oleh

37 Berasal dari Rejang Lebong

57 ABH Mendapat Pembinaan

Setidaknya 57 anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) mendapatkan pembinaan oleh Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas IIA Curup. Dari 57 ABH diketahui 37 orang ABH dari Kabupaten Rejang Lebong, sisanya 20 orang berasal dari Kabupaten Lebong dan kabupaten Kepahiang.

Laporan Syamsul Ma’arif, Curup

Pembimbing Kemasyarakatan Kemenkumham Kanwil Bengkulu Lapas Curup, Akhirin Mihardi menjelaskan di Bengkulu belum ada Lapas khusus anak. Sedangkan di Curup hanya sebagai Lapas Penitipan Anak Sementara.

“Di mana anak-anak yang terjerat kasus hukum maupun menjalani proses pengadilan ditempatkan di Lapas,” kata Akhirin Mihardi dalam rapat koordinasi berlangsung di Aula Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana (DP3A dan PPKB) Rejang Lebong, Kamis (9/11).

Dalam rapat tersebut dihadiri sejumlah kalangan pemerhati ABH, termasuk dari dinas Dinas (DP3A dan PPKB) sendiri, kepolisian, pengadilan dan pihak terkait lainnya. Dijelaskan Mihardi, saat ini di Provinsi Bengkulu sendiri belum memiliki Lapas khusus anak.

Ia juga mengaku, ABH yang saat ini di Lapas Curup belum sepenuhnya mendapatkan hak-haknya, seperti hak pendidikan baik saat menjalani pembinaan maupun setelah menjalani pembinaan. Apalagi, stigma di masyarakat setelah ABH khususnya pelaku sudah di panjang buruk.

Menurutnya, hak-hak anak inilah yang perlu di bahas agar hak-hak mereka bisa terpenuhi. “kita juga mengalami berbagai kendala dalam menghadapi ABH ini, salah satunya minimnya tenaga pembimbing,” tambahnya.

Senada disampaikan hakim khusus anak Pengadilan Negeri Curup yang hadir dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, soal ABH diharapkan perlu dibenahi dalam penanganannya.

“Soal ABH ini memang perlu koordinasi agar hak-hak anak terutama ABH untuk mendapat haknya sesuai dengan ketentuan,” katanya.

Heny juga menyebutkan, saat ini jumlah perkara ABH yang ditangani Pengadilan Negeri Curup mengalami kenaikan peningkatan dari tahun 2016 hingga tahun 2017 ini.

“Memang perkara ABH ini terus meningkat dari tahun 2017 ini,” katanya.

Heny juga mengaku, ABH yang ditangi kebanyakan merupakan kasus-kasus seksual. Namun demikian, ABH yang masih kebanyakan usia pelajar untuk diberikan fasilitas pendidikan baik saat menjalani pembinaan maupun sesudah menjalani pembinaan.

Dibagian lain, terlibatnya anak menjadi ABH banyak dilatarbelakangi sejumlah faktor. Diantaranya karena permasalahan ekonomi, Keluarga yang tidak harmonis dan faktor-faktor lainnya yang menyebabkan anak menjadi ABH.(*)

Komentar

Rekomendasi Berita