oleh

479 Ibu Persalinan Cesar

LINGGAUPOS ONLINE– Sepanjang Januari-September 2019, angka persalinan dengan operasi cesar cukup tinggi. Berdasar data yang dihimpun Linggau Pos, sekitar 479 ibu yang menjalani operasi cesar untuk melahirkan bayi dalam kandungannya.

Rinciannya, sekitar 200 pasien melakukan operasi di Rumah Sakit (RS) AR Bunda Lubuklinggau, 270 pasien operasi di RS Siti Aisyah dan 9 pasien operasi cesar di RS DR Sobirin.

Direktur RS Siti Aisyah Lubuklinggau dr Charlie Esa Kenedi, Mars melalui Bagian Humas, Cecep mengatakan dibanding persalinan cesar, masih banyak pasien RS Siti Aisyah berjuang untuk bisa bersalin secara normal.

“2019 ini saja, yang cesar hanya 270 pasien. Sementara yang menempuh persalinan normal ada 327 pasien,” terang Cecep.

Berbeda lagi dengan di RS Dr Sobirin. Direktur RS Sobirin dr M Nawawi Akib melalui Kepala Bidang Perencanaan dan Rekam Medis Sumiati, SKM, MKes menjelaskan, berkaca dari data 2018 hanya 9 pasiennya yang memilih cesar.

Menurutnya, pasien yang cesar sebagian besar memang mengalami emergency. Tapi ada juga yang atas permintaan pasien.

Terpisah, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Kebidanan dan Kandungan) RS AR Bunda Lubuklinggau, dr Wahyu Pranata, Sp.OG menjelaskan setiap bulan, lebih kurang 20 pasien RS AR Bunda Lubuklinggau melahirkan secara Sectio Cesar (SC) atau cesar.

“Kalau bagi peserta BPJS Kesehatan, untuk cesar harus ada indikasi medis dari faskes tingkat I. Karena era JKN-KIS ini, sangat ketat soal indikasi medis. Karena jika tidak selektif, bisa tidak bisa diklaim asuransinya. Berbeda lagi kalau pasien umum, bisa langsung sesuai permintaan,” jelas dr Wahyu, Sp.OG kepada Linggau Pos, Jumat (11/10).

Selama ini, kata dr Wahyu, sebagian besar pasien BPJS Kesehatan yang cesar, dengan kasus bayinya sungsang, terlilit tali pusat, melintang atau ketuban sudah kering, ada juga yang gawat janin (detak jantung bayi cepat).

Posisi sungsang, yaitu ketika posisi kepala bayi masih berada di atas ketika menjelang kelahiran yang normalnya berada di bawah.

Sementara kalau tali plasenta yang melilit tubuh bayi penanganan harus segera dilakukan agar pernafasan bayi tidak terhambat hingga berpotensi menyebabkan kematian jika terlambat. Tak elak, operasi cesar pun perlu dilakukan.

Begitupun dengan pendarahan hebat, dan sang ibu hipertensi maupun diabetes.
Terkadang, bisa jadi awalnya normal, menjelang persalinan terjadi pelonjakan tekanan darah hingga mengharuskan ibu menjalankan operasi cesar.

Menurut dr Wahyu, proses cesar itu ada yang elektif (terjadwal) ada juga yang emergency (awalnya pengen normal tapi cesar).

“Jadi cesar itu pada dasarnya untuk mempercepat kelahiran. Sehingga lebih pasti demi keselamatan ibu dan bayi. Beda dengan persalinan normal yang harus menunggu pembukaan. Dan saya perlu mengingatkan, untuk menjaga keselamatan ibu dan bayi, harusnya ibu melakukan USG minimal tiga kali selama masa kehamilan. Agar tahu kondisi terkini janin seperti apa, sehingga persalinan bisa lancar,” jelasnya.

Meski begitu, ia tetap menyarankan para ibu berusaha untuk bisa bersalin normal, karena penyembuhan tidak lama dan bisa punya anak banyak.

Sementara kalau Cesar, memang tanggal lahir anak bisa ditentukan orang tua, namun penyembuhan lama dan anak terbatas.

Laporan Apriadi/Sulis

Rekomendasi Berita