oleh

2030 Diprediksi 21,3 Juta Jiwa Mengidap Diabetes

Cegah dengan CERDIK

Kadinkes Lubuklinggau, Idris
“Dinkes Lubuklinggau saat ini fokus pada pengendalian faktur risiko DM melalui upaya promotif dan preventif dengan tidak mengesampingkan upaya kuratif dan rehabilitatif …..”

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Data dari WHO Global Report on NCD, 2010 menyebutkan bahwa persentase kematian akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) menempati proporsi yang besar (63%) dibanding dengan penyakit menular. Sedangkan di kawasan Asia Tenggara, berdasarkan data WHO Global Observatory 2011, menunjukkan bahwa proporsi kematian kasus karena penyakit tidak menular adalah lebih besar dibanding penyakit menular.
Indonesia menghadapi transisi epidemiologi dalam masalah kesehatan, dimana penyakit menular belum dapat teratasi, sementara penyakit tidak menular, termasuk penyakit Diabetes Melitus (DM) cenderung meningkat.
DM sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat, baik secara global, regional, nasional dan lokal. Global status report on NCD World Health Organization (WHO) 2016 melaporkan, 60 persen penyebab kematian semua umur di dunia adalah karena PTM. Sementara DM menduduki peringkat ke-6 sebagai penyebab kematian.
Sekitar 1,3 juta orang meninggal akibat diabetes dan empat persen meninggal sebelum usia 70 tahun. Di Indonesia sendiri, diperkirakan pada tahun 2030 akan ada 21,3 juta jiwa penyandang DM
“Salah satu kegiatan Dinas Kesehatan Lubuklinggau dalam pengendalian DM adalah monitoring dan deteksi dini faktor risiko DM di Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu) PTM dan implementasi perilaku CERDIK. CERDIK itu mempunyai makna, Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitas fisik, Diet sehat dan seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres,” jelas Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Lubuklinggau, Idris kemarin.
Oleh karena itulah, dilaksanakan Lomba Senam CERDIK dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-53, Idris berharap bisa mengingatkan masyarakat pentingnya hidup CERDIK.
“Program prioritas kami dalam pengendalian PTM mencakup banyak hal. Diantaranya mengoptimalkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), pengendalian faktor risiko PTM secara terintegrasi berbasis kelompok masyarakat aktif (Posbindu PTM), deteksi dan tindak lanjut dini penyakit tidak menular termasuk DM, dan tatalaksana kasus di fasilitas pelayanan kesehatan dasar yaitu Puskesmas,” imbuh Idris.
Meski begitu, ia menyadari masalah kesehatan tidak akan dapat diselesaikan oleh sektor pemerintah saja, untuk mengatasinya diperlukan kerja sama yang baik antara pemerintah dan organisasi masyarakat, para ahli, dan masyarakat pada umumnya.
Mengingat besarnya masalah diabetes melitus tersebut, Dinkes memprioritaskan pengendalian DM di antara gangguan penyakit metabolik lainnya selain penyakit penyerta seperti hipertensi, jantung koroner dan stroke.
“Dinkes Lubuklinggau saat ini fokus pada pengendalian faktur risiko DM melalui upaya promotif dan preventif dengan tidak mengesampingkan upaya kuratif dan rehabilitatif,” tegasnya.
Menurut Idris, yang paling penting sekarang adalah membantu memberitahu warga tentang kondisi kesehatannya.
“Karena kalau sudah tahu, dia bisa diobati dengan baik dan menjalani diet yang baik sehingga bisa tetap hidup normal seperti yang lain,” jelas Idris lagi.(05/Net)

Komentar

Rekomendasi Berita