oleh

9 ODGJ di Musi Rawas Dipasung

LINGGAU POS ONLINE – Alih-alih mencari bantuan medis yang sepatutnya. Beberapa Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dipasung dan diasingkan oleh anggota keluarganya sendiri.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Musi Rawas (Mura), Agus Susanto menjelaskan sepanjang tahun 2019, terdapat 335 ODGJ yang terdata. Dari jumlah ini, terdapat 20 orang dipasung oleh keluarganya.

Ia menjelaskan 20 orang yang dipasung tersebut, empat orang sudah lepas pasung, dan 12 orang sudah dilakukan assessment.

Hasilnya, 7 orang sudah dilakukan evakuasi ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) dan Balai Rehabilitas Kementerian Sosial (Kemensos) RI.

“Jadi sisa ODGJ yang dipasung sebanyak 9 orang,” katanya, Kamis (15/8).

Menurutnya, masyarakat yang memiliki sanak keluarga yang terkena gangguan jiwa, harus memberikan perhatian yang ekstra, tidak boleh lalai.

Sebab, rata-rata gangguan jiwa akan bertambah parah ketika keluarga terdekatnya malah tidak memperhatikan mereka lagi. Karena, berdasarkan pengalaman gangguan jiwa yang dialami sipenderita bisa sembuh, ketika dilakukan pengobatan yang rutin.

“Misalnya, ingatkan mereka untuk minum obat. Sebab, orang yang mengalami gangguan bisa sembuh, ketika rutin meminum obat yang sudah diberikan,” jelasnya.

Psikolog Irwan Tony menjelaskan, disamping tidak benar-benar menyelesaikan permasalahan medis penderita, pemasungan merupakan salah satu bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang harus segera diberantas di negeri ini.

Maka dari itu program Indonesia Bebas Pasung dicanangkan oleh Kemensos sejak tahun 2016. Program ini sebenarnya ditargetkan akan terwujud tahun 2017. Namun diperpanjang lagi harus terwujud 2019.

Menurut Irwan Tony, untuk mewujudkan Indonesia Bebas Pasung 2019, dibutuhkan upaya berkesinambungan dari berbagai pihak. Termasuk meningkatkan kesadaran masyarakat umum terhadap peliknya masalah pasung ini.

Menurutnya, penderita gangguan jiwa sebenarnya perlu ditangani dengan tenaga ahli. Karena itulah, pemasungan tak perlu dilakukan. Agar benar-benar terealisasi, agaknya butuh bantuan dari seluruh masyarakat luas. Supaya rajin melaporkan jika mengetahui kasus pemasungan yang ada di sekitar.

Pemasungan biasanya dilakukan keluarga, karena mereka tidak mampu menanggulangi gejala ODGJ yang semakin sulit untuk diatasi, sampai penurunan fungsi sosial dan okupasional yang semakin berat. Kondisi tersebut semakin mempertinggi beban keluarga secara ekonomi maupun waktu dan tenaga akibat perawatan yang harus dilakukan karena ketergantungan yang terjadi. Ketergantungan tersebut akan semakin meningkat akibat pemasungan yang dilakukan.

Pemasungan lama, kata dia, berdampak pada timbulnya disabilitas fisik, penyakit fisik kronik akibat infeksi, malnutrisi, dan dehidrasi yang sering berujung pada kecacatan permanen. Pemasungan juga mengakibatkan ODGJ semakin sulit untuk melakukan integrasi ke masyarakat akibat disabilitas secara sosial, ekonomi, spiritual, dan budaya. (aku/lik)

Berita lainnya klik di sini

Rekomendasi Berita