oleh

40 Warga Musi Rawas Jadi Mualaf

LINGGAU POS ONLINE- Sepanjang 2019, ada 40 warga masuk Islam. Mereka tersebar di 10 kecamatan dari 14 kecamatan di Kabupaten Musi Rawas (Mura). Demikian disampaikan Kasi Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) Mura, Ah Mustain, Selasa (10/12). Para mualaf ini, mayoritas dari agama Kristen baik Protestan maupun Katolik.

Adapun rinciannya, 2 orang di wilayah Kecamatan Muara Beliti, 7 orang di wilayah Kecamatan Muara Kelingi, 2 orang di Kecamatan Tuah Negeri. Lalu, 3 orang di Kecamatan Sukakarya, 2 orang di Kecamatan BTS Ulu, 7 orang di Kecamatan Megang Sakti, 2 orang di Kecamatan Purwodadi. Selanjutnya, 10 orang di Kecamatan Tugumulyo dan 5 orang di Kecamatan STL Ulu Terawas.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Mura, H Hermadi melalui Kepala Seksi (Kasi) Bimas Islam, Ah Mustain didampingi staf Bimas, Drs Lotfi menjelaskan, rata-rata yang masuk Islam ini pasangan calon pengantin, yang akan melangsungkan pernikahan secara Islam.

Memang, ada yang sudah melaksanakan pernikahan mendalami ajaran agama Islam, tapi ada juga yang tidak.

“Kita tidak bisa melakukan pemaksaan, karena dalam ajaran agama Islam, kita tidak boleh memaksa orang untuk masuk islam,” katanya.

Tapi, tetap dilakukan pembinaan melalui penyuluh di desa, terhadap para mualaf tadi. Mengenai, larangan-larangan yang tidak boleh dilakukan dalam ajaran agama Islam, berikut dengan konsekuensi ketika melakukan hal-hal yang dilarang tersebut.

“Penyuluh telah memantau, dan melakukan pembinaan terhadap para mualaf, agar mereka mendalami ajaran agama Islam,” jelasnya.
Sementara itu, Ustad H Indra Rozak, menjelaskan masyarakat muslim tidak boleh dan memang dilarang, memaksa orang non muslim untuk masuk agama Islam.

“Walau boleh mendakwahi, namun haram memaksa orang Yahudi, Nashrani dan kafir lainnya untuk masuk Islam. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah 256,” katanya.

Namun, kita harus tetap toleransi terhadap umat non muslim. Karena, dijelaskan dalam Surat Al-Kafirun, yang menjelaskan kalau agamaku untuk ku dan agama mu untuk mu. Tapi, kita tidak boleh ikut-ikutan dengan agama mereka. (aku)

Rekomendasi Berita