oleh

85 Juta dari Persiapan Sampai Kelahiran

Program Persiapan Bayi Tabung di RS AR Bunda (Habis)

Kelahiran Ar–Rahman Khalif Putra Budi menjadi momen paling ditunggu oleh pasangan dr Novriska dan Budi Arian. Di Ruang Emerald D Silver RS AR Bunda, keduanya menceritakan awal mula berani memutuskan untuk mengikuti program bayi tabung.

Laporan Sulis, Bandung Kiri

GAGAL program inseminasi buatan dan alami, dr Novriska dan Budi Arian kembali konsultasi dengan Dokter Spesialis Kandungan RS AR Bunda Lubuklinggau, dr Wahyu, Sp.OG.

“Dr Wahyu bilang, memang kalau inseminasi buatan tingkat keberhasilannya lebih rendah. Berbeda dengan program bayi tabung. Lalu saya bilang mau program bayi tabung. Namun, beliau tanya lagi mau istirahat dulu atau langsung (program persiapan bayi tabung). Saya jawab langsung saja dok, begitu,” kata dr Novriska.

Mulai dari persiapan, konsultasi, obat-obat yang diberikan semuanya dihandel oleh RS AR Bunda Lubuklinggau.

“Di RS AR Bunda ini, kami melakukan persiapan bayi tabung. Kami dibantu mulai dari persiapan, konsultasi ke RS Cipto Kencana Jakarta, jadwal konsultasi dan sebagainya dijadwalkan oleh dr Wahyu. Semuanya kami ikuti dengan baik. Tujuan kami, untuk mendapat keturunan. Alhamdulillah prosesnya mudah. Dan saya bersyukur bisa mendapat layanan sangat baik dari RS AR Bunda,” jelas dia.

Dari mulai persiapan hingga kelahiran, dr Novriska mengeluarkan biaya sekitar Rp 85 juta.

“Iya, dari persiapan, sampai selesai lahiran itu Rp 85 juta. Itu sudah bersih termasuk biaya transfer embrio, dan konsultasi ke Jakarta,” terang dia.

Soal makanan tidak ada pantangan sama sekali. Dan selama hamil, saya tetap aktivitas di kantor BNN.

“Jadi tidak ada yang menyulitkan dalam proses bayi tabung ini. Saya sangat bersyukur,” terang dr Novriska.

Tepat 24 Agustus 2018 pukul 14.00 WIB, ia mengikuti Operasi Caesar di RS AR Bunda untuk melahirkan Ar-Rahman Khalif Putra Budi.

“Setelah lahir anak ini, rasanya nggak bisa bilang apa-apa. Kami sangat bersyukur karena di Lubuklinggau ada RS AR Bunda. Setidaknya, kita tidak harus jauh-jauh ke Jakarta. Disamping itu, kami benar-benar dibantu. RS tempat kami program Bayi Tabung di Jakarta juga rekomendasi dari AR Bunda Lubuklinggau. Sampai-sampai istilahnya, kita tinggal naik pesawat aja, di RS Cipta Kencana Jakarta dokter sudah siap,” jelas dia.

Sementara itu, dr Wahyu Sp.OG membenarkan, dr Novriska sempat ingin inseminasi kedua.

“Saya sarankan dr Novriska dan suami inseminasi, karena keduanya dalam kondisi sehat. Hasil pemeriksaan kami, tidak ada kendala. Namun, ternyata dr Novriska mau program persiapan bayi tabung. Ya kita bantu,” jelas dia.

Menurutnya, program inseminasi buatan bisa jadi salah satu solusi, karena memperpendek jalan sperma. Sehingga sperma yang tidak bisa menembus indung telur, atas sperma lamban, bisa melewati halangan yang mungkin terjadi.

Dalam inseminasi ini, sperma akan langsung dimasukkan ke dalam leher rahim, tuba fallopi (saluran telur) ataupun rahim. Salah satu teknik yang paling banyak digunakan adalah memasukkan sperma langsung pada rahim atau Intrauterine Insemination (IUI).

“Layanan ini tersedia di Poli Infertilitas RS AR Bunda,” jelas dr Wahyu Sp.OG. Layanan infertilitas yang dibuka sejak September 2017 itu direspon oleh banyak pasien.

Sebenarnya, lanjut dr Wahyu Sp.OG, RS AR Bunda membuka Poli Infertilitas karena melihat antusias dari pasien asal Kota Lubuklinggau, dan dari wilayah lain, seperti Provinsi Jambi dan Bengkulu.

“Kebetulan, kasus infertilitas (kemandulan) banyak terjadi. Dan pasien yang konsultasi ke RS AR Bunda juga banyak. Oleh karena itulah kami buka Poli Infertilitas,” jelasnya.

Kasus Infertilitas, kata dr Wahyu, penyebabnya bervariasi. Mulai dari kelainan sperma, ataupun permasalahan dari wanitanya.

“Misalkan mulai dari gangguan hormon, gangguan anatomi uterus, atau genetalia internal bagian dalam, misalkan saluran indung telur, atau ada penyakit di organ wanita bagian dalam maupun luar. Seperti miom, kista, ataupun permasalahan yang sifatnya berasal dari psikologi wanita. Bisa berbentur trauma/lebih ketakutan sakit ketika berhubungan suami istri,” jelas dr Wahyu.

Untuk membantu pasien-pasien ini, langkah pertamanya dr Wahyu akan menanyakan terlebih dahulu siklus haidnya tiga bulan terakhir. Kedua, dilihat ada atau tidaknya keputihan yang tidak biasa (berulang-ulang), kuning, berbau, gatal dan nyaris seperti gumpalan susu basi (mengental).

“Jika ini terjadi, bisa membuat sperma mati. Sperma tidak bisa sampai ke dalam rahim. Selain itu, biasanya kami tanya juga ketika haid nyeri atau tidak, jumlah pendarahannya seperti apa, dan ketika berhubungan keluar darah atau tidak. Setelah identifikasi itu baru dilakukan USG,” jelasnya.

Lalu dilakukan pemeriksaan dalam genekologi melihat keadaan serviks. Dan untuk suaminya cek sperma.

“Jadi pasangan memang harus kompak. Dalam pemeriksaan itu, misalkan hasil sperma suami dalam keadaan baik, ibunya tidak ada gangguan hormon, maka akan disampaikan kesimpulannya. Dikatakan infertilitas atau mandul jika sampai satu tahun lebih pasangan suami istri belum dikaruniai momongan, dan belum pernah hamil sekalipun. Padahal hubungan suami istri dilakukan dua sampai tiga kali dalam sepekan,” jelas dr Wahyu.

Infertilitas itu dibagi menjadi dua, primer dan sekunder. Kalau primer, jelasnya, sama sekali belum pernah punya anak (tidak pernah terjadi kehamilan). Sedangkan kalau infertilitas sekunder, dia sudah punya anak, lalu misalkan pakai KB 3 tahun, lalu lepas KB 1 tahun. Satu tahun berikutnya belum dapat juga (anak,red). Intinya dia berusaha tapi nggak dapat juga.

“Kalau sudah kita gali semuanya, kita lanjutkan dengan cek saluran telur, kalau dia ada masalah, misalkan terjadi pembengkakan bisa kita lihat. Pembengkakan saluran itu salah satu faktor yang menyulitkan punya anak. Karena saluran tadi kalau bengkak ada cairan yang bisa mengandung toxic (racun) bagi sperma. Jadi sperma belum sampai masuk, sudah mati. Karena cairan tadi bisa menyebar ke rahim,” jelasnya.

Meskipun pembengkakan itu terjadi pada salah satu sisi saluran telur.

“Namun, kalau dari pengecekan saluran telur tidak ada pembengkakan, ternyata terjadi keputihan over, perlu dicek juga jangan-jangan buntu saluran telurnya. Bisa jadi ini bawaan lahir. Kami punya alat ceknya. Namanya Histerosalpingografi (HSG). Pemeriksaan Histerosalpingografi, dikenal juga dengan pemeriksaan uterosalpingografi, adalah pemeriksaan sinar X dengan memakai cairan kontras yang dimasukkan ke rongga rahim dan saluran telur (tuba fallopii).

Begitu dirontgen akan membentuk saluran sesuai dengan jalannya kontras itu. Jadi cairannya benar-benar kelihatan.

Bisa juga dengan menggunakan Saline Infusion Sonohysterography (SIS) yang lebih cocok untuk melihat keadaan dari kantung uterinya, kalau ada polip, infeksi dinding rahim. Tapi sayangnya, saluran tidak bisa kelihatan.

“Satu lagi kita bisa pakai hysterescopy. Alat ini juga tersedia di RS AR Bunda untuk melihat keadaan dalam rahim dengan kamera. Kalau USG kan hanya 2 dimensi. Kalau pakai hysterescopy ini kondisi rahim terlihat secara nyata, karena kamera dimasukkan ke dalam,” imbuhnya.

Kalau ini (histerescopy,red) dimasukkan ke dalam rahim, juga bisa langsung mengetahui gelembung-gelembung sebagai tanda tidak terjadi kebuntuan. Histerescopy juga bisa lebih memastikan apa yang terjadi dalam rahim, misalkan ada polip maupun miom.

“Kalau pakai USG sebenarnya bisa. Tapi kadang masih sangsi apakah miom atau polip dalam rahim itu, sehingga belum begitu jelas. Beda dengan histerescopy, langsung ketahuan ada trauble apa di dalam rahim,” imbuhnya.

Ketika identifikasi pasien sudah sampai pada tahap ini, dr Wahyu akan kembali menanyakan pasien sudah keliling atau minum beberapa obat untuk mencoba bisa hamil.

“Kalau ternyata ke AR Bunda itu jalan terakhir dari usaha keliling-keliling tadi, tidak akan kami tawarkan untuk upaya kehamilan dengan cara berhubungan normal. Kalau spermanya bagus, kondisi saluran telur bagus, kita tawarkan inseminasi,” jelasnya.

Karena, kata dr Wahyu, peluang inseminasi lebih besar daripada berhubungan seperti normal. Karena kalau sekadar berhubungan normal saat subur sekalipun peluang kehamilannya 1 persen. Kalau inseminasi bisa 20-30 persen.

“Sudah 30 pasien yang inseminasi bersama kami. Memang tingkat keberhasilan tergantung pada sperma. Karena saat inseminasi sperma ada syarat minimalnya. Jadi nanti sperma itu dicuci lagi, sehingga tinggal sedikit lagi. Jadi kalau inseminasi. Jadi keberhasilan inseminasi juga tergantung sudah pecah atau belum telurnya. Kalau telurnya nggak pecah. Jadi gagal juga,” jelas dr Wahyu.

Proses menunggu inseminasi selama minggu, pasien sudah bisa tespack.

“Kalau masih negatif juga, satu minggu lagi cek. Kalau satu minggu lagi dicek negatif, berarti nggak berhasil inseminasinya,” jelas dr Wahyu.

Kalau inseminasi belum berhasil juga, sebagaimana yang dialami dr Novriska, maka dr Wahyu akan menawarkan persiapan bayi tabung.

“Proses di sini, persiapan selama si ibu haid, dan membesarkan telurnya. Sudah besar nanti dikasih obat. Tapi untuk pengambilan telur dan transfer embrio ke dalam rahimnya itu di Jakarta semua. Masalah rumah sakit mana yang akan jadi tempat pengambilan embrio nanti, RS AR Bunda yang membantu, termasuk schedule pertemuan dengan dokter di Jakarta, ” jelasnya lagi.

Ia bersyukur sampai kini, banyak pasien yang mempercayakan program inseminasi dan persiapan bayi tabung ke RS AR Bunda. Baik dari Kota Lubuklinggau, Musi Rawas, Empat Lawang, Muratara, Jambi dan sekitarnya. (*)

Rekomendasi Berita