oleh

69 Kasus Angka Kematian Bayi

LUBUKLINGGAU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Lubuklinggau terus berupaya menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), dan Angka Kematian Bayi (AKB). Sepanjang 2018 ada tiga kasus AKI, dan 12 kasus AKB, jumlah ini turun dibandingkan 2017 AKI ada dua kasus, dan 16 AKB.

Kepala Dinkes Kota Lubuklinggau, Idris melalui Kabid Layanan Masyarakat, Eli Rosida mengatakan penurunan AKB dan AKI ini karena Dinkes Kota Lubuklinggau memiliki program khusus. Program tersebut memberikan senam khusus ibu hamil dan bayi di masing-masing Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).

Ditambahkan Eli Rosida, Puskesmas aktif melakukan pendataan ibu hamil. Selain itu, setiap Puskesmas juga rutin memberikan makanan tambahan bagi ibu hamil.

“Bahkan bagi ibu hamil masuk dalam kategori masyarakat tidak mampu akan diberikan susu khusus ibu hamil,” ungkap Eli Rosida.

Selain itu, Dinkes Kota Lubuklinggau juga berkoordinasi aktif dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kota Lubuklinggau. Apalagi IBI Kota Lubuklinggau juga memiliki program penekanan AKI dan AKB.

Ketua IBI Kota Lubuklinggau, Nurmalina mengatakan ada beberapa kegiatan IBI untuk menekan AKI dan AKB salah satunya penyuluhan. Selain itu bidan wilayah juga rutin melakukan dan pendekatan langsung ke para ibu hamil di wilayah masing-masing .

Sementara di Kabupaten Mura, kasus kematian ibu saat persalinan justru bertambah.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Mura, Hj Mifta Hulummi melalui Kasi Kesda dan Gizi Masyarakat, Syarifatul Aini mengatakan tahun 2017, tercatat di Dinkes Mura AKI terdapat delapan kasus dan AKB terdapat 60 kasus.

Sedangkan tahun 2018, AKI terdapat 11 kasus dan AKB terdapat 40 kasus.

Untuk data 2018 itu, dari Januari hingga November saja. Karena Desember datanya belum direkap. Dan kasus AKI dengan AKB yang terbanyak terjadi berada di Kecamatan Muara Beliti.

Penyebab terjadinya AKI, karena kasusnya pendarahan pada ibu hamil. Yakni terjadinya perlengketan ari-ari dan hipertensi dalam kehamilan saat proses kelahiran.

Namun, kalau untuk AKB penyebabnya bayi berat lahir rendah, asfiksia (sesak nafas), cacar bawakan dari lahir dan lainnya.

“Mengatasi kasus ini, kita sudah turun ke lapangan untuk melihat langsung standar pelayanan di setiap Puskesmas,” kata Syarifatul Aini saat dibincangi di ruang kerjanya, Kamis (3/1).

Syarifatul Aini berharap, setiap Puskesmas yang ada di Kabupaten Mura dapat melengkapi sarana kesehatan. Seperti sebelumnya hanya memiliki tabung oksigen yang kecil, bisa memiliki yang besar.

Lalu di Kabupaten Muratara angka kematian ibu maupun bayi menurun.

Jika di tahun 2017 tercatat 48 kasus angka kematian ibu melahirkan dan bayi. Sementara sampai November 2018 ini baru tercatat 17 kasus.

Ketua TP PKK Muratara, Lia Mustika Syarif pernah menginstruksikan bidan dan tenaga kesehatan untuk turun ke lapangan untuk mengurangi angka kematian ibu melahirkan dan angka kematian bayi di Kabupaten Muratara,
Dengan turun langsung kita bisa melihat kondisi masyarakat, dan mengecek kesehatan ibu hamil supaya tetap sehat. Selain itu, bidan juga penting memberikan motivasi agar ibu ibu hamil tidak takut untuk melahirkan karena bidan desa itu mengayomi masyarakat.

Selama ini beberapa kasus kematian bayi dan anak disebabkan masih awamnya masyarakat tentang kesehatan ibu dan bayinya.
Sehingga dengan turunnya tenaga kesehatan ke tengah masyarakat maka bisa mengajak ikut program kelahiran. (nia/dlt/lik)

Rekomendasi Berita