oleh

23 Anak Gizi Buruk

Kasi Kesga dan Gizi Masyarakat, Dwi Agmina

“Ketika tiga kali dicek tidak ada peningkatan berat badan, kader Posyandu biasanya langsung merujuk ke bidan kelurahan atau Puskesmas, atau bisa juga ke rumah sakit…”

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Seorang anak dinyatakan berstatus gizi buruk tahun 2016. Dan 2017 menjadi dua orang. Namun ketiganya, bukan menyandang gizi buruk murni. Melainkan karena penyakit bawaan.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Lubuklinggau Idris, melalui Kasi Kesga dan Gizi Masyarakat, Dwi Agmina, Minggu (3/12).

Meskipun belum tercatat adanya kasus gizi buruk murni, pihaknya melalui Puskesmas dan Posyandu terus mengimbau agar ibu-ibu untuk aktif mendatangi Posyandu.

“Rutin cek berat badan dan asupan gizi anak mereka. Gizi buruk bisa diantisipasi dengan aktif ikuti kegiatan di Posyandu, saat mengandung, rutin mengecek kesehatan janinnya, aktif mengisi Kartu Menuju Sehat (KMS) serta berkonsultasi mengenai asupan gizi sang anak,” jelasnya.

Karena ketika ada masalah pada asupan gizi anak mereka, bisa segera ditindaklanjuti. Ketika tiga kali dicek tidak ada peningkatan berat badan, kader Posyandu biasanya langsung merujuk ke bidan kelurahan atau Puskesmas, atau bisa juga ke rumah sakit.

“Apalagi dari fisik biasanya sudah terlihat, ketika cepat dirujuk, maka anak kekurangan gizi bisa cepat ditangani tenaga medis. Untuk itu sosialisasi serta imbauan baik ke kader Posyandu, pihak Puskesmas dan masyarakat terus kita lakukan,” tegasnya.

Hal sama juga dilakukan Dinkes Musi Rawas. Kadinkes Kabupaten Musi Rawas, Hj Miftahululmi melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dewi Kruniati mengatakan penyakit gizi buruk berawal dari penyakit penyerta (Kelainan Jantung).

Penyakit gizi buruk datang bukan tiba-tiba melainkan dari keluarga kalangan yang kurang mampu ekonomi menengah ke bawah, karena pihak keluarga biasanya tidak mempunyai biaya atau tidak mengetahui tentang penyakit itu.

Mengenai penyakit gizi buruk Dewi sapaan akrabnya menjelaskan semua mendominasi terhadap balita, jadi para orang tua harus memperhatikan keadaan balita. Karena memang usia yang masih balita penyakit mudah untuk menghampiri.

“Kalau balita terkena gizi buruk terlihat dari berat badan yang tidak seimbang dengan umur, seperti berusia tiga tahun tapi berat badan masih di bawah lima tahun ke bawah,” jelasnya.

Ia meminta kepada orang tua harus lebih memperhatikan seperti mengikut kegiatan Posyandu yang diadakan satu bulan sekali dari pemerintah dan rajin melakukan pemeriksaan saat hamil.

“Sebab penyakit gizi buruk cukup berbahaya bagi bayi, kalau orang tua tidak memperhatikan dari awal semua akan fatal,” jelasnya mengingatkan.

Imbauan juga disampaikan Kadinkes Muratara, dr Marhendra Putra.

“Penyebab terjadinya gizi buruk terhadap anak yakni, kurang asupan gizi, keluaran berlebihan disebabkan oleh penyakit,” imbuhnya.

Sayangnya, kata dr Marhendra, banyak orang tua dalam hal ini para ibu hanya membawakan anak-anak mereka apabila imunisasi lengkap, tidak lagi mau membawakan anak mereka ke Posyandu, padahal anak-anak harus diperiksakan terus ke Posyandu hingga usia mereka lima tahun.

Lebih lanjut, dengan tidak diperiksakan lagi, maka masuk dalam blank spot. Tahu-tahu menderita gizi buruk lantaran kurang asupan makanan atau penyakit sehingga berlebihan pada saat pembuangan.

“Kami mengimbau agar para orang tua rajin membawa anak-anak mereka ke Posyandu, agar kesehatan anak dapat terpantau dan segera ditangani apabila terkena penyakit,” imbaunya.

Sebagaimana diketahui anak penderita gizi buruk di wilayah Kabupaten Muratara lebih dari 20 anak. (07/09/19)

Komentar

Rekomendasi Berita