oleh

3.290.490 Orang di Indonesia Masih Buta Aksara

LINGGAU POS ONLINE – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencatat, jumlah warga Indonesia yang masih buta aksara sebanyak lebih dari tiga juta jiwa.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2018, angka buta aksara di Indonesia tersisa 1,93 persen. Angka ini setara dengan 3.290.490 orang yang masih buta aksara.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, mengatakan, angka buta aksara yang masih tergolong tinggi terlihat di enam provinsi Indonesia. Menurutnya, rata-rata persentase buta aksara di enam provinsi ini masih di atas empat persen.

Data BPS pada Susenas 2018 menyebutkan, terdapat enam provinsi di Indonesia dengan angka buta aksara lebih dari 4 persen. Keenamnya yaitu Provinsi Papua (22,88 persen), Nusa Tenggara Barat (7,51 persen), Nusa Tenggara Timur (5,24 persen), Sulawesi Barat (4,64 persen), Sulawesi Selatan (4,63 persen), dan Kalimantan Barat (4,21 persen).

“Jika ke enam propinsi ini dapat memberantas buta aksara di daerahnya masing-masing, maka angka buta aksara Indonesia akan menurun secara signifikan,” kata Muhadjir, Sabtu (7/9).

Muhadjir menuturkan, bahwa pada 2004 lalu Indonesia berhasil mengurangi separuh jumlah penduduk buta aksara dari 10,20 persen (15,4 juta orang), menjadi 5,02 persen (7,54 juta orang) pada tahun 2010. Kemudian, pada tahun ini Indonesia bahkan telah berhasil menekan angka buta aksara lebih rendah lagi hingga 1,93 persen (atau 3,2 juta orang). Angka ini menurun dari sebesar 2,07 (atau 3,4 juta orang) pada tahun sebelumnya.

“Tugas kita bersama untuk menuntaskan buta aksara dan membebaskan bangsa ini dari kebutaaksaraan harus terus kita lakukan,” ucapnya.

Menurut Muhadjir, pemberantasan buta aksara pada segmen populasi ini terbilang sangat sulit, tetapi profilnya sudah semakin jelas. Profil yang dimaksud, yaitu mayoritas masyarakat buta aksara berada di Indonesia bagian timur, yang tinggal di pedesaan dan di kantong-kantong kemiskinan.

“Mereka umumnya perempuan dan berusia di atas 45 tahun,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Harris Iskandar mengatakan, jumlah angka buta aksara tersebut merupakan sasaran yang tidak mudah untuk diselesaikan. Pasalnya, warga yang buta aksara bermukim di kawasan terpencil dan sulit dijangkau.

“Kita harus bertekad untuk menurunkan angka buta aksara hingga 0 persen. Kami ingin memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan pendidikan baik di tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten/kota dalam penuntasan buta aksara, juga mensosialisasikan kebijakan dan program percepatan penuntasan buta aksara di Indonesia melalui Gerakan Literasi Nasional,” tuturnya.

Untuk memuluskan rencana tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengaku akan melakukan pendekatan secara prioritas untuk memberantas tingkat buta aksara di Indonesia. Khususnya, daerah yang persentase buta hurufnya empat persen ke atas,

Pendekatan yang dilakukan Kemedikbud untuk menurunkan tingkat buta aksara, dengan memanfaatkan dukungan APBN yang difokuskan pada penanganan buta aksara. Selain itu, Kemendikbud juga mengajak pemerintah daerah untuk mengoptimalkan APBD dan peran serta masyarakat.

“Kemendikbud juga bekerja sama dengan pemda setempat dalam pengembangan model keaksaraan yang disebut tutor balik bola. Model tersebut mengembangkan gaya melek aksara dengan wajib membantu tetangga yang masih buta aksara,” kata Direktur Pembinaan Pendidikan Keaksaraan Kemendikbud Abdul Kahar. (*)

Sumber: Fajar Indonesia Network (FIN)

Rekomendasi Berita