oleh

481 Orang Terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD)

23 Pasien Anak-anak

LINGGAU POS ONLINE– Warga yang terjangkit kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tahun 2019 menurun dibanding 2018. Seperti data yang diungkapkan Direktur Rumah Sakit (RS) Sobirin, dr M Nawawi Akib melalui Kepala Bidang Perencanaan dan Rekam Medis Sumiati, SKM, MKes, sepanjang Januari sampai Desember 2018 ada 409 pasien DBD yang dirawat inap. Sementara Januari sampai Oktober 2019, baru 259 pasien DBD yang dirawat inap.

Tahun ini, pasien DBD terbanyak pada Januari dan Februari. Sementara pada Maret hingga Agustus, rata-rata penderita DBD yang dirawat inap hanya 21 sampai 24 orang.

Sementara Direktur Rumah Sakit Siti Aisyah (RSSA), dr Charlie melalui Kasubbid Perawatan RSSA, Nirwana menyampaikan jumlah pasien DBD di RSSA Lubuklinggau pada 2019 sebanyak 98 orang. Pasien yang dari dalam wilayah Kota Lubuklinggau 51 orang dan luar wilayah Lubuklinggau 47 orang. Dari 51 orang tersebut, 23 orangnya merupakan anak-anak.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Lubuklinggau, Cikwi melalui Kasi Pengendalian Penyakit Menular, Depit Kurniawan juga membenarkan, jumlah pasien DBD menurun. Tahun 2018 ada 447 warga Kota Lubuklinggau terjangkit DBD, sedangkan tahun 2019 hanya 124 kasus.

Nyamuk Aedes Aegypti Berkembang Biak di Air Jernih

Virus dengue sebagai penyebab DBD menyerang seseorang melalui perantara nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus (bahasa latin). Ciri-ciri nyamuk yang menyebarkan virus dengue ini adalah berwarna hitam dengan belang-belang putih di tubuhnya.

Kedua jenis serangga ini banyak ditemui berkembang biak di wilayah iklim tropis, termasuk Indonesia dan negara-negara Afrika. Tiap tahun diketahui banyak penderita demam berdarah. Indonesia sendiri jadi salah satu yang tertinggi dengan jumlah kasus mencapai 112.511 penderita DBD pada tahun 2013, dan sebanyak 871 orang meninggal akibat penyakit DBD ini.

Di tahun selanjutnya, terdapat 71.688 kasus DBD terjadi dengan jumlah orang yang meninggal sebanyak 641 penderita demam berdarah. Kendati telah mengalami penurunan dari segi jumlah kasus yang terjadi, namun angka ini masih tetap menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi kedua setelah Brasil.

Kedua nyamuk DBD atau penyebar virus demam berdarah ini justru berkembang biak di genangan air yang jernih di sekitar pemukiman padat penduduk. Nyamuk ini biasanya menghisap darah di waktu pagi dan sore hari.

Pernyataan Ketua IDI Lubuklinggau
Waspada saat Demam Tinggi

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Lubuklinggau, dr Dwiyana Sulistia Ningrum menjelaskan Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit disebabkan infeksi virus dengue yang didapat melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti.

Demam akan mulai dirasakan dalam 4 hari hingga 2 minggu setelah mengalami gigitan nyamuk yang membawa virus dengue. Umumnya gejala dialami dalam rentang 2-7 hari. Penurunan demam yang terjadi tidak menandakan penderita telah terbebas dari DBD. Masa-masa ini merupakan waktu yang perlu diwaspadai karena berisiko menjadi kondisi yang kritis.

Ciri-ciri DBD yang menyertai demam yakni sakit kepala berat, nyeri belakang mata, otot, tulang, dan persendian. Juga mual, muntah dan sakit perut.

“Biasanya, jika seseorang terkena DBD maka radius 200 meter jarak terbang nyamuk tersebut perlu diwaspadai,” sampai dr Dwi, Senin (7/10).

Adapun gejala awal mereka yang terkena DBD, mulai dari trombosit turun. Untuk jumlah trombosit normal di dalam darah sendiri sekitar 150.000 hingga 400.000. Mereka yang terkena DBD biasanya trombosit kurang dari 200.000.

Sepanjang kemarau ini, dikatakan dr Dwi, jumlah pasien DBD menurun. Biasanya puncak musim hujan pada November hingga Maret terjadi kenaikan.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk pencegahan DBD yakni dengan cara 3M Plus yaitu Menguras, Menutup, dan Memanfaatkan. Serta dapat menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah, serta menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain.

Laporan Herwinda/Apriadi

Rekomendasi Berita