oleh

31 Anak Jadi Korban

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Tugas orang tak sebatas memenuhi kebutuhan materi anak. Namun, juga menjaganya dari pergaulan yang salah, dan ancaman pelaku kejahatan. Sepanjang tahun 2017 saja, ada 31 anak jadi korban. Baik kekerasan seksual, psikis maupun fisik.

Hal ini dijelaskan Kapolres Lubuklinggau, AKBP Sunandar melalui Unit Renata, Bripka Christine, Sabtu (13/1).

Bripka Christine menjelaskan, saat ini pelaku kejahatan terhadap anak bermacam-macam modus. Salah satunya beralibi menjadi tukang ojek.

Namun ternyata setelah menjadi tukang ojek dan penumpangnya anak-anak, baik perempuan maupun laki-laki rentan terjadi perbuatan asusila.

“Modus itu pernah terjadi di Kota Lubuklinggau. Maka dari itu kepada anak-anak dan orang tua harus hati-hati, akan lebih baik jika anaknya diantar dan dijemput saat pulang sekolah maupun saat bepergian. Agar terhindar menjadi korban,” jelas polwan ini.

Dari 31 korban yang ada, terjadi sepanjang Januari-Desember 2017.

“Pada Januari 2017 itu terjadi dua kasus. Yaitu, kasus cabul dan kekerasan terhadap anak. Saat ini masih proses penyelesaian,” terang Cristine.

Pada Februari nihil, namun Maret tujuh kasus terjadi. Dua kasus persetubuhan, tiga kasus cabul, dan dua kasus penganiayaan terhadap anak.

Sementara bulan April, satu kasus penganiayaan terjadi. Bulan Mei empat kasus, yang terdiri dari satu kasus persetubuhan, dan tiga kasus kekerasan terhadap anak. Pada Juni lima kasus anak jadi sorotan. Terdiri dari tiga kasus kekerasan dan dua kasus persetubuhan.

Saat bulan Juli terjadi satu kasus persetubuhan. Agustus jumlah kasus yang melibatkan anak naik lagi, dengan lima kasus. Terdiri dari tiga persetubuhan dan 2 kasus kekerasan. Sementara pada September seorang anak jadi korban kasus kekerasan.

“Ditambah baru-baru ini ada tiga kasus dua pencabulan oleh penjual es doger kepada dua anak bawah umur serta penganiayaan dilakukan oleh pacarnya sedangkan korbannya masih di bawah umur,” jelas Cristine.

Menganalisa hal itu, Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Lubuklinggau, Abdul Hamim mengatakan untuk awal tahun 2018 ini saja sudah ada tiga laporan anak terjerat tindak kriminal, yang masuk ke pihaknya. Dan ketiga ini pun, akan segera mereka dampingi.

“Dua anak kasus Curat, dan satu anak kasus perkelahian. Sementara untuk tahun 2017 ada lima kasus anak terjerat tindak kriminal yang kita dampingi hingga putusan. Didominasi, tetap di kasus curas,” ungkap Hamim, Minggu (14/1).

Ia pun mengaku sangat prihatin, masih adanya anak terlibat kasus kriminal.

“Pastinya prihatin, karena pada awal tahun 2018 saja sudah ada tiga anak yang terlibat. Untuk itu imbauan kita tentunya untuk orang tua, agar bisa memastikan pergaulan anaknya. Jangan sampai, anak kita salah dalam bergaul yang berdampak terlibat kasus tindak kriminal,” imbaunya.

Untuk orang tua yang anaknya terlibat kasus, ia pun berharap agar segera melaporkan kasus tersebut ke KPAD.

“Supaya bisa kita dampingi proses hukumnya sampai inkrah. Kita pastikan juga, meskipun sedang dalam penyelidikan, masih mendapatkan hak-haknya sebagai seorang anak,” harapnya. (16/09)

Komentar

Rekomendasi Berita