oleh

88 Pasangan Nikah Usia Dini

LINGGAUPOS ONLINE – 88 Pasangan nikah usia dini. Hal ini terungkap dari data yang tercatat di Pengadilan Agama Lubuklinggau.

“Iya, ada 88 pasangan yang dapat dispensasi nikah usia dini dari Pengadilan Agama Lubuklinggau,” jelas Rosmala Daya, selaku Panitera Muda Pengadilan Agama Lubuklinggau, Selasa (6/8).

Rosmala belum bisa memastikan angka tersebut menurun atau justru naik dibanding tahun 2018.

“Kalau dari 1 Januari sampai 6 Agustus kami keluarkan surat dispensasi nikah usia dini 88 pasang. Sementara 1 Januari-31 Desember 2018 ada 105 pasangan yang nikah usia dini,” jelas dia, kemarin.

Menurut Rosmala, anak bawah umur yang mengajukan pernikahan usia dini karena mereka yang hamil luar nikah.

Menurut Rosmala, pernikahan anak usia dini sebenarnya tidak diperkenankan menurut Undang-Undang (UU) Perkawinan. Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan menyebut, perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.

“Jadi kalau dikalkulasikan dari 100 persen, yang benar-benar mau nikah itu hanya 1 persen. Sementara 99 persennya yang menikah dini itu karena hamil luar nikah. Sebetulnya kami sudah melakukan mediasi untuk bersabar hingga usia perkawinan memenuhi syarat, namun karena beberapa hal sudah mendesak ya tetap dilakukan,” jelas Rosmala.

Menurutnya, rata-rata anak yang melakukan pernikahan dini berusia 13 hingga 15 tahun.

Sementara sesuai dengan UU Perlindungan Anak, usia kurang dari 18 tahun masih tergolong anak-anak.

Untuk itu, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memberikan batasan usia pernikahan 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun untuk pria.

Penyuluh KB Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kota Lubuklinggau, Appilion Joniko menambahkan berdasarkan ilmu kesehatan, umur ideal yang matang secara biologis dan psikologis adalah 20-25 tahun bagi wanita, kemudian umur 25-30 tahun bagi pria. Usia tersebut dianggap masa yang paling baik untuk berumah tangga, karena sudah matang dan bisa berpikir dewasa secara rata-rata.

Rekomendasi ini ditujukan demi kebaikan masyarakat, agar pasangan yang baru menikah memiliki kesiapan matang dalam mengarungi rumah tangga, sehingga dalam keluarga juga tercipta hubungan yang berkualitas.

Ia mengungkapkan, terdapat lebih dari 22.000 wanita muda berusia 10-14 tahun yang sudah menikah di Indonesia. Jumlah perempuan muda berusia 15-19 tahun yang menikah lebih besar dibandingkan jumlah laki-laki muda berusia 15-19 tahun.

“Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015 perkawinan dini di Indonesia khususnya wanita yang menikah sebelum usia 18 tahun tercatat sebesar 23 persen,” imbuhnya.

Ia mengingatkan, bahwa dalam berumah tangga sekaligus menjaga keharmonisannya bukan suatu pekerjaan yang mudah, karena memerlukan kedewasaan berpikir dan bertindak setiap adanya guncangan yang muncul, baik guncangan akibat ekonomi, masalah internal maupun eksternal.

Niko menegaskan, setiap pasangan yang menikah juga harus mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Salah satu aspek yang harus diperhatikan adalah aspek biologis dengan memerhatikan kematangan umur dan kondisi fisiknya.

Niko menjelaskan, dibalik pernikahan dini ada persoalan psikologis yang harus menjadi perhatian, yakni mengenai psikis dan mental dari kedua pasangan yang menikah, terutama bagi perempuan, karena menikah berkaitan dengan organ reproduksi yang matang untuk siap menjadi orang tua.

Oleh karena itu, pesan dia supaya remaja tidak menikah muda maka dukung dan fasilitasi mereka melanjutkan pendidikan. Libatkan mereka dalam bekerja dan berkarya.

Disamping itu, ajak remaja menabung supaya masa depan memiliki kemampuan ekonomi yang stabil. Sembari mempersiapkan mental untuk menikah.

Lalu bagaimana pernikahan dalam Islam?

Islam memandang menikah adalah ikatan sakral nan agung. Menikah berarti menyempurnakan separuh dari agamanya. Menikah penuh dengan nilai-nilai religi. Sebab, dalam pernikahan, sesuatu yang awalnya diharamkan, berubah hukum menjadi sesuatu yang dinilai mubah bahkan berpahala dan menjadi ibadah.

Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) memutuskan pernikahan dini pada dasarnya sah sepanjang telah terpenuhinya syarat dan rukun nikah. Namun hukumnya akan menjadi haram jika pernikahan tersebut justru menimbulkan madharat.

Kemudian, kedewasaan usia adalah salah satu indikator bagi tercapainya tujuan pernikahan. Tujuan pernikahan adalah kemashlahatan hidup berumah tangga dan bermasyarakat serta jaminan bagi kehamilan. Lantas, MUI memutuskan demi kemaslahatan, ketentuan pernikahan dikembalikan kepada ketentuan standarisasi usia merujuk UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

MUI tak lupa memberikan rekomendasi beserta ketentuan hukum yang dikeluarkannya. MUI merekomendasikan pemerintah lebih gencar menyosialisasikan soal UU No.1 Tahun 1974 tentang Pernikahan. Tujuannya agar mencegah pernikahan dini yang menyimpang dari tujuan dan hikmah pernikahan.

Para ulama, masyarakat serta pemerintah juga diminta memberikan sosialisasi tentang hikmah perkawinan dan menyiapkan calon mempelai baik laki-laki dan perempuan.(cw5/lik)

Rekomendasi Berita