oleh

284 Warga Terjangkit Demam Berdarah Dengue

LINGGAUPOS.CO.ID– Selain Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), Demam Berdarah Dengue (DBD) juga wajib diwaspadai. Di Bumi Silampari sepanjang Januari hingga Juni 2020, ada 284 warga mengidap DBD.

Rinciannya di Kota Lubuklinggau 188 kasus, di Kabupaten Musi Rawas (Mura) yang terdata dari Rumah Sakit DR Sobirin 68 kasus dan di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) 28 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Lubuklinggau Cikwi melalui Kasi P2PM, Depit Kurniawan mengungkapkan jumlah penderita DBD dari tahun ke tahun sebenarnya sudah menurun.

“Selama 2020, kasus tertinggi DBD ada di Januari sampai 36 pasien. Sementara pada bulan-bulan lain, kasusnya bawah 31 pasien,” jelasnya.

Sementara tahun 2019, hanya 140 kasus. Jumlah itu turun jauh dibanding tahun 2018 jumlah penderita DBD sampai 437 orang.

Menurut Depit, menurunnya angka penderita DBD berkat penyuluhan dan pencegahan yang telah dilakukan seluruh puskesmas di Lubuklinggau.

Sementara Kepala Dinkes Kabupaten Muratara, Marlinda Sari membenarkan sejak Januari hingga Maret 2020 sebanyak 28 warga terjangkit DBD. Bahkan ada seorang pasien DBD yang merupakan warga Desa Embacang Baru Kecamatan Karang Jaya meninggal dunia.

Sejak April hingga Juli, belum ada penambahan kasus DBD. Sementara pada tahun 2019 kata Marlinda, ada 54 kasus DBD yang tersebar di 7 kecamatan, dengan kasus meninggal dunia sebanyak 2 orang.

Meskipun tidak ada penambahan, Marlinda mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap DBD.

Untuk menanggulangi hal itu, pihaknya telah melakukan upaya penyelidikan epidemiologi daerah-daerah yang berpotensi DBD. Selain itu, menggalakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) untuk memutus rantai perkembangan nyamuk Aedes Aegypti.

“Kami juga melakukan fogging untuk membunuh nyamuk serta pemberian Abate, terutama di tempat-tempat yang banyak jentik nyamuk,” jelas Marlinda.

Sementara data dari Rumah Sakit dr Sobirin, Januari dan Februari 2020 ada 68 kasus. Dengan rincian 38 Laki-laki dan 30 Perempuan.

“Dari 68 kasus, 2 meninggal dunia. Dan berdasarkan usia, paling banyak kasus pada usia 15-24 tahun,” ungkap Bagian Rekam dan Medis RS Dr Sobirin, Sumiyati.

Sementara Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional, dr Reisa Broto Asmoro mengatakan DBD adalah salah satu tantangan terberat Pemerintah Indonesia, beban kesehatan masyarakat yang juga mengancam kesehatan. Kasus DBD yang tersebar di 465 wilayah administrasi di tingkat kabupaten dan kota mengakibatkan jumlah kematian hampir 500 jiwa.

“Di tengah pandemi Covid-19, kita juga harus menekan angka kesakitan DBD. Kita harus tetap bergerak, memantau nyamuk baik secara mandiri, bersama-sama, maupun bekerja sama dengan pemerintah,” jelas dr Reisa, Jumat (3/7).

Ia meminta warga untuk menjaga kebersihan lingkungan secara rutin satu bulan sekali.

“Sekarang kita mulai produktif kembali, maka, mari perhatikan saluran air, tempat nyamuk bertelur, dan tempat-tempat dengan reservoir air,” ajaknya.

Nyamuk Aedes Aegypti lebih senang bersarang di air yang bersih yang dibiarkan tergenang. Dr Reisa menyampaikah langkah pencegahan dengan melakukan 3M, yakni menguras penampungan air bersih atau mengeringkan genangan air, menutup kolam atau wadah penampungan air dan mengubur barang bekas atau mendaur ulang limbah bekas agar tidak menjadi sarang nyamuk.

“Itu adalah langkah-langkah utama pencegahan DBD,” tegas dr Reisa.

Langkah lain yang praktis yaitu jangan menggantung pakaian bekas pakai yang berpotensi menjadi tempat bersembunyi nyamuk DBD di dalam rumah.

“Nah, kebiasaan baru yang mengharuskan kita untuk membersihkan diri setelah sampai di rumah, sekaligus memastikan pakaian yang kita pakai setelah aktivitas langsung dicuci. Sejalan dengan pesan pemerintah untuk memberantas Covid-19, sekaligus dapat mencegah DBD,” imbuhnya.

Lebih lanjut, dr Reisa meminta warga untuk berkoordinasi dengan pihak pengelola lingkungan dalam upaya pemberantasan nyamuk di pemukiman.

“Ya terutama, dimulai dari rumah Anda sendiri. Dalam adaptasi kebiasaan baru di mana kita menjalani kebijakan pengaturan waktu kerja, penggiliran hari kerja, pergantian hari berkantor, dan bisa bekerja dari rumah atau work from home, memberikan kita waktu untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk di rumah dan lingkungan sekitar rumah kita,” papar dr Reisa.

Ia juga menyampaikan ciri-ciri gejala DBD. Menurutnya, gejala DBD tidak langsung muncul. Seseorang baru merasakan gejala pada 4 hingga 10 hari setelah digigit nyamuk bervirus dengue. Gejala paling umum yaitu demam tinggi hingga 40 derajat celcius.

Gejala lain berupa sakit kepala, nyeri tulang, nyeri otot, mual, muncul bintik merah di kulit hingga pendarahan pada hidung dan gusi.

“Bintik-bintik merah yang muncul di permukaan kulit merupakan tanda terjadinya pendarahan pada kulit akibat penurunan trombosit. DBD bisa berkembang menjadi kondisi berat dan merupakan kegawatan, yang disebut dengan dengue shock, atau DSS, dengue shock syndrome,” papar dr Reisa.

Ia menambahkan, gejalanya berupa muntah, nyeri perut, perubahan suhu tubuh dari demam menjadi dingin atau hipotermia, dan melambatnya denyut jantung. DBD menyebabkan kematian ketika penderitanya mengalami syok karena perdarahan.

Belum ada obat spesifik untuk melawan DBD. Pemberian obat hanya ditujukan untuk mengurangi gejalanya, misalnya demam, nyerinya, serta mencegah komplikasi. Selain itu, penderita DBD dianjurkan untuk banyak istirahat dan cukup minum agar tidak mengalami dehidrasi.(*)

Artikel ini sudah terbit di Harian Pagi Linggau Pos dengan judul”284 Warga Terjangkit DBD”

Rekomendasi Berita