga pendidikan ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai sekolah rujukan ini menghantarkan seorang siswanya, studi ke Italia, awal September 2018 ini.

Laporan Sulis, Pelita Jaya

SABTU pagi (25/8) saya tandang ke SMA Negeri 1 Lubuklinggau, di Jl Pelita, Kelurahan Pelita Jaya, Kecamatan Lubuklinggau Barat I. Di ruang wakil kepala sekolah, saya langsung berjumpa dengan M Abdul Ghoffar. Sebagaimana biasa, putra dari Sarkulis dan Lusi Indra Apriyani itu tersenyum ramah.

Perbincangan tentang rencana keberangkatannya ke Italia jadi topik utama yang saya tanyakan. Ia memastikan berangkat akhir Agustus 2018 ini.

Masih mengenakan segaram abu-abu putih, lalu saya meminta kesediaannya untuk foto bersama Kepala SMAN 1 Lubuklinggau Zulkarnain dan jajaran wakil kepala sekolah. Seperti Bidang Kesiswaan Budianto, Bidang Kurikulum Marzudi, Bidang Humas Suparno, dan Bidang Peningkatan Mutu Yeni Yulizah.

Setelah itu, barulah saya mencoba mengulik perjuangan Abdul Ghoffar sampai bisa lolos dalam program AFS Internasional ini ke Italia.

M Abdul Ghoffar memastikan, tidak mudah baginya untuk langsung bisa menembus seleksi sehingga dinilai layak oleh lembaga nirlaba Bina Antar Budaya untuk studi ke salah satu negara di Eropa Selatan itu.

Siswa kelahiran 19 Maret 2001 itu juga menyatakan tak muda baginya, harus menghabiskan waktu satu tahun, September 2018 sampai dengan Agustus 2019 untuk studi di negeri yang dikenal dengan industri mesin, , tekstil, kendaraan bermotor, dan keramik itu

“ Cita-cita saya sebenarnya ke Belanda. Namun yang lulus ke Italia. Ini alhamdulillah,” tutur Siswa kelas XI IPA itu.

Sejak 2016, ia memulai perjuangannya untuk bisa lolos dalam seleksi ini.

“Awalnya saya dapat info dari kakak kelas, namanya Kak Mikie. Beliau sharing ke Instagram. Kasih tahu ada kesempatan untuk ikut seleksi program Pertukaran Pelajar Internasional ke Eropa. Tapi tiketnya harus beli ke SMA Negeri 17 Plus Palembang. Saya merasa tertarik, dan memutuskan ke Palembang untuk beli tiketnya,” jelas siswa yang juga dipercaya sebagai Top Manager Lan Bege Art Community SMA Negeri 1 Lubuklinggau itu.

Di tiket itulah, terdapat kode registrasi. Dari sana, melalui jalur online Ghoffar mengunjungi website Bina Antar Budaya sebagai penyelenggara kegiatan ini lalu mengisi form data.

“Dari seleksi berkas itu, saya dan Alivia yang masuk. Sebenarnya banyak teman-teman dari SMA Negeri 1 Lubuklinggau yang juga ikut seleksi. Setelah lulus berkas, kami ikut tes tertulis. Meliputi pengetahuan umum dan Bahasa Inggris. Setelah itu, saya juga dihadapkan pada tiga pilihan tema. Yang harus saya pilih salah satu untuk dikembangkan dalam 1.000 kata. Akhirnya saya memilih mengangkat soal lingkungan. Karena selaras dengan SMA Negeri 1 Lubuklinggau yang sudah jadi Sekolah Adiwiyata Mandiri,” jelas Ghoffar.

Ada 500 pelajar se-Provinsi Sumsel yang mengikuti tes tertulis itu. Dua pekan kemudian, ia dipanggil untuk tes wawancara. Saat itu hanya 167 pelajar yang diundang.

“Saat wawancara itu, yang dites kepribadiannya oleh Pak Arpani. Sementara kemampuan Bahasa Inggrisnya dites oleh AFS yang sudah pernah pergi ke Italia,” jelasnya.

Dua minggu kemudian, seleksi tahap 3 diikuti Ghoffar. Ia aharus berkolaborasi dengan siswa-siswi lain, untuk membahas masalah air bersih. Lokasi masih sama di SMA Negeri 17 Palembang.

“Saat tahap ketiga ini, dari luar Palembang hanya empat orang. Dua dari Lubuklinggau dan dua lagi dari Muaraenim. Bermodal belajar dari Lan-Bege Art Community-lah, saya bisa menjalani seleksi tahap 3 ini dengan baik. Karena di sana, saya harus menyingkirkan ego, belajar menjadi leader, menghargai pendapat teman, dan merangkum masukan dari tim. Jadi dari hasil ekstrakulikuler di Lan-Bege, manfaatnya amat saya rasakan,” jelasnya.

Dari dua pekan yang lalu, akhirnya Ghoffar mendapat kabar gembira dari panitia. Ia bersama 69 pelajar se-Indonesia dinyatakan lulus seleksi untuk mengikuti program Pertukaran Pelajar ke Italia.

“Saya mulai ikut orientasinya, di Jakarta Juli -Agustus 2018 ini. September baru berangkat,” jelas penyuka musik Jimbe itu.

Kini ia memastikan sudah siap untuk bisa sukses di Italia, sesuai dengan yang ditargetkannya.

“Di sana, kami tidak hanya akan belajar tentang budaya dan kehidupan di Italia. Tapi kami juga diminta menampilkan kekayaan Indonesia yang khas. Saya sudah menyiapkan itu,” jelasnya.

Bahkan, karena satu tahun masa studi ini, Ghoffar juga sudah siap dengan konsekuensi akan lulus terlambat 1 tahun dibanding teman seangkatannya.

“Ini demi masa depan, baik untuk saya maupun adik-adik tingkat. Saya berharap, dengan bisa ke sana, saya bisa punya banyak ilmu yang bisa saya sharing dengan teman-teman di SMA Negeri 1 Lubuklinggau,” ungkapnya optimis.

Sulung tiga bersaudara alumni SMP Negeri 4 Lubuklinggau itu menyebut, lulusnya ia dalam seleksi ketat ke Italia ini tidak terlepas dari dukungan orang tua, Kepala SMA Negeri 1 Lubuklinggau Zulkarnain, dan Pembina Lan Bege Art Communiti Budianto.

“Selain itu, ini juga buah dari semangat saya belajar bahasa Inggris saat SMP dulu. Ada Mom Eva dan Mom Sri yang sangat berkontribusi membuat saya lancar dalam berbahasa Inggris,” imbuhnya.

Di Italia nanti, Ghoffar sangat ingin bisa membawa ilmu yang bermanfaat. Terutama dalam bidang mesin.

“Saya penyuka seni. Tapi saya juga tertarik tentang mesin. Jadi saya berharap, buah dari 1 tahun di sana (Italia,red) ada oleh-oleh ilmu yang bisa diterapkan untuk Indonesia,” jelasnya.

Melihat semangat Ghoffar, Budianto mengaku bangga dengan siswanya ini. Budianto yakin, setiap anak yang punya ‘mimpi besar’ pasti mampu menggapainya. Asal konsisten pada usaha yang sungguh-sungguh.
Sementara itu, Kepala SMAN 1 Lubuklinggau Zulkarnain amat bangga dengan pencapaian Abdul Ghoffar.

“Ini dalam rangka program Go Internasional SMAN 1 Lubuklinggau. Salah satunya tercapainya kegiatan ini. Oleh karena itu, kami menuntut kerjasama anak, guru dan orang tua agar selalu aktif memberikan dan sharing info tentang program-program internasional. Apa yang dilakukan Ghoffar bisa jadi inspirasi bagi siswa-siswi SMAN 1 yang lain,” tutur Zulkarnain.

Ia mengucapkan selamat untuk Abdul Ghoffar, dan Zulkarnain berkeyakinan Ghoffar sepulang dari Italia bisa memberikan catatan-catatan inspiratif untuk teman-temannya di SMAN 1 Lubuklinggau, Kota Lubuklinggau dan Sumsel umumnya.

“Selain Ghoffar, ada seorang alumni SMAN 1 Lubuklinggau tahun ajaran 2017/2018 yang lulus kuliah gratis ke Jepang atas nama Rizaldi. Kami yakin, dengan ilmu dan potensi yang dimiliki anak-anak, mereka siap bersaing kancah internasional,” imbuh Zulkarnain.

Ia yakin, lulusnya Ghoffar pada program AFS ini berdampak positif pada peserta didik di SMA Negeri 1 Lubuklinggau.

“Saya berkeyakinan, Ghoffar bisa mengabulkan pengharapan kami bapak ibu guru di sini. Agar dia bisa menularkan ‘ambisi positif’-nya kepada teman-teman di sini. Sehingga berani bermimpi, dan selalu punya optimisme untuk menggapainya,” imbuh Waka Kesiswaan, Budianto.(*)

Rekomendasi Berita