oleh

40 Warga Terserang DBD

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Musim pancaroba, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Lubuklinggau, Idris mengimbau masyarakat lebih waspada dengan perkembangan nyamuk Aedes Aegypti.

Didampingi Kepala Bidang Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P), dr Jeannita, Idris menerangkan kasus penderita Demam Berdarah (DBD) di Kota Lubuklinggau memang menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. 10 bulan terakhir, jumlah pasien DBD 18 orang.

“Ini tidak masuk Kejadian Luar Biasa (KLB) ya. Karena pencegahan terus kami sosialisasikan ke masyarakat untuk memastikan terlaksananya program 3M+, Menguras bak penampungan air, Menutup tempat penampungan, Mengubur barang bekas dan plus menghindari dari gigitan nyamuk,” tutur Idris, Jumat (3/11).

Ia juga memastikan tidak ada daerah endemik DBD di Kota Lubuklinggau.

“Namun kalau daerah yang rawan ada. Yaitu, wilayah perkotaan. Yakni Kecamatan Lubuklinggau Timur I dan II. Juga Kecamatan Lubuklinggau Barat II. Kalau Kecamatan Lubuklinggau Utara II itu masuk kategorinya rawan malaria, karena banyak rawa-rawa,” terang Idris.

Hal senada disampaikan Kadinkes Kabupaten Musi Rawas (Mura), Hj Mipta Hulumi melalui Kabid P2P Edwar Zuliyar. Ia mengatakan, memang ada pasien DBD yang ditangani di Puskesmas-Puskesmas di Kabupaten Musi Rawas terbagi dalam 14 kecamatan dengan 19 Puskesmas.

Edwar sapaannya menjelaskan, tahun 2017 terhitung Januari hingga September berjumlah 11 pasien sembilan laki-laki dan 2 perempuan.

Puskesmas Muara Beliti satu pasien laki, Puskesmas Nawangsasi tiga pasien laki-laki, Puskesmas Mangungharjo satu pasien laki-laki, Puskesmas Jayaloka satu pasien laki-laki, Puskesmas Ciptodadi satu pasien laki-laki dan Puskesmas Muara Kati dua pasien laki-laki.

“Kemudian, Puskesmas Nawangsasi satu pasien perempuan dan Puskesmas Sumberharta satu pasien perempuan,” jelas Edwar.

Lebih lanjut ia menjelaskan, berbicara mengenai penyakit yang disebabkan oleh nyamuk contoh nyamuk Aedes Aegypti menyebabkan penyakit DBD biasanya banyak terjadi di perkotaan.

Lantaran jentik nyamuk ini hidup di genangan air yang bersih dan apabila terkena gigitan nyamuk dalam hitungan minggu pasien akan langsung merasakan penyakitnya.

Kemudian nyamuk Anopheles yakni penyebab penyakit malaria, nyamuk ini sebaliknya rentan di daerah hutan dan pedesaan karena jentiknya akan berkembang biak dengan air rawa, air sawah namun memakan waktu lama beraksinya.

“Namun berbeda dengan panyakit Filariasis, ini bukan jenis nyamuk melainkan semua jenis nyamuk. Hanya saja penularannya setelah nyamuk menggigit pasien yang terkena penyakit filariasis kemudian nyamuk tersebut menggigit orang lain dan besar kemungkinan akan tertular walaupun memakan waktu lama,” ucapnya.

Kabid P2P memaparkan, sebenarnya guna menanggulangi penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk sudah dibuatkan program Jumatik yakni (Juru Pemantau Jentik) berupa tim yang dibentuk oleh Dinkes melalui Puskesmas melibatkan masyarakat hanya saja tidak berjalan.

“Oleh sebab itu, kiranya kepada tim Jumantik kiranya melaksanakan tugasnya. Adapun tugasnya sosialisasi, menjaga pola hidup sehat, membuang sampah pada tempatnya serta membuang genangan air yang menyebabkan jentik nyamuk,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Muratara, dr Mahendra melalui Kepala Bidang P2P, Fatahul Rachmad mengatakan, tahun 2016 ada 29 orang terjangkit DBD. Tahun 2017 menurun jadi 11 orang saja.

“Jadi setelah kami melakukan evaluasi pada 2017 mendapat penurun sekitar 60%, kita benar-benar melakukan daerah-daerah yang masih tergenangi air,” kata Farahul.

Pihaknya terus melakukan penyuluhan ke setiap desa-desa di kabupaten Muratara tertang kebersihan terhadap lingkungan melalui juru dari Dinas Kesehatan Muratara.

“Kita melakukan penyuluhan agar masyarakat melakukan 3M+,” jelasnya.

Ia juga memastikan Muratara tidak ada tempat yang endemik terkena DBD hanya saja di tempat-tempat tertentu mengalami perpindahan terhadap ulah masyarakat.

“Untuk masih rawan tidak ada, yang jelas kita sendiri yang menghindari DBD, jadi berharap masyarakat Muratara melakukan apa yang diperintah oleh dinas kesehatan,” tutupnya. (05/16/19)

Komentar

Rekomendasi Berita