oleh

36 Rumah dan 95,5 Hektar Lahan Terbakar

LINGGAU POS ONLINE – Sampai dengan November 2019, di Lubuklinggau tercatat 36 rumah dan 95,5 hektar lahan terbakar. Terbanyak terjadinya kebakaran pemukiman/rumah yakni pada Oktober, sedangkan karhutlah terbanyak pada September.

Data dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Pendagulangan Bencana (DPKPB) Kota Lubuklinggau, sampai dengan November 2019 tercatat 36 rumah yang terbakar, rincinya:

  1. Januari 4 kejadian/rumah terbakar
  2. Februari 2kejadian/rumah terbakar
  3. Maret 3 kejadian/rumah terbakar
  4. Mei 2 kejadian/rumah terbakar
  5. Juni 1 kejadian/rumah terbakar
  6. Juli 4 kejadian/rumah terbakar
  7. Agustus 5 kejadian/rumah terbakar
  8. September 4 kejadian/rumah terbakar
  9. Oktober 9 kejadian/rumah terbakar
  10. November terdata 2 kejadian/rumah terbakar

Sementara kebakaran hutan dan lahan (karhutlah), terjadi di 106 titik, dengan total luas lahan yang terbakar 95,5 hektar, rinciannya

  1. Maret 2 titik karhutlah
  2. April 1 titik karhutlah
  3. Juli 1 titik karhutlah
  4. Agustus 24 titik karhutlah
  5. September 68 titik karhutlah
  6. Oktober 9 titik karhutlah
  7. November 1 titik karhutlah.

Kabid Pendagulangan Bencana DPKPB Kota Lubuklinggau menjelaskan pihaknya selama 2019 ini, bukan hanya mendapatkan laporan bencana berupa kebakaran, pohon tumbang, tanah longor dan orang tenggelam, namun juga mendapatkan laporan sarang tawon.

“Kami menerima dua laporan mengenai sarang tawon. Yakni di Moneng Sepati dan Sidorejo. Karena meresahkan warga, maka kami usir dengan cara dibakar,” ia menjelaskan, Rabu (4/12/2019).

Terpisah Kasi Operional dan Pengendalian Kebakaran Mahali menjelaskan kebakaran lahan yang terjadi di Lubuklinggau akibat cuaca panas, sehingga lahan mudah terbakar. Juga ada yang karena ketidaktahuan warga.

“Kalau kebakaran rumah, rata-rata karena konseling listrik. Makanya kami himbau, jika selesai menggunakan alat elektronik sebaiknya dicabut dari stopkontak  listrik. Karena beberapa kejadian, karena tidak pernah dicabut,” ia mengatakan.

Kemudian, juga penggunakan stopkontak yang bertumpuk-tumpuk, serta tidak sesuai dengan standar. “Baik instalasi yang tidak standar dan semrawut,” tegasnya.(*)

Rekomendasi Berita